Menelusuri Tradisi Kliwonan Batang: Antara Mitos, Sejarah, dan Pasar Rakyat Legendaris

Daftar Isi

Bagi masyarakat Kabupaten Batang dan sekitarnya, malam Jumat Kliwon bukanlah malam yang identik dengan hal-hal menyeramkan. Sebaliknya, ini adalah waktu untuk perayaan budaya yang unik dan meriah dikenal sebagai Tradisi Kliwonan.

Tradisi yang berpusat di Alun-Alun Kabupaten Batang ini telah berlangsung turun-temurun selama ratusan tahun. Bukan sekadar pasar malam biasa, Kliwonan menyimpan lapisan sejarah, mitos penyembuhan, dan kearifan lokal yang menarik untuk ditelusuri.

Suasana ramai Tradisi Kliwonan di Alun-alun Batang
Keramaian pasar rakyat yang selalu memadati Alun-alun Batang setiap malam Jumat Kliwon.

Akar Sejarah: Jejak Bahurekso dan Alas Roban

Sejarah Kliwonan tidak bisa dilepaskan dari sosok pendiri Kabupaten Batang, Tumenggung Bahurekso. Konon, tradisi ini bermula dari ritual "laku tapa" atau tirakat yang dilakukan oleh Bahurekso saat berupaya membuka hutan Alas Roban.

Dalam upayanya membangun peradaban, Bahurekso menghadapi berbagai gangguan gaib dan hama penyakit. Untuk mengatasinya, beliau melakukan ritual penyucian diri dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa di tengah alun-alun. Momen keberhasilan Bahurekso dalam mengatasi rintangan inilah yang kemudian diperingati oleh anak cucunya sebagai tradisi Kliwonan.

Baca Juga: Ingin mendalami cerita masa lalu daerah kita? Simak artikel-artikel menarik dalam kategori Sejarah dan Legenda Batang.

Mitos "Nglinding" dan Penyembuhan Alternatif

Salah satu aspek paling unik dari Kliwonan adalah mitos penyembuhan. Dahulu, banyak masyarakat percaya bahwa dengan berguling-guling (Jawa: nglinding) di rumput Alun-Alun Batang pada malam Jumat Kliwon, berbagai penyakit bisa sembuh.

Keyakinan ini berakar pada anggapan bahwa alun-alun tersebut memiliki energi positif bekas pertapaan para leluhur. Selain ritual fisik, tradisi ini juga identik dengan penjualan obat-obatan tradisional, minyak urut, hingga jimat tolak bala yang dijajakan oleh para pedagang yang datang dari berbagai daerah.

"Kliwonan adalah bukti akulturasi budaya, di mana spiritualitas masa lalu bertemu dengan ekonomi kerakyatan masa kini."

Transformasi Menjadi Wisata Belanja dan Hiburan

Seiring perkembangan zaman, wajah Kliwonan mengalami modernisasi. Meski nuansa mistisnya mulai memudar, esensinya sebagai pusat berkumpulnya warga tetap terjaga. Kini, Kliwonan lebih dikenal sebagai "Pasar Kaget" yang muncul setiap 35 hari sekali (selapan).

Ribuan pengunjung memadati pusat kota untuk berburu:

  • Kuliner Tradisional: Mulai dari serabi kalibeluk, megono, hingga jajanan pasar jadul.
  • Produk Pertanian: Bibit tanaman dan alat pertanian (mengingat akar agraris masyarakat Batang).
  • Wahana Permainan: Hiburan untuk anak-anak seperti komidi putar dan odong-odong.

Fenomena pasar rakyat ini menjadi roda penggerak ekonomi lokal yang signifikan. Pelajari lebih lanjut tentang Potensi Daerah Kabupaten Batang yang terus berkembang.

Melestarikan Warisan Budaya

Meskipun zaman telah berubah menjadi serba digital, keberadaan Kliwonan harus tetap dilestarikan. Tradisi ini adalah identitas kolektif "Wong Batang". Pemerintah daerah pun kerap mengintegrasikan acara kesenian modern ke dalam malam Kliwonan agar generasi muda tetap tertarik datang dan meramaikan.

Jangan lewatkan informasi mengenai agenda budaya dan acara seru lainnya di halaman Kabar Seni dan Budaya Batang.

Bagaimana kenangan Anda tentang Kliwonan? Apakah Anda tim yang mencari obat tradisional, atau sekadar menikmati kuliner malam? Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar!

2 komentar

Silahkan di kritik siapa tau admin salah menulis artikel tentang Kabupaten Batang

Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar
kalau tradisi liwonan diBatang dijadikan objek skripsi gimana ya? mohon saran (admin)
oleh juga itung itung promo kab batang la emang jurusan apa