Kilas Balik Lautan Putih di Alun-Alun Batang: Mengenang Aksi 10.000 Santri Pertahankan Madrasah Diniyah dari Full Day School

Daftar Isi

Dunia pendidikan Indonesia senantiasa mengalami dinamika perubahan kebijakan (policy changes) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, tidak semua kebijakan dapat diterima dengan mulus di tingkat akar rumput, terutama yang bersinggungan dengan kearifan lokal dan sistem pendidikan keagamaan yang sudah mengakar kuat. Salah satu momen bersejarah yang tak terlupakan di Kabupaten Batang adalah gelombang solidaritas santri pada tahun 2017 silam.

Aksi Tolak Full Day School di Batang
Dokumentasi aksi damai ribuan warga Batang menyuarakan aspirasi pendidikan (Arsip 2017).

Sejarah Pergerakan: Ketika Alun-Alun Menjadi Lautan Putih

Agustus 2017 menjadi saksi bisu bagaimana kekuatan sipil (civil society) di Batang bergerak secara terorganisir dan damai. Sekitar 10.000 massa yang terdiri dari para Kyai, santri, guru Madrasah Diniyah (Madin), wali murid, hingga aktivis pendidikan tumpah ruah memadati Alun-Alun Batang. Mereka mengenakan busana serba putih, menciptakan pemandangan epik yang menggetarkan hati siapa saja yang melihatnya.

Aksi ini bukanlah demonstrasi anarkis yang merusak fasilitas umum. Sebaliknya, ini adalah Istighosah Kubro—sebuah munajat doa bersama mengetuk pintu langit, sekaligus pernyataan sikap tegas menolak pemberlakuan kebijakan Full Day School (FDS) atau Sekolah Lima Hari (8 jam sehari) yang saat itu digulirkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Mengapa Full Day School Ditolak Keras di Batang?

Bagi masyarakat perkotaan metropolitan, sekolah sehari penuh mungkin solusi ideal untuk penitipan anak saat orang tua bekerja (working parents). Namun, sosiologi masyarakat Batang berbeda. Di sini, pendidikan tidak berhenti saat bel sekolah formal berbunyi pukul 13.00 atau 14.00 siang.

Penolakan masif ini didasari oleh argumen logis dan kekhawatiran mendalam terhadap nasib Lembaga Pendidikan Keagamaan Islam non-formal, khususnya Madrasah Diniyah (Madin) dan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ). Berikut adalah poin krusial yang menjadi sorotan saat itu:

  • Ancaman Gulung Tikar Madin: Jika siswa wajib berada di sekolah formal hingga sore (pukul 16.00), maka secara otomatis waktu untuk belajar agama di Madin yang biasanya dimulai ba'da Ashar akan hilang.
  • Pendidikan Karakter (Character Building): Masyarakat Batang meyakini bahwa pembentukan akhlak (moral values) dan adab justru lebih intensif didapatkan melalui pengajian sore di surau dan madrasah, bukan sekadar teori di kelas formal.
  • Kesejahteraan Guru Madin: Puluhan ribu ustadz dan ustadzah kampung yang mengabdi dengan ikhlas terancam kehilangan peran strategisnya dalam mendidik generasi muda.

📚 Info Pendidikan Batang

Ingin tahu lebih banyak tentang perkembangan dunia pendidikan dan berita terkini di daerah kita? Jangan lewatkan update informasinya di halaman utama Mbatang.com.

Galeri Solidaritas: Bukti Cinta pada Agama dan Bangsa

Momen tersebut membuktikan bahwa warga Batang memiliki literasi kebijakan publik yang tinggi. Mereka tidak diam ketika ada regulasi yang dirasa kurang pas dengan kearifan lokal (local wisdom). Spanduk-spanduk kreatif namun menohok bertebaran, menyuarakan jeritan hati para pegiat pendidikan Islam.

Poster Penolakan FDS
Suasana Demo Damai Batang
Masa Aksi Simpatik

Relevansi di Masa Kini: Kurikulum Merdeka

Seiring berjalannya waktu, dinamika kebijakan pendidikan terus berubah. Kini, dengan hadirnya Kurikulum Merdeka, fleksibilitas dalam metode pembelajaran semakin terbuka. Namun, semangat peristiwa 2017 tetap menjadi pengingat (reminder) bagi para pemangku kebijakan.

Pelajaran penting yang bisa diambil adalah bahwa setiap kebijakan nasional (national policy) harus mempertimbangkan dampak sosiologis di daerah. Kabupaten Batang dengan identitasnya sebagai "Kota Santri" membuktikan bahwa modernisasi pendidikan tidak boleh menggerus nilai-nilai tradisi yang positif.

💡 Jelajahi Batang Tempo Dulu

Selain sejarah pergerakan pendidikan, Batang juga menyimpan banyak cerita unik di masa lampau. Baca arsip menarik lainnya tentang Kegiatan di Alun-Alun Batang yang selalu menjadi pusat aktivitas warga.

Investasi Pendidikan untuk Masa Depan

Apa yang diperjuangkan oleh ribuan warga Batang kala itu adalah bentuk investasi jangka panjang. Mereka menyadari bahwa biaya pendidikan (education cost) bukan hanya soal uang SPP, melainkan juga investasi waktu untuk menanamkan moral agama.

Pendidikan agama di sore hari terbukti ampuh membentengi remaja dari kenakalan, pergaulan bebas, dan degradasi moral. Oleh karena itu, sinergi antara sekolah formal (pagi) dan sekolah diniyah (sore) adalah formula terbaik untuk mencetak generasi emas Indonesia yang berimtaq dan beriptek.

Mari kita jaga terus semangat kebersamaan ini. Bagi Anda yang memiliki kenangan tentang aksi damai tersebut, atau ingin berbagi pandangan mengenai sistem pendidikan saat ini, jangan ragu untuk berdiskusi dengan santun.

Dapatkan berita terbaru seputar kebijakan daerah, info wisata, dan ragam kuliner khas hanya di portal kebanggaan kita. Klik www.mbatang.com sekarang juga!