Jejak Sejarah Gringgingsari: Dari Mitos Karangsirno, Wabah To'un, hingga Syiar Islam di Batang

Daftar Isi

Kabupaten Batang tidak hanya menyimpan potensi wisata alam yang memukau, tetapi juga kekayaan sejarah lisan (folklore) yang melegenda. Setiap jengkal tanah di Kabupaten Batang memiliki ceritanya sendiri, tak terkecuali sebuah desa asri di Kecamatan Wonotunggal bernama Desa Gringgingsari.

Di balik keindahan alamnya yang kini dikenal lewat pesona air terjunnya, Gringgingsari menyimpan narasi sejarah yang dramatis tentang perjuangan melawan wabah penyakit, spiritualitas, dan akulturasi budaya. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai asal-usul Desa Gringgingsari yang wajib diketahui oleh generasi muda.

Era Karangsirno: Jejak Leluhur Wongsogati

Jauh sebelum nama Gringgingsari dikenal, wilayah ini menurut para sesepuh desa bernama Karangsirno. Nama ini melekat pada masa kepemimpinan leluhur pertama desa, yakni Mbah Wongsogati I. Pada masa itu, corak kehidupan masyarakat masih sangat kental dengan ajaran Budha dan kepercayaan lokal.

Kepemimpinan desa ini berlangsung secara turun-temurun. Sepeninggal Mbah Wongsogati I, tongkat estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Mbah Bromogati, dan kemudian diteruskan kembali oleh cucunya yang bergelar Mbah Wongsogati II. Di era Mbah Wongsogati II inilah, sejarah besar yang mengubah wajah desa terjadi.

Sejarah Desa Gringgingsari Wonotunggal
Alam Gringgingsari yang menyimpan sejarah panjang (Dok. Agustin Ayunk)

Prahara Wabah "To'un" (Pagebluk)

Masa kepemimpinan Mbah Wongsogati II diuji dengan cobaan yang sangat berat. Desa Karangsirno dilanda pagebluk atau wabah penyakit mematikan yang oleh warga setempat disebut penyakit To'un.

Keganasan wabah ini digambarkan dengan istilah "esuk loro sore mati, sore loro esuk mati" (pagi sakit sore meninggal, sore sakit pagi meninggal). Kematian massal terjadi hampir setiap hari, membuat suasana desa dicekam ketakutan luar biasa. Segala upaya pengobatan tradisional dan ritual telah dilakukan, namun wabah tersebut tak kunjung mereda.

Pertemuan Agung di Tepi Kalikupang

Sebagai pemimpin yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan warganya, Mbah Wongsogati II memutuskan untuk melakukan perjalanan spiritual (lelana) keluar desa. Tujuannya satu: mencari "obat" atau sosok yang mampu menanggulangi wabah mengerikan tersebut.

Ilustrasi sungai tempat pertemuan sejarah Gringgingsari

Takdir membawa langkah kaki beliau ke tepian sungai Kalikupang. Di sana, beliau melihat dua sosok yang sedang khusyuk berdzikir. Dengan sabar, Mbah Wongsogati II menunggu hingga ritual dzikir mereka selesai sebelum memberanikan diri untuk menyapa.

Kedua sosok karismatik tersebut memperkenalkan diri sebagai Pangeran Kajoran (Syekh Syarif Abdurrahman) dan Pangeran Trunojoyo. Pertemuan ini menjadi titik balik sejarah Desa Karangsirno.

Perjanjian "Kedung Sinanggung"

Mbah Wongsogati II menceritakan pilunya kondisi desanya. Pangeran Kajoran, dengan kewaskitaan dan izin Allah SWT, menyanggupi untuk membantu menghilangkan wabah tersebut. Namun, terdapat sebuah syarat spiritual yang diajukan: kesediaan warga desa untuk memeluk agama Islam secara sukarela (tanpa paksaan).

Demi keselamatan nyawa rakyatnya, Mbah Wongsogati II menyetujui syarat tersebut. Kesepakatan bersejarah ini terjadi di sebuah kedung (lubuk sungai), di mana ketiga tokoh tersebut saling "menanggung" janji. Oleh karena itu, lokasi tersebut kemudian dinamakan Kedung Sinanggung (Tempat Saling Menanggung).

Keasrian alam Desa Gringgingsari Batang

Filosofi Nama "Gringgingsari" dan "Ketawang"

Dalam perjalanan menuju desa, rombongan berhenti di sebuah lokasi ketinggian. Mbah Wongsogati II menunjuk ke arah selatan, memperlihatkan letak desanya dari kejauhan. Aktivitas memandang dari kejauhan ini dalam bahasa Jawa disebut Nyawang. Lokasi tempat mereka berdiri kemudian diberi nama Ketawang.

Di lokasi tersebut, terdapat sebuah pohon unik bernama Pohon Gringging (sejenis kayu jaran). Terinspirasi dari momen dan vegetasi tersebut, disepakatilah perubahan nama desa. Karangsirno (yang bermakna pekarangan yang sirna/hilang karena wabah) diganti menjadi Gringgingsari, sebuah nama yang membawa harapan baru.

Lokasi Bersejarah: Tempat perubahan nama ini sekarang dikenal sebagai "Tikungan/Enggokan Petung", terletak sekitar 200 meter ke arah barat dari pertigaan Kalikupang.

Transformasi Spiritual dan Akhir Wabah

Sesampainya di desa, Mbah Wongsogati II mengumpulkan seluruh warga. Di hadapan rakyatnya, beliau memperkenalkan Pangeran Kajoran dan Pangeran Trunojoyo serta menyampaikan solusi untuk menghentikan wabah Pagebluk.

Masyarakat yang telah lelah dengan penderitaan penyakit menyambut baik ajakan tersebut. Proses Bai'at (sumpah setia) pun dilakukan. Warga Desa Karangsirno secara massal memeluk agama Islam, meninggalkan kepercayaan lama, dan bersama-sama memanjatkan doa kepada Allah SWT di bawah bimbingan Pangeran Kajoran.

Curug Gringgingsari destinasi wisata sejarah

Atas izin Tuhan Yang Maha Esa, wabah penyakit To'un berangsur sirna. Desa Gringgingsari lahir kembali dengan identitas baru: masyarakat yang sehat, damai, dan memegang teguh nilai-nilai Islami. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah syiar Islam di wilayah Batang bagian selatan.


Kini, Desa Gringgingsari tidak hanya dikenal karena sejarahnya yang kuat, tetapi juga karena potensi wisata alamnya, termasuk Curug Gringgingsari yang mempesona. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang profil desa ini di masa kini, Anda bisa membaca ulasan Desa Gringgingsari Wonotunggal Batang.

Semoga kisah kearifan lokal ini tetap lestari dan menjadi pembelajaran bagi kita semua tentang pentingnya ikhtiar, doa, dan kepemimpinan yang amanah.

Sumber Sejarah: gringgingsari.wordpress.com | Kredit Foto: Agustin Ayunk (Via Grup Batang Berkembang)

Posting Komentar