Misteri dan Pesona Telaga Hijau Krenggan: Wisata Alam Berbalut Mitos di Limpung Batang

Daftar Isi

Kecamatan Limpung selama ini dikenal sebagai "Kota Emping" dan pusat perekonomian di wilayah timur Kabupaten Batang. Namun, di balik hiruk-pikuk aktivitas pasarnya, tersimpan sebuah mutiara tersembunyi yang menawarkan ketenangan sekaligus nuansa mistis yang kental. Destinasi tersebut adalah Telaga Hijau Krenggan.

Terletak di Desa Pungangan, telaga ini bukan sekadar genangan air biasa. Ia adalah saksi bisu perpaduan antara keindahan alam yang asri dengan kearifan lokal (local wisdom) yang masih dijaga ketat oleh warga setempat. Bagi Anda yang sedang menjelajahi Kabupaten Batang, melewatkan lokasi ini berarti melewatkan salah satu cerita rakyat paling menarik di tanah Jawa.

Mengenal Desa Pungangan dan Dukuh Krenggan

Secara administratif, Telaga Hijau ini berada di Dukuh Krenggan (RW.02), Desa Pungangan, Kecamatan Limpung. Desa Pungangan sendiri merupakan wilayah yang cukup luas dan terbagi menjadi lima padukuhan utama, yaitu:

  • Dukuh Pungangan (RW.01)
  • Dukuh Krenggan (RW.02) - Lokasi Telaga
  • Dukuh Sengon (RW.03)
  • Dukuh Mojo (RW.04)
  • Dukuh Gowok (RW.05)

Dengan pembagian wilayah yang terstruktur hingga 17 RT, masyarakat Desa Pungangan dikenal guyub rukun. Kerukunan inilah yang kemudian melahirkan inisiatif untuk mengangkat potensi lokal mereka, salah satunya dengan mempromosikan Telaga Hijau sebagai destinasi wisata alternatif yang kini mulai ramai dikunjungi wisatawan lokal.

Pemandangan Telaga Hijau Krenggan Pungangan Limpung
Suasana tenang di Telaga Hijau, spot sempurna untuk melepas penat. (Foto: IG @sheilafebrian)

Mitos Politik: Tempat Mandi Para Calon Lurah

Daya tarik utama Telaga Hijau tidak hanya terletak pada warna airnya yang kehijauan memantulkan rimbunnya pepohonan, tetapi juga pada sejarah lisan yang melingkupinya. Usut punya usut, lokasi ini memiliki nilai sakral yang tinggi bagi masyarakat setempat.

Konon, di masa lalu, terdapat sebuah pohon beringin besar yang menaungi telaga. Di bawah pohon tersebut, terdapat pancuran air alami. Tempat ini dulunya bukan sekadar tempat mandi biasa, melainkan lokasi ritual bagi para kandidat pemimpin desa. Para Calon Lurah (Kepala Desa) yang hendak berkompetisi dalam pemilihan, dipercaya harus mandi atau mengambil air (ngangsu) di sini sebagai syarat spiritual agar terpilih dan mendapatkan wahyu kepemimpinan.

Meskipun zaman telah modern, cerita ini tetap lestari dan menambah aura wibawa pada Telaga Hijau. Ini membuktikan bahwa situs ini memegang peranan penting dalam struktur sosial-politik masyarakat Pungangan di masa lampau.

Spot Foto Instagramable di Telaga Hijau Limpung
Lanskap hijau yang menyejukkan mata. (Foto: IG @farariyani)

Tradisi 1 Suro: Ruwatan dan Pesta Rakyat

Aspek kebudayaan di Telaga Hijau Krenggan mencapai puncaknya setiap tanggal 1 Suro (Tahun Baru Jawa). Pada tanggal keramat ini, warga desa menggelar serangkaian ritual budaya yang menarik minat banyak pengunjung.

Ritual dimulai dengan prosesi Ruwatan, yaitu pengambilan air telaga yang dipercaya suci untuk membersihkan diri dari sengkala (kesialan). Acara ini tidak hanya bersifat ritualistik, tetapi juga menjadi pesta rakyat. Pertunjukan Wayang Kulit biasanya digelar semalam suntuk, ditemani dengan Pasar Jajan Rakyat yang menyajikan kuliner tradisional khas Batang.

Meskipun ritual mandi bersama di sendang pancuran kini mulai berkurang karena fasilitas MCK umum sudah tidak ada, esensi spiritual dari Telaga Hijau tidak pernah luntur. Tempat ini bertransformasi dari tempat pemandian umum menjadi situs cagar budaya dan wisata alam.

Wisatawan Menikmati Suasana Telaga Hijau
Spot foto favorit wisatawan lokal. (Foto: IG @farariyani)

Mitos Enteng Jodoh dan Wisata Kekinian

Selain ritual 1 Suro, ada satu mitos lagi yang membuat Telaga Hijau populer di kalangan muda-mudi, yaitu mitos "Enteng Jodoh". Warga desa mempercayai bahwa siapa saja yang mandi atau membasuh muka di Telaga Hijau dengan niat tulus, niscaya akan dilancarkan urusan asmaranya.

Terlepas dari benar atau tidaknya mitos tersebut, kini Telaga Hijau telah bersolek menjadi destinasi wisata kekinian. Pengelola desa dan pemuda setempat mulai menata kawasan ini menjadi lebih *instagramable*. Banyak pengunjung datang untuk bersantai, berselfie ria, atau sekadar menikmati angin sepoi-sepoi di tepi telaga.

Pengembangan wisata desa seperti ini juga terlihat di daerah lain di Limpung, salah satunya adalah Wana Wisata Polowono Desa Lobang. Ini membuktikan bahwa Potensi wisata Limpung sangat besar jika dikelola dengan baik oleh warga.

Kesimpulan

Telaga Hijau Krenggan di Pungangan, Limpung, adalah bukti bahwa Kabupaten Batang memiliki ragam wisata yang lengkap. Mulai dari pantai, pegunungan, hingga wisata berbasis mitos dan budaya. Mengunjungi tempat ini tidak hanya memberikan kesegaran visual, tetapi juga wawasan budaya tentang bagaimana masyarakat Jawa menghargai air sebagai sumber kehidupan.

Jika Anda berencana berkunjung, disarankan datang pada pagi atau sore hari untuk mendapatkan pencahayaan foto terbaik. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan dan menghormati adat istiadat setempat. Selamat berwisata!

Posting Komentar