Sejarah Alas Roban Batang: Dari Jalan Pos Daendels hingga Mitos "Jalur Tengkorak" yang Melegenda

Daftar Isi

BATANG – Siapa yang tidak kenal dengan Alas Roban? Bagi pengendara yang sering melintasi Jalur Pantura Jawa Tengah, nama ini mungkin sudah tidak asing lagi. Hutan jati yang membelah Kabupaten Batang ini bukan sekadar jalan raya biasa. Di balik pepohonan jatinya yang rimbun dan jalanannya yang berkelok, tersimpan sejarah kelam dan ribuan cerita misteri yang melegenda.

Alas Roban Batang

​Sering dijuluki sebagai "Jalur Tengkorak", Alas Roban memiliki daya tarik unik yang memadukan keindahan alam hutan jati dengan adrenalin lintasan yang ekstrem. Namun, tahukah Anda bagaimana sejarah sebenarnya hutan ini terbentuk?

​Jejak Sejarah: Ambisi Daendels dan Kerja Rodi

Sejarah Alas Roban tidak bisa dilepaskan dari masa penjajahan Hindia Belanda. Jalan raya yang menembus hutan belantara ini pertama kali dibangun pada era Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808–1811).

​Jalan ini merupakan bagian dari mega proyek Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) yang membentang 1.000 km dari Anyer hingga Panarukan. Tujuannya kala itu adalah untuk mempermudah mobilisasi tentara dan logistik Belanda.

​Sayangnya, pembangunan jalan yang membelah bukit cadas dan hutan lebat ini memakan banyak korban. Ribuan rakyat pribumi dipaksa bekerja (Kerja Rodi) dalam kondisi yang tidak manusiawi. Konon, korban jiwa yang berjatuhan saat membabat hutan Alas Roban dibiarkan begitu saja atau dikubur massal di sekitar lokasi. Inilah yang dipercaya menjadi awal mula mengapa kawasan ini memiliki aura mistis yang begitu pekat hingga sekarang.

​Alas Roban Sebelum Belanda: Era Mataram Islam

Jauh sebelum Daendels datang, kawasan Alas Roban sebenarnya sudah dikenal pada masa Kerajaan Mataram Islam.

​Menurut cerita tutur masyarakat Batang, Alas Roban dahulu adalah hutan larangan yang sangat angker. Sultan Agung dari Mataram pernah mengutus Ki Bahurekso (Bupati Batang pertama) untuk membuka hutan ini guna dijadikan lahan pertanian (lumbung padi) sebagai persiapan logistik penyerangan ke Batavia (markas VOC).

​Kisah pertarungan Ki Bahurekso melawan para "penunggu" Alas Roban pun menjadi cerita rakyat yang masih dituturkan turun-temurun oleh warga Batang hingga kini.

Alas Roban Batang

​Mitos dan Julukan "Jalur Tengkorak

Pada era 1980-an hingga 90-an, Alas Roban dikenal sebagai salah satu jalur paling mematikan di Pulau Jawa. Minimnya penerangan, jalan yang sempit, tikungan tajam (seperti huruf S), serta tanjakan curam seringkali menyebabkan kecelakaan fatal. Tak heran jika julukan "Jalur Tengkorak" melekat erat pada kawasan ini.

​Beberapa titik yang sering disebut angker oleh warga sekitar dan pengendara antara lain:

  • Ringin Putih: Pohon beringin yang dipercaya sebagai lokasi "pasar gaib".
  • Tanjakan Curam: Seringkali kendaraan berat mengalami rem blong di sini.
  • Mitos "Warung Pecel Lele": Cerita urban tentang warung makan yang tiba-tiba menghilang setelah didatangi.

​Bahkan saking terkenalnya, kisah misteri ini baru saja diangkat ke layar lebar melalui film "Alas Roban" yang tayang perdana pada akhir tahun 2025 lalu.

​Wajah Alas Roban Saat Ini: Lebih Aman dengan 3 Jalur

Jangan khawatir, kondisi Alas Roban saat ini sudah jauh berbeda dibanding puluhan tahun lalu. Pemerintah telah membagi jalur ini menjadi tiga bagian untuk mengurai kemacetan dan menekan angka kecelakaan:

  1. Jalan Poncowati (Jalur Lama): Jalur asli yang berkelok dan curam. Kini biasanya hanya dilewati truk besar dari arah barat ke timur.
  2. Jalan Lingkar Beton (Jalur Selatan): Jalur beton yang dikhususkan untuk kendaraan berat (truk/bus) agar tidak membebani jalur lama.
  3. Jalan Pantura Baru (Jalur Utara): Jalur yang lebih landai dan mulus, dikhususkan untuk kendaraan pribadi dan sepeda motor. Pemandangannya lebih indah dan jauh lebih aman.

​Tips Aman Melintasi Alas Roban

Meski sudah lebih aman, kewaspadaan tetap nomor satu. Berikut tips bagi Anda yang hendak melintas:

  • ​Pastikan rem kendaraan dalam kondisi prima (banyak turunan panjang).
  • ​Hindari melintas saat kondisi badan terlalu lelah atau mengantuk.
  • ​Jika melintas malam hari, usahakan tidak sendirian.
  • ​Sempatkan mampir membeli Pisang Tanduk, oleh-oleh khas pedagang kaki lima di sepanjang jalan Alas Roban.

Alas Roban adalah saksi bisu sejarah perjuangan bangsa dan perkembangan transportasi di Pulau Jawa. Di balik seramnya cerita yang beredar, ia tetaplah bagian eksotis dari Kabupaten Batang yang patut kita jaga.

​Punya pengalaman unik saat melintasi Alas Roban? Bagikan cerita Anda di kolom komentar!

8 komentar

Silahkan di kritik siapa tau admin salah menulis artikel tentang Kabupaten Batang

Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar
Good lengkapi dgn gambar alas roban tempo dulu
Anonim
Anonim
20:45 Hapus
oh jadi begitu sejarahnya
Aku asli dr Alasroban, tahu banyak hal, mulai tempat paling atas berturut, Angruk Sentul, Longopan Sentul ( disebut Laban krna ada pohon2 laban yg besar2), Wadas Gandul tempat pembuangan jenazah PKI, Gunung Tugel, Poncowati, kuburan mbunderan yg banyak setan mistiknya, bahkan aku kenal jln Dandeles asli, hapal jalur air pabrik (wangan Susukan yg mengulardari Jetis Bulu sampai Siluwok Plelen. Hapal cerita mbah Jaiman supir truk legenda yg mati terbakar mwnmwnablak pohon asam. Cerita kera,
tulisane dicek lagi dong..banyak pengulangan....
Dulu sering lewat Alas roban kalau mau ke semarang , emang kelihatannya seram walau masih siang
Dulu kecil tinggal di plelen
Baru sempat nonton filmnya di bioskop karena penasaran, dulu sering lewat alas roban
Alasroban sekarang mah rame ndak seperti dulu sepi , sekarang berangkat malam Semarang- Batang tidak takut