Kabupaten Batang

Batang Berkembang | Wisata Batang | Berita Batang | Kabar mBatang

Pola Pembentukan Kata Bahasa Sinjab Batang

Pola Pembentukan Kata Bahasa Sinjab Batang - Tidak ada pola yang baku dan pasti dalam pembentukan kata pada bahasa Sinjab. Tetapi setidaknya ada dua pola umum yang bisa diidentifikasi karena sering digunakan. Pertama, metatesis yaitu pembalikan urutan fonem/huruf. Kedua, afiksasi yaitu penambahan imbuhan di awal, tengah, atau akhir sebuah kata. Seringkali, kedua pola ini diterapkan secara bersamaan.


Misalnya, pada kata bilangan satu sampai sepuluh. Bentuk Sinjaban-nya berubah menjadi
‘enjis’ (siji/satu), ‘rekong’ (loro/dua), ‘letung’ (telu/tiga),
‘ketapang’ (papat/empat), ‘milang’ (limo/lima), ‘trengkem’ (enem/enam), ‘ketipung’
(pitu/tujuh), ‘wolu’ (tetap), ‘ngos’ (songo/sembilan), dan ‘sak lup’ (sepuluh).
Pola metatesis dan afiksasi ini juga nampak pada kata ganti ‘aku’ menjadi
‘engkak’ atau ‘kowe’ yang berubah jadi ‘wongke’. Panggilan akrab orang Batang yaitu
‘lombo’ (kadang disingkat ‘mbo’ saja) sepertinya juga merupakan bentuk
Sinjaban dari kata ‘bolo’ (teman).
Bahkan, sebuah kata yang sudah di-sinjab-kan sekalipun, masih bisa di-sinjab-kan lagi yaitu dengan menambahkan imbuhan ‘as’ pada kata tersebut untuk menegaskan maknanya. Contohnya, kata ‘madung’ (merokok) menjadi ‘madas’, ‘wongke’ (kowe/kamu) menjadi ‘wongkas’, atau ‘rumbi’ (mburi/belakang) menjadi ‘rumbas’.
Tetapi, ada pula kosakata yang sama sekali tidak menganut pola-pola di atas. Misalnya, ‘hamit’ (uang), ‘ngepang/pangik’ (ayu/cantik), ‘capung’ (sepeda), ‘padung’ (rokok), dan ‘damuk’ (cewek). Kata-kata tersebut seolah-olah merupakan kosakata yang sepenuhnya baru dari bahasa Sinjab.
Sedangkan tata kalimat bahasa Sinjab sama seperti struktur kalimat dalam bahasa Jawa pada umumnya. Untuk lebih jelasnya, penulis sajikan dialog singkat bahasa Sinjab berikut ini.
A = Rimpe kabare, mbo?
(Piye kabare?/Apa kabar, Teman?)
B = Rembes! (Beres)
A = Wungkis ngaspan rundung?
(Wis mangan durung?/Sudah makan belum?)
B = Rundung. Nembe ndeswang tok.
(Durung. Nembe medhang tok/Belum. Baru minum saja.)
Perlu Pendokumentasian
Pendokumentasian sejarah dan kosakata bahasa Sinjab merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan untuk menjaga eksistensi bahasa Sinjab sebagai bentuk ekspresi budaya asli masyarakat Batang. Akan sangat disayangkan jika sampai warisan budaya tersebut hilang ditelan zaman. Penyusunan kamus bahasa Sinjab bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kembali keberadaan bahasa ini kepada masyarakat Batang. Hal ini tentunya membutuhkan keseriusan – baik dari sisi metodologi maupun sumberdaya – karena sudah masuk ke ranah penelitian ilmiah. Di sinilah, peran Pemkab Batang sangat dinantikan
Source Kiriman M. Arif Rahman Hakim