Sejarah Perjuangan Kecamatan Tulis: Asal Usul & Pertempuran Jembatan Sasak
Kecamatan Tulis, sebuah wilayah strategis di jalur Pantura Kabupaten Batang, seringkali hanya dipandang sebagai lintasan ekonomi yang sibuk. Namun, jika kita menelisik lebih dalam ke masa lalu, tanah Tulis adalah saksi bisu dari tumpahan darah dan air mata para pejuang kemerdekaan.
Dari legenda asal-usul namanya hingga peristiwa heroik pemutusan jembatan saat Agresi Militer Belanda, sejarah Tulis adalah warisan yang wajib diketahui oleh generasi muda Batang. Berikut adalah ulasan lengkap mengenai sejarah perjuangan rakyat Tulis yang penuh heroisme.
1. Legenda Watu Tulis & Asal Usul Nama
Sebelum membahas pertempuran fisik, penting untuk mengenal asal-usul nama "Tulis" itu sendiri. Berdasarkan cerita tutur (folklore) yang berkembang di masyarakat, nama Tulis diyakini berasal dari sebuah prasasti alam atau "Watu Tulis".
Konon, di tepian sungai yang membelah wilayah ini, pernah ditemukan sebuah batu besar yang memiliki guratan-guratan menyerupai tulisan (rajah) kuno. Batu ini dianggap keramat dan menjadi penanda wilayah. Versi lain menyebutkan bahwa Tulis menjadi tempat pencatatan administrasi (menulis) pada masa pemerintahan kolonial atau kerajaan terdahulu karena letaknya yang strategis sebagai pos penghubung.
2. Bumi Hangus & Agresi Militer Belanda
Memasuki era kemerdekaan (1945-1949), Kecamatan Tulis menjadi salah satu titik pertahanan vital bagi tentara Republik dan laskar rakyat di Kabupaten Batang. Saat Belanda melancarkan Agresi Militer (terutama Agresi I dan II) untuk kembali menguasai Jawa, jalur Pantura menjadi target utama mobilisasi pasukan mereka dari Semarang menuju Pekalongan dan Jakarta.
Rakyat Tulis tidak tinggal diam. Di bawah komando para pejuang lokal dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), strategi bumi hangus pun diterapkan. Tujuannya satu: menghambat laju konvoi truk dan tank Belanda agar tidak bisa melintas dengan mudah ke wilayah barat.
3. Pertempuran Jembatan Sasak
Puncak dari perlawanan tersebut terjadi di sekitar Jembatan Sasak (Jembatan Kali Tulis). Jembatan ini adalah nadi utama penghubung Pantura. Menyadari pasukan Belanda yang bersenjata lengkap akan segera lewat, para pejuang mengambil keputusan berani untuk menghancurkan dan memutus jembatan tersebut.
"Suara ledakan dan tembakan mewarnai langit Tulis. Darah para syuhada mengalir demi mempertahankan sejengkal tanah dari penjajahan kembali."
Peristiwa di Jembatan Sasak ini bukan sekadar penghancuran infrastruktur, melainkan simbol perlawanan total. Para pemuda dari Desa Kenconorejo, Ponowareng, hingga Simbang bersatu padu melakukan penghadangan. Meski kalah dalam persenjataan, semangat 'Merdeka atau Mati' membuat pasukan Belanda kewalahan mengamankan jalur logistik mereka.
4. Monumen Perjuangan & Tradisi Napak Tilas
Untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur di medan laga Tulis, dibangunlah Monumen Perjuangan Rakyat Tulis. Tugu ini bukan sekadar benda mati, melainkan pengingat bahwa kebebasan yang kita hirup hari ini dibayar mahal oleh nyawa leluhur kita.
Hingga kini, semangat tersebut terus dijaga melalui tradisi Napak Tilas yang rutin digelar oleh masyarakat dan pemerintah Kabupaten Batang. Ribuan peserta biasanya berjalan kaki menyusuri rute gerilya para pejuang terdahulu, melewati desa-desa bersejarah seperti Kenconorejo, Ponowareng, Karanggeneng, hingga berakhir di Ujungnegoro atau pusat kota.