Mengenal Syekh Rahmatillah: Bupati Pertama Batang
Batang – Sebagai warga Batang, sudah semestinya kita mengenal akar sejarah kota tercinta ini. Jika ada pertanyaan, "Siapakah sosok Bupati Pertama Kota Batang?" Jawabannya adalah Syekh Rahmatillah.
Beliau bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan seorang ulama besar yang memiliki garis keturunan (trah) mulia. Nama asli beliau adalah Akhmad Husen Rahmatillah. Berdasarkan penuturan Maulana Habib Lutfi bin Yahya, silsilah beliau bersambung hingga Sunan Sendang Duwur (Lamongan), Sunan Ampel, dan bermuara kepada Rasulullah SAW.
Kompleks Makam Syekh Rahmatillah di Pasekaran, Batang.
Misteri Julukan "Kyai Sedorawuh"
Sebelum makam beliau dipugar dan ramai dikunjungi peziarah saat acara haul, masyarakat setempat lebih mengenal makam tersebut sebagai makam Raden Bagus Rahmat atau Kyai Sedorawuh.
Nama "Sedorawuh" memiliki makna filosofis yang mendalam terkait kewafatan beliau. Dikisahkan, beliau meninggal dunia (Sedo) dalam posisi sujud menghadap Ilahi Robbi (Rawuh) saat melaksanakan sholat malam. Peristiwa ini terjadi sesaat setelah beliau tiba di Batang, usai menghadiri hajatan pernikahan putranya dengan keluarga Bupati Kendal. Wafat dalam keadaan husnul khotimah inilah yang membuat namanya harum sebagai Kyai Sedorawuh.
Garis Keturunan Menuju Habib Lutfi
Fakta sejarah yang menarik adalah hubungan darah antara Syekh Rahmatillah dengan ulama karismatik Pekalongan, Habib Lutfi bin Yahya. Jalurnya adalah sebagai berikut:
- Putra pertama Syekh Rahmatillah bernama Muhammad Idris (berjuluk Condro Negoro IV karena menjadi menantu Bupati Kudus).
- Raden Muhammad Idris memiliki putra bernama Raden Ali Sundoro.
- Raden Ali Sundoro memiliki putri bernama Raden Ayu Kuniyati.
- Raden Ayu Kuniyati inilah nenek dari Habib Lutfi (Ibu dari Ayahanda Habib Lutfi).
Pemerintahan dan Syiar Islam
Saat menjabat sebagai Bupati Pertama, Syekh Rahmatillah tidak bekerja sendiri. Beliau merangkul keluarga untuk memperkuat syiar Islam di Batang. Beliau mengangkat saudara-saudaranya dari trah Sunan Sendang Duwur untuk memegang posisi strategis keagamaan, di antaranya:
- Pangeran Alit (Mbah Masjid): Diangkat menjadi Takmir Masjid Agung Batang.
- Syekh Tolabuddin: Tokoh agama yang kini dimakamkan di Jl. Yos Sudarso, Pekuncen, Batang.
Silsilah Lengkap Syekh Rahmatillah
Berdasarkan catatan sejarah, berikut adalah urutan silsilah Syekh Rahmatillah ke atas:
- Syekh Rahmatillah (Akhmad Husen)
- Putra dari Raden Jayeng Rono (Bupati Wiroto ke-2), bernama Muhammad.
- Putra Raden Qosim (Jayeng Rono ke-1).
- Putra Raden Husen (Among Negoro, Bupati Pasuruan yang dimakamkan di Pekalongan).
- Putra Aryo Bukuh.
- Putra Aryo Hadiningrat (Bupati Sedayu ke-2).
- Putra Aryo Hadiningrat (Bupati Sedayu ke-1).
- Putra Aryo Adipati Gampang (Sayyid Abdul Qodir).
- Putra Panembahan Nur Rohmat (Sunan Sendang Duwur, Sedayu Gresik).
- Putra Sayyid Abdullah (Sunan Gresik).
- Putra Sayyid Ali Almurtadlo (Sunan Mbedilan/Raden Santri).
- Putra Sayyid Ibrohim Asmoroqondi.
- Putra Syekh Jumadil Kubro.
Batang: Salah Satu Kota Tertua di Jawa
Dalam Babad Tanah Jawa, disebutkan bahwa terdapat tiga kota tertua di pesisir utara, yaitu Roban (Batang-Pekalongan), Jepara, dan Gresik. Hal ini diperkuat dengan banyaknya makam aulia (wali) yang tersebar di wilayah Batang.
Habib Lutfi pernah menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah Wali terbanyak kedua di dunia setelah Hadhramaut (Yaman). Di Batang sendiri, setidaknya ada lebih dari 9 makam ulama besar yang menjadi paku bumi kota ini:
- Syekh Rahmatillah: Makam Pasekaran (Pusat Pemerintahan Lama).
- Syekh Surgi Jatikusumo: Pasekaran.
- Ki Pusponegoro: Pasekaran (Konon dijaga oleh ular besar dan burung yang hinggap di atas makamnya akan jatuh).
- Syekh Samsudin: Junggrangan, Kademangan.
- Kyai Singokerti: Singokerten, Kauman.
- Pangeran Kadilangu: Kadilangu.
- Kyai Atas Angin: Kasepuhan.
- Mbah Wali Kebanyon: Kasepuhan.
- Kyai Kendil Wesi: Sambong.
- Syekh Maulana Maghribi: Ujungnegoro (Tepi Pantai).
Selain daftar di atas, masih banyak makam aulia di daerah Wonobodro dan makam-makam tersembunyi (mastur) seperti di Kampung Pandean Jl. RE Martadinata yang belum banyak diketahui khalayak.
Melihat banyaknya situs sejarah ini, tak heran jika wajah Batang kini semakin tertata. Bandingkan dengan kondisi terkini di artikel: Foto Terbaru dan Perkembangan Kabupaten Batang.
Semoga artikel ini bermanfaat untuk menambah wawasan sejarah kita. Mari kita jaga warisan leluhur Batang dengan mengirimkan doa untuk beliau-beliau.
Sumber Referensi: Tausiyah Habib Lutfi & Blog Biografi Ulama Habaib.
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar