Sejarah Penundan, Syekh Jabang Bayi, Asal Usul Gringsing, Sejarah Batang, Adipati Luwuk

Daftar Isi

Kabupaten Batang, khususnya wilayah Kecamatan Gringsing, menyimpan segudang kisah masa lalu yang penuh hikmah. Salah satu legenda yang paling melekat di hati masyarakat adalah kisah tentang asal-usul Desa Penundan dan sosok keramat bernama Syekh Jabang Bayi.

Makam Syakh Jabang Bayi

Bukan sekadar nama, Syekh Jabang Bayi ternyata memiliki latar belakang seorang penguasa yang mengalami perjalanan spiritual luar biasa—dari kegelapan menuju cahaya ilahi. Bagaimana kisahnya hingga bertemu dengan Sunan Kalijaga? Berikut ulasan lengkap sejarahnya.

Makam Syakh Jabang Bayi

Kisah Adipati Luwuk yang Kejam

Alkisah, pada zaman dahulu di kawasan yang kini dikenal sebagai Siluwuk-Weleri, berkuasalah seorang pemimpin bernama Adipati Luwuk. Sayangnya, kekuasaan membuatnya lupa diri. Ia dikenal sebagai sosok yang tamak, ambisius, dan tidak segan menggunakan kekerasan.

Bagi Adipati Luwuk, segala keinginannya adalah perintah mutlak. Jika ada yang menghalangi, nyawa pun tak ragu ia hilangkan. Rakyat hidup dalam ketakutan di bawah bayang-bayang kekejamannya.

Mimpi Neraka dan Pertobatan

Hidayah Tuhan seringkali datang dengan cara yang tak terduga. Pada suatu malam yang sunyi, Adipati Luwuk tertidur lelap dan bermimpi sangat mengerikan. Dalam tidurnya, ia merasa berada di sebuah tempat yang panas membara, di mana ia disiksa habis-habisan oleh sosok menyeramkan, yakni Malaikat Maut.

Di tengah siksaan itu, Adipati bertanya, "Mengapa aku disiksa sepedih ini?"
Sang Malaikat menjawab dengan tegas, "Inilah neraka! Tempat yang pantas bagi manusia kejam sepertimu!"

Adipati Luwuk terbangun dengan napas tersengal dan tubuh bersimbah keringat dingin. Anehnya, rasa panas dan sakit dalam mimpi itu terbawa hingga ke dunia nyata. Kulitnya terasa melepuh seperti terbakar api sungguhan. Momen inilah yang meruntuhkan kesombongannya. Ia menangis tersedu-sedu bak anak kecil, menyesali segala dosa dan ketamakannya selama ini.

Pertemuan dengan Sunan Kalijaga & Asal Usul "Tuk Macan"

Pertaubatan itu bukan sekadar di bibir. Adipati Luwuk membagikan seluruh hartanya kepada fakir miskin, menanggalkan jabatan, dan memutuskan berkelana ke arah barat tanpa tujuan duniawi, hanya ingin menebus dosa.

Di tengah perjalanan, ia berhenti di sebuah mata air (tuk) karena kehausan. Namun, bahaya mengintai. Seekor harimau lapar tiba-tiba muncul dan siap menerkamnya. Dalam kepasrahan total, Adipati berkata, "Makanlah tubuhku jika itu bisa menghapus dosa-dosaku."

Saat harimau hendak menyerang, muncullah seorang lelaki paruh baya yang menghalau binatang buas itu. Lelaki tersebut ternyata adalah Kanjeng Sunan Kalijaga.

Alih-alih berterima kasih karena selamat, Adipati Luwuk justru menangis karena gagal "menebus dosa" lewat terkaman harimau. Setelah mendengar kisah penyesalan sang Adipati, Sunan Kalijaga memberikan wejangan spiritual di tempat tersebut. Kelak, mata air tempat kejadian itu dikenal warga dengan sebutan Tuk Macan.

Makam Syakh Jabang Bayi

Filosofi Nama Desa Penundan & Gelar Syekh Jabang Bayi

Di lokasi pertemuan itulah Sunan Kalijaga memberikan pelajaran berharga tentang hakikat hidup ("Sangkan Paraning Dumadi"). Setelah dirasa cukup memberikan bekal ilmu agama, Sunan Kalijaga memberikan nama baru bagi daerah tersebut dan sang Adipati.

1. Asal Usul Nama Desa Penundan

Desa tempat Adipati Luwuk mendapat pertolongan (hidayah) kemudian dinamakan Penundan. Nama ini diambil dari kata dasar "Tundho" atau "Nunda" yang dalam konteks ini dimaknai sebagai Pertolongan. Ada pula yang menafsirkan sebagai tempat pemberhentian (ditunda perjalanannya) untuk menerima ilmu.

2. Gelar Syekh Jabang Bayi

Karena Adipati Luwuk telah benar-benar bertaubat dan meninggalkan sifat keduniawiannya, jiwanya dianggap telah kembali suci. Sunan Kalijaga pun memberinya gelar Syekh Jabang Bayi.

Gelar ini menyimbolkan bahwa dirinya telah lahir kembali menjadi manusia baru yang bersih, suci, dan tanpa dosa layaknya seorang bayi yang baru lahir. Kini, makam Syekh Jabang Bayi di Penundan, Gringsing, menjadi salah satu situs sejarah religi yang mengingatkan kita bahwa pintu ampunan Tuhan selalu terbuka bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

Pesan Moral: Kisah Syekh Jabang Bayi mengajarkan bahwa sekelam apapun masa lalu seseorang, selalu ada jalan untuk kembali menjadi baik jika disertai niat tulus dan taubat nasuha.