Membongkar Rumus Rahasia Bahasa Sinjab: Pola Pembentukan Kata dan Struktur Unik Gaul Batang

Daftar Isi

Batang – Bagi orang awam, mendengarkan percakapan dalam Bahasa Sinjab mungkin terdengar seperti mendengarkan bahasa asing atau sandi yang rumit. Namun, tahukah Anda? Bahasa gaul legendaris kebanggaan anak Batang ini sebenarnya bukan sekadar bunyi asal-asalan.

Terdapat struktur morfologi dan pola pembentukan kata yang cerdas di baliknya. Meski tidak ada pedoman baku tertulis, para penutur Sinjab secara alami menyepakati dua "rumus" utama, yaitu Metatesis (pembalikan urutan huruf/bunyi) dan Afiksasi (penambahan imbuhan). Mari kita bedah rumusnya satu per satu.

Rumus dan Pola Bahasa Sinjab Batang

Ilustrasi: Catatan rumus bahasa sandi anak muda Batang.

1. Pola Metatesis dan Afiksasi

Pola yang paling umum ditemukan adalah kombinasi antara membolak-balik urutan huruf (metatesis) dan menyisipkan bunyi vokal atau konsonan tertentu (afiksasi). Hal ini paling jelas terlihat pada kata bilangan (angka).

Berikut transformasi angka Jawa ke dalam bentuk Sinjaban:

  • Siji (Satu) → Enjis
  • Loro (Dua) → Rekong
  • Telu (Tiga) → Letung
  • Papat (Empat) → Ketapang
  • Limo (Lima) → Milang
  • Enem (Enam) → Trengkem
  • Pitu (Tujuh) → Ketipung
  • Wolu (Delapan) → Tetap Wolu
  • Songo (Sembilan) → Ngos
  • SepuluhSak Lup

Pola ini juga berlaku pada kata ganti orang. Perhatikan perubahan kata 'Aku' yang menjadi 'Engkak', atau kata 'Kowe' (kamu) yang berubah drastis menjadi 'Wongke'. Bahkan panggilan akrab sesama teman di Batang, yakni 'Lombo' (atau 'Mbo'), diyakini merupakan metatesis dari kata 'Bolo' (teman).

2. Pola Penegasan (Imbuhan "-AS")

Keunikan lain dari Bahasa Sinjab adalah kemampuannya untuk "di-sinjab-kan" kembali. Sebuah kata yang sudah berupa bahasa sandi, bisa diubah lagi untuk memberikan penegasan makna atau sekadar variasi gaya bicara. Rumusnya adalah dengan menambahkan akhiran "-AS".

Contoh transformasinya:

  • Madung (Merokok) → Menjadi Madas.
  • Wongke (Kamu) → Menjadi Wongkas.
  • Rumbi (Mburi/Belakang) → Menjadi Rumbas.

3. Kosakata Murni (Tanpa Pola)

Meski banyak yang menggunakan rumus, ada beberapa kata dalam Bahasa Sinjab yang tampaknya tercipta secara arbitrer (mana suka) dan tidak mengikuti pola baku di atas. Kata-kata ini harus dihafal karena bentuknya sangat berbeda dari kata aslinya.

  • Hamit → Uang (Duit)
  • Ngepang / Pangik → Cantik (Ayu)
  • Damuk → Cewek/Perempuan
  • Capung → Sepeda
  • Padung → Rokok

Struktur Kalimat dalam Percakapan

Secara sintaksis (tata kalimat), Bahasa Sinjab tetap mengikuti struktur gramatika Bahasa Jawa Ngoko. Hanya kosa katanya saja yang diganti. Berikut contoh dialog penerapannya:

A: "Rimpe kabare, Mbo?"
(Piye kabare, Kanca? / Apa kabar, Kawan?)

B: "Rembes!"
(Beres! / Baik-baik saja)

A: "Wungkis ngaspan rundung?"
(Wis mangan durung? / Sudah makan belum?)

B: "Rundung. Nembe ndeswang tok."
(Durung. Nembe medhang tok / Belum. Baru minum saja.)

Pentingnya Dokumentasi Ilmiah

Kekayaan linguistik ini merupakan aset budaya takbenda yang sangat berharga bagi Kabupaten Batang. Sayangnya, belum banyak dokumentasi ilmiah yang serius menggarap hal ini.

Penyusunan kamus lengkap dan penelitian metodologis sangat mutlak diperlukan agar Bahasa Sinjab tidak punah ditelan zaman. Peran Pemerintah Daerah (Pemkab Batang) dan akademisi sangat dinantikan untuk menjaga eksistensi kode bahasa warisan leluhur ini.

Temukan artikel budaya dan sejarah lokal lainnya hanya di mBatang.com - Portal Informasi Warga Batang.

Referensi: M. Arif Rahman Hakim & Komunitas Batang Berkembang.

1 komentar

Silahkan di kritik siapa tau admin salah menulis artikel tentang Kabupaten Batang

Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar
Bahasa sinjab Batang perlu banget di lestarikan