Uniknya Bahasa Jawa Dialek Batang: Bedanya dengan Jogja-Solo, serta Fenomena Logat "Sege"
Batang – Sebagai daerah yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah (Pantura), Kabupaten Batang menjadi "titik temu" budaya yang menarik. Posisi geografisnya yang diapit oleh budaya Ngapak (Tegal/Pekalongan) di barat dan budaya Mataraman (Semarang/Solo) di timur, melahirkan dialek bahasa yang khas dan unik.
Banyak kosa kata Jawa non-standar yang dipakai sehari-hari oleh warga Batang ternyata berbeda maknanya jika dibandingkan dengan daerah Jogja atau Solo. Bahasa ini hidup berdampingan dengan bahasa gaul sandi yang disebut Bahasa Sinjab.
Ilustrasi: Ragam bahasa yang memperkaya budaya Batang.
Perbedaan Arti Kosakata Batang vs Jogja-Solo
Berikut adalah beberapa kata yang sering membuat bingung pendatang atau orang Jawa dari daerah lain ketika berkunjung ke Batang:
- Antèr: Di Batang, kata ini berarti "alon" atau lambat/pelan. Uniknya, kata ini dikenal di Jogja tapi tidak lazim dipakai di Solo.
- Ngligo & Pego: Orang Batang menyebut "telanjang dada" (tanpa baju) dengan istilah Ngligo. Sedangkan asap disebut Pego.
Perbandingan: Di Jogja, asap lebih sering disebut "kebul", sementara kata "pego" justru dipahami di Solo. - Kadi: Kata penghubung yang berarti "dari".
Perbandingan: Warga Bantul dan Gunung Kidul juga mengenal kata ini, namun orang Jogja kota dan Solo umumnya menggunakan kata "saka" atau "seka". - Atis: Ini yang sering jadi perdebatan suhu. Di Batang (dan wilayah pesisir seperti Kudus/Jepara), Atis berarti "dingin".
Perbandingan: Orang Jogja-Solo menggunakan kata "adem". Di Batang, "adem" artinya sejuk (nyaman), sedangkan "atis" artinya dingin (menggigil). - Nyelang: Artinya "meminjam". Kata ini juga populer di Jawa Timur (Malang). Sedangkan Jogja-Solo lebih akrab dengan "nyilih" atau "njilih".
- Pitik: Hati-hati dengan kata ini! Di Batang, Pitik spesifik merujuk pada anak ayam (ayam kecil). Sedangkan di Jogja-Solo, Pitik adalah ayam secara umum (dewasa).
- Dhong: Partikel yang berarti "pada saat..." atau "ketika". Kata ini juga lazim di Semarang.
- Po'o: Partikel penegas kalimat, mirip penggunaannya di Surabaya. Contoh: "Ning kono wae po'o?" (Di situ saja kenapa sih?).
- Klalen: Artinya "lupa". Ini jelas pengaruh kuat dari dialek Ngapak (Tegal/Banyumas), mengingat letak Batang yang berbatasan dengan Pekalongan.
Ragam Logat Antar-Kecamatan
Keunikan bahasa di Batang tidak berhenti di level kabupaten. Bahkan antar-kecamatan atau kampung pun memiliki ciri khas logat (dialek) yang berbeda. Hal ini terungkap dari diskusi warga lokal, Hanif Rahmani dan kawan-kawan di komunitas Batang Berkembang.
1. Dialek Denasri (Pesisir)
Menurut pengamatan warga bernama Rapiko Taryaman, wilayah Denasri memiliki kebiasaan mengubah akhiran "-an" menjadi "-ang".
- Lapangan → Lapangang
- Pit-pitan (bersepeda) → Pit-pitang
2. Dialek Bawang (Pegunungan)
Lain ladang lain belalang, wilayah Kecamatan Bawang yang berada di dataran tinggi memiliki perubahan vokal yang sangat khas, yakni vokal "o" atau "a" sering berubah menjadi "e" (pepet).
- Sego (Nasi) → Sege
- Ondo (Tangga) → Anda / Ande
- Ulo (Ular) → Ule
Fenomena ini diamini oleh warga bernama Azi Roban. Menurutnya, logat Bawang ini sangat "Ajib tenan" dan menjadi ciri identitas yang kuat, meskipun kadang membuat orang di perantauan harus menyesuaikan diri menggunakan logat Jawa Timuran agar lebih mudah dipahami orang banyak.
Kesimpulan: Batang itu Unik!
Bisa disimpulkan bahwa Bahasa Jawa dialek Batang adalah hasil akulturasi (pertemuan) antara logat Alus (Jawa bagian wetan/timur) dengan logat Ngoko/Ngapak (Jawa Tengah bagian barat dan Cirebonan).
Selain itu, ada juga kata-kata unik seperti "Tapuk" yang berarti "mulai". Keragaman inilah yang membuat Kabupaten Batang kaya akan warna budaya.
Tertarik mengeksplorasi budaya Batang lainnya? Temukan cerita menarik di mBatang.com - Portal Komunitas Warga Batang.
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar