Nostalgia "Jalur Gaza" Batang: Tradisi Petasan Lebaran di Jl. Yos Sudarso
Bagi warga asli Batang, suasana Hari Raya Idul Fitri di masa lalu memiliki ciri khas yang sulit dilupakan: suara ledakan yang bersahut-sahutan dan aroma mesiu yang menyengat. Tradisi "pesta" petasan atau mercon ini pernah menjadi ikon perayaan Lebaran yang sangat kental, khususnya di wilayah Kasepuhan Batang.
Pusat keramaian tradisi ini terletak di sepanjang Jalan Yos Sudarso. Saking ramainya ledakan di sana, warga setempat sering menjulukinya sebagai "Jalur Gaza"-nya Batang saat Lebaran tiba.
Ilustrasi: Lautan kertas sisa ledakan mercon di jalanan Batang (Dok. Lawas)
Jalanan Berubah Menjadi Lautan Merah
Pemandangan unik selalu tersaji usai pesta petasan usai. Sepanjang Jl. Yos Sudarso akan tertutup oleh hamparan kertas merah sisa selongsong petasan yang meledak. Bagi sebagian orang, ini adalah pemandangan artistik yang menandakan kemeriahan, namun bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung, melewati jalur ini saat tradisi berlangsung adalah ujian mental tersendiri.
"Suara ledakan mercon terdengar sangat khas, diiringi aroma asap obat mercon yang menyengat hidung, menciptakan atmosfer Lebaran yang berbeda," kenang salah satu warga.
Antara Tradisi dan Kontroversi
Tradisi ini sempat menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Bagi para pendukungnya, menyalakan mercon adalah cara meluapkan kegembiraan dan menjaga warisan kebiasaan kampung. Beberapa komentar warga sempat terekam dalam ingatan kolektif:
"Ini cara kami memperjuangkan tradisi, jangan hilangkan tradisi ini. Kasepuhan adalah kampung tradisi, sama seperti Kebanyon, merconnya 'jedar-jeder' terus," ungkap Sibunk dan Dasirin, tokoh pemuda setempat pada masanya.
Bahkan, ada pula yang berpendapat cukup keras bahwa suara ledakan tersebut bukanlah gangguan, melainkan wujud kasih sayang terhadap tradisi yang harus dijaga sampai mati.
Pergeseran Zaman dan Regulasi
Namun, masa berganti dan aturan pun ditegakkan. Kini, tradisi meletuskan mercon, terutama yang berukuran besar (jumbo) di jalan umum seperti Yos Sudarso, sudah dilarang keras oleh pemerintah dan kepolisian setempat.
Larangan ini diberlakukan bukan tanpa alasan. Faktor keselamatan, risiko kebakaran, serta kenyamanan warga yang sakit atau lansia menjadi pertimbangan utama. Meskipun "Jalur Gaza" kini mungkin lebih sunyi dari ledakan, kenangan akan jalanan yang memerah oleh kertas petasan tetap menjadi bagian dari sejarah unik Lebaran di Kabupaten Batang.
Posting Komentar
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar