Mengenal Batik Rifaiyah: Warisan Budaya Batang yang Sarat Makna Spiritual

Daftar Isi

Indonesia adalah rumah bagi ribuan motif batik, namun hanya sedikit yang memiliki kedalaman filosofi spiritual sekuat Batik Rifaiyah. Jika Anda berkunjung ke Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Anda akan menemukan sebuah tradisi membatik yang bukan sekadar seni menghias kain, melainkan manifestasi dari kepatuhan terhadap ajaran agama dan nilai-nilai luhur.

Batik Rifaiyah, atau sering juga disebut Batik Kalipucang, adalah bukti nyata bagaimana budaya lokal dapat berakulturasi dengan ajaran Islam tanpa kehilangan identitasnya. Batik ini lahir dan berkembang di kalangan komunitas pengikut KH. Ahmad Rifai, seorang ulama besar dan Pahlawan Nasional asal Batang. Lantas, apa yang membuat batik ini begitu istimewa dan bernilai tinggi di mata kolektor maupun budayawan?

Ciri Khas Unik: Harmoni Flora dan Faunal yang "Terpotong"

Pembeda utama Batik Rifaiyah dengan batik pesisiran lainnya terletak pada prinsip visualnya. Mengacu pada kitab Tarajumah karya KH. Ahmad Rifai, terdapat ajaran yang melarang penggambaran makhluk bernyawa (seperti hewan dan manusia) secara utuh dalam karya seni, karena dikhawatirkan dapat mengarah pada penyimpangan aqidah.

Namun, larangan ini justru memicu kreativitas luar biasa dari para pengrajin batik di Desa Kalipucang Wetan. Mereka tidak menghilangkan unsur hewan sepenuhnya, melainkan melakukan stilasi atau penyamaran. Hewan-hewan seperti burung atau ayam digambarkan dalam kondisi "tidak utuh" atau terpotong-potong (disamarkan), sehingga sekilas terlihat seperti rangkaian motif tumbuhan (floral) atau mozaik abstrak yang indah.

Motif Pelo Ati Batik Rifaiyah Batang
Kehalusan detail Batik Rifaiyah yang menyamarkan bentuk hewan.

Teknik ini dikenal dengan istilah "mozaik", di mana kepala, badan, dan kaki hewan dipisah-pisah namun tetap membentuk komposisi yang harmonis. Inilah yang menjadikan Batik Rifaiyah unik: ia tampak hidup, namun sejatinya patuh pada syariat yang diyakini pembuatnya.

Ragam Motif dan Filosofi Sufisme

Hingga saat ini, tercatat setidaknya ada 24 jenis motif klasik Batik Rifaiyah yang masih dilestarikan, antara lain: Kotak Kitir, Banji, Sigar Kupat, Lancur, Tambal, Kawung Ndog, Kawung Jenggot, Dlorong, Materos Satrio, Ila Ili, Gemblong Sairis, Dapel, Nyah Pratin, Romo Gendong, Jeruk No’i, Keongan, Krokotan, Liris, Klasem, Kluwungan, Jamblang, Gendaghan, dan Wagean.

Koleksi Batik Rifaiyah Klasik

Salah satu motif yang paling sarat makna adalah Pelo Ati. Motif ini bukan sekadar gambar, melainkan sebuah pelajaran tasawuf (sufisme) yang dituangkan di atas kain. Motif ini menggambarkan ayam atau burung merak dengan kepala terpenggal.

  • Ati (Hati): Melambangkan sifat-sifat terpuji (mahmudah) yang harus dimiliki manusia, seperti zuhud (tidak gila dunia), qana’ah (merasa cukup), sabar, tawakal, ridha, syukur, dan ikhlas.
  • Pelo (Ampela): Melambangkan tempat kotoran atau sifat-sifat tercela (mazmumah) yang harus dibuang, seperti hubbu al-dunya (cinta dunia berlebihan), thama’ (rakus), riya (pamer), takabur (sombong), hasad (dengki), dan sum’ah.

Filosofi ini mengajarkan pemakainya untuk selalu membersihkan hati dan membuang sifat-sifat buruk layaknya membuang kotoran pada ampela ayam. Sebuah pesan moral yang sangat mendalam untuk sebuah lembar kain, bukan?

Proses Pembuatan yang Penuh Dzikir

Nilai spiritual Batik Rifaiyah tidak hanya ada pada hasil akhirnya, tetapi juga pada proses pembuatannya. Para pengrajin batik di Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, mayoritas adalah kaum perempuan dari komunitas Rifaiyah. Mereka membatik bukan hanya untuk mencari nafkah, tetapi sebagai bagian dari ibadah.

Detail Motif Batik Kalipucang

Konon, dalam tradisi membatik tulis halus ini, para pengrajin seringkali melantunkan syair-syair berbahasa Jawa Arab (Kidung) atau berdzikir selama menggoreskan canting. Hal ini dipercaya memberikan "ruh" atau energi positif pada kain batik yang dihasilkan. Tak heran jika Batik Rifaiyah memiliki aura wibawa dan keanggunan tersendiri saat dikenakan.

Warisan yang Harus Dilestarikan

Di tengah gempuran batik printing (tekstil bermotif batik) yang murah dan massal, keberadaan Batik Tulis Rifaiyah menghadapi tantangan besar. Proses pembuatannya yang memakan waktu lama—bisa berbulan-bulan untuk satu lembar kain—membuat harganya relatif lebih tinggi. Namun, bagi para pecinta seni dan kolektor, harga tersebut sangat sepadan dengan nilai sejarah, kerumitan teknik, dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Pameran Batik Rifaiyah
Pameran Batik Rifaiyah untuk memperkenalkan warisan budaya ke dunia luar.

Pemerintah Kabupaten Batang dan berbagai komunitas budaya terus berupaya mengangkat pamor Batik Rifaiyah. Anda bisa membaca lebih lanjut mengenai asal-usul dan perkembangan batik ini di artikel Asal Usul Batik Rifaiyah Kalipucang.

Sebagai generasi penerus, sudah sepatutnya kita bangga dan turut melestarikan warisan ini. Membeli dan memakai Batik Rifaiyah bukan hanya soal gaya, tetapi juga bentuk dukungan ekonomi terhadap para pengrajin wanita di pedesaan dan upaya menjaga agar filosofi luhur KH. Ahmad Rifai tidak lekang oleh zaman.

Motif Klasik Batik Batang Kain Batik Rifaiyah

Foto-foto dalam artikel ini merupakan dokumentasi dari acara "Meet The Makers" dan kontribusi dari Mja Nashir (Batang Heritage) serta Fachrudin Jabrig, yang dengan setia mendokumentasikan keindahan Batik Rifaiyah.

Posting Komentar