Menguak Tabir Sejarah THR Kramat Batang: Jejak Sunan Kalijaga, Watu Ambon, dan Tradisi Jumat Kliwon

Daftar Isi

Batang – Bagi masyarakat Kabupaten Batang, nama kawasan Kramat sudah tidak asing lagi. Berlokasi strategis di Kelurahan Proyonanggan Selatan, Kecamatan Batang, tempat ini memiliki dua wajah yang unik.

Di satu sisi, ia dikenal sebagai Taman Hiburan Rakyat (THR) yang ramai dikunjungi wisatawan domestik untuk rekreasi. Namun di sisi lain, khususnya bagi golongan tua dan penganut kepercayaan Kejawen, tempat ini memiliki aura spiritual yang kental. Hal ini terlihat jelas dari membludaknya pengunjung pada hari-hari tertentu, terutama saat malam atau hari Jumat Kliwon.

Sejarah dan Mitos THR Kramat Batang

Ilustrasi: Salah satu sudut di kawasan Kramat Batang.

Mengapa Disebut "Kramat"?

Penamaan lokasi ini tidak sembarangan. Menurut para sesepuh adat Batang, nama "Kramat" diberikan langsung oleh Bupati Batang pertama, Kanjeng Raden Adipati Batang (R. Prawiro). Alasannya kuat, karena di sepanjang aliran Sungai Lojahan (yang juga dikenal sebagai Sungai Kramat/Sambong) ini terdapat banyak sekali petilasan penting.

Petilasan tersebut meliputi bekas tempat pemujaan nenek moyang zaman bahari (purbakala), tempat peristirahatan tokoh panutan, tempat memberi wejangan (pesalatan), hingga makam-makam tokoh berpengaruh yang tersebar dari perbatasan Desa Kecepak hingga Pasekaran.

Misteri Watu Angkrik dan Watu Ambon

Jauh sebelum masuknya agama-agama besar, kawasan sekitar Bendungan Kedungdowo (lama) diduga kuat telah menjadi pusat spiritual. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan situs batu:

  • Watu Angkrik: Sebuah batu legendaris yang dahulu sangat dikenal masyarakat setempat.
  • Watu Ambon: Peninggalan yang masih bisa dilihat hingga sekarang.

Para ahli sejarah lokal menduga batu-batu tersebut digunakan oleh nenek moyang kita di zaman pra-sejarah sebagai altar atau sarana pemujaan terhadap arwah leluhur (Animisme/Dinamisme).

Baca Juga: Kawasan Kramat juga erat kaitannya dengan legenda Bahurekso. Simak kisah lengkapnya di: Kaitan Legenda Bahurekso dengan Wilayah Kramat Batang.

Jejak Sunan Kalijaga dan Syiar Islam

Memasuki era Islam, nilai sakral kawasan ini berlanjut. Berdasarkan tutur lisan para tetua, Sunan Kalijaga diyakini pernah singgah dan beristirahat di kawasan Kramat ini.

Peristiwa ini terjadi semasa beliau menjalankan tugas dari Sunan Bonang untuk berdakwah di Pulau Jawa bagian Barat, serta saat beliau menempuh perjalanan untuk berguru ke Bumi Cirebon (Sunan Gunung Jati). Kehadiran Wali Songo ini memberikan legitimasi spiritual yang kuat bagi tanah Kramat.

Selain itu, sejarah mencatat adanya dua ulama besar dari negeri Arab bergelar Syekh dan Sayid yang dengan tekun menyebarkan Islam di wilayah ini. Keduanya wafat dan dimakamkan di Desa Pasekaran, tak jauh dari lokasi THR Kramat saat ini.

Transformasi Menjadi Tempat Wisata

Kini, wajah mistis Kramat telah berpadu dengan modernitas. Pemerintah daerah telah melakukan pembenahan fisik yang signifikan. Pembangunan bendungan baru, perbaikan akses jalan, dan penambahan fasilitas taman hiburan telah mengubah Kramat menjadi destinasi wisata keluarga yang nyaman.

Meski demikian, tradisi leluhur tidak sepenuhnya hilang. Di balik gelak tawa pengunjung yang menikmati wahana hiburan, gema doa dan aroma dupa di sudut-sudut petilasan pada malam Jumat Kliwon menjadi bukti bahwa Kramat Batang tetap memegang teguh identitas sejarahnya.

Ingin tahu lebih banyak tentang mitos dan sejarah tersembunyi di kota kita? Kunjungi halaman utama mBatang.com untuk artikel menarik lainnya.

Posting Komentar