Menaklukan Curug Lojahan: Eksotisme Air Terjun Purba di Jantung Belantara Blado Batang

Daftar Isi

Kabupaten Batang dikenal memiliki topografi yang unik, perpaduan antara garis pantai di utara dan pegunungan hijau di selatan. Di wilayah selatan inilah, tepatnya di Kecamatan Blado, tersimpan sebuah legenda alam yang belum banyak terjamah oleh wisatawan awam. Tempat itu bernama Curug Lojahan, atau masyarakat sekitar sering menyebutnya dengan nama Curug Gedhe.

Berbeda dengan destinasi wisata keluarga yang mudah diakses, Curug Lojahan adalah definisi sesungguhnya dari "surga tersembunyi". Lokasinya berada jauh di dalam belantara Alas Kluwung, Desa Kalitengah. Keindahan tempat ini bukan hanya soal air terjunnya, melainkan juga sejarah sungai yang mengalirinya dan tantangan ekstrem untuk mencapainya.

Pemandangan Curug Lojahan Kalitengah Blado Batang
Kemegahan Curug Lojahan yang tersembunyi di balik hutan.

Legenda Sungai Lojahan dan Sejarah Batang

Mengulas Curug Lojahan tidak bisa dilepaskan dari sungai yang menjadi sumber alirannya. Sungai Lojahan bukanlah sungai biasa. Bagi masyarakat Batang, nama ini cukup melegenda karena merupakan nama lain dari Sungai Kramat. Sungai ini memiliki nilai historis yang kuat karena diyakini menjadi awal mula sejarah munculnya nama "Batang".

Secara geografis, Kali Lojahan yang berhulu di wilayah selatan Batang terbagi menjadi dua bagian, yaitu Lojahan Kulon (Barat) dan Lojahan Wetan (Timur). Kedua aliran sungai purba ini kemudian bertemu menjadi satu di Desa Kaliurang, Blado. Nah, Curug Lojahan yang megah ini bersumber dari aliran Lojahan Wetan. Derasnya air yang mengalir di sini membawa cerita masa lalu yang terus mengalir hingga ke hilir.

Tebing Tinggi Curug Lojahan
Suasana Hutan Alas Kluwung

Eksotisme Dinding Batu dan Koloni Kelelawar

Salah satu ciri khas yang membedakan Curug Lojahan dengan air terjun lainnya di Batang adalah formasi tebingnya. Dengan ketinggian curug mencapai lebih dari 40 meter, air terjun ini diapit oleh dinding batu raksasa di sisi kanan dan kirinya. Tebing-tebing ini menjulang tinggi seolah memagari keindahan curug dari dunia luar.

Di beberapa bagian tebing, terdapat cekungan-cekungan alami menyerupai gua. Cekungan gelap dan lembap ini menjadi habitat alami bagi koloni Codhot (kelelawar pemakan buah) atau Flying Fox. Suara cericit kelelawar yang bergema di antara dinding tebing, ditambah gemuruh air terjun, menciptakan orkestra alam yang mistis namun menakjubkan.

Aliran Air Curug Lojahan
Bebatuan Sungai Lojahan

Kedung Bening yang Menipu

Tepat di bawah jatuhan air, terbentuk sebuah kolam alami atau yang dalam bahasa Jawa disebut Kedung. Air di sini sangat dingin, ibarat air es yang baru keluar dari kulkas. Kejernihannya pun luar biasa, hingga bebatuan di dasarnya bisa terlihat samar-samar dari permukaan.

Namun, keindahan ini menyimpan bahaya tersendiri. Kedalaman kedung ini tidak menentu dan bisa mencapai lebih dari 2 meter di titik tertentu. Bagi Anda yang tidak mahir berenang, sangat disarankan untuk tidak menceburkan diri ke bagian tengah. Cukup nikmati kesegaran airnya di tepian sungai yang dangkal sembari membasuh muka.

Kejernihan Air Curug Lojahan
Vegetasi Hijau Curug Lojahan

Trekking Ekstrem: Hanya untuk Jiwa Petualang

Mengapa Curug Lojahan belum banyak diketahui khalayak ramai? Jawabannya terletak pada aksesnya. Perjalanan menuju lokasi ini adalah ujian fisik dan mental yang sesungguhnya. Dari pemukiman penduduk terdekat di Desa Kalitengah, pengunjung harus berjalan kaki (trekking) selama kurang lebih 1,5 jam.

Jalur yang dilalui bukan jalan setapak landai, melainkan kombinasi lembah hutan, semak belukar, dan tebing curam. Tantangan terberat adalah saat harus menuruni tebing batu untuk mencapai dasar curug. Jalurnya sangat licin dan curam, sehingga seringkali pengunjung harus bergantung pada akar pohon atau bantuan rotan yang terikat pada batang pohon untuk bisa turun dengan selamat.

Karena medan yang begitu melelahkan dan sulit inilah, jarang ada orang yang sanggup untuk datang dua kali. Kebanyakan pengunjung, atau fotografer alam, biasanya cukup puas menikmati keindahannya dari jarak pandang tertentu di atas bukit atau dari balik celah hutan, tanpa harus turun hingga ke bibir curug. Hanya mereka yang benar-benar berjiwa petualang sejati yang berani menaklukan tantangan ini.

Tantangan Jalur Curug Lojahan

Tips Berkunjung ke Curug Lojahan

Jika Anda merasa tertantang untuk menaklukan Curug Lojahan, perhatikan beberapa tips berikut:

  • Wajib Pemandu Lokal: Jangan pernah mencoba mencari lokasi ini sendirian jika belum pernah ke sana. Mintalah bantuan warga Desa Kalitengah untuk mengantar.
  • Fisik Prima: Pastikan tubuh dalam kondisi fit 100%. Bawa air minum dan perbekalan yang cukup.
  • Hindari Musim Hujan: Jalur tanah akan menjadi bubur yang sangat licin dan debit air sungai bisa membahayakan saat hujan turun.
  • Perlengkapan: Gunakan sepatu trekking yang menggigit (bukan sandal jepit) dan bawa tali webbing cadangan jika diperlukan untuk menuruni tebing.

Meskipun lelah, segala perjuangan akan terbayar lunas saat melihat percikan air yang dibiaskan cahaya matahari hingga membentuk pelangi di dasar lembah. Suasana purba yang tenang akan membuat Anda lupa sejenak akan hiruk pikuk kota.

Bagi Anda yang mencari alternatif wisata air terjun yang lebih mudah diakses di sekitar Blado, mungkin bisa mempertimbangkan Curug Sibiting Kembanglangit sebagai pemanasan sebelum ke sini. Namun, bagi pencari tantangan sejati, Curug Lojahan adalah puncaknya.

Lanskap Vertikal Curug Lojahan Keindahan Pelangi di Curug Lojahan

Demikian ulasan mendalam tentang Curug Gedhe Kali Lojahan di Kabupaten Batang. Mari jaga kelestarian alam ini dengan tidak meninggalkan sampah sekecil apapun di dalam hutan.

Posting Komentar