Senam Sehat Bagi Penderita Diabet

Daftar Isi

BATANG – Diabetes Melitus (DM) sering disebut sebagai the silent killer atau pembunuh senyap karena gejalanya yang kerap tidak disadari hingga komplikasi muncul. Mengantisipasi hal tersebut, manajemen kesehatan melalui olahraga teratur menjadi kunci vital. Menyadari pentingnya edukasi kesehatan ini, LPPL (Lembaga Penyiaran Publik Lokal) Abirawa FM menggandeng Perkumpulan Senam Diabetes (PERSADIA) menyelenggarakan kegiatan Senam Diabetes yang ditujukan bagi penderita, pemerhati, maupun masyarakat umum di Kabupaten Batang.

Kegiatan ini bukan sekadar aktivitas fisik semata, melainkan sebuah gerakan moral untuk mengajak masyarakat tetap hidup sehat dan produktif meski hidup berdampingan dengan risiko diabetes. Acara yang berlangsung meriah ini digelar di Pendopo Dinas Perpustakaan Batang pada hari Minggu (10/12), menarik antusiasme tinggi dari warga lokal.

Senam Sehat Bagi Penderita Diabet Bersama PERSADIA Batang
Suasana Senam Diabetes yang diikuti antusias oleh warga dan anggota PERSADIA di Pendopo Dinas Perpustakaan Batang.

Pentingnya Stabilitas Gula Darah Melalui Gerak Tubuh

Dalam dunia medis, olahraga terukur seperti senam diabetes memiliki peranan krusial dalam manajemen glukosa darah. Hal ini ditegaskan oleh dr. Bekti Mastiadji, SpPK, seorang spesialis Patologi Klinik yang turut hadir mendampingi anggota PERSADIA dan para penggemar setia LPPL Abirawa FM.

“Kegiatan Senam Diabetes ini bukanlah program baru, melainkan gerakan nasional yang sudah dilakukan di seluruh Indonesia. Khusus untuk PERSADIA, rutinitas ini sudah berjalan konsisten sejak tahun 2003, setiap hari Minggu pagi,” tutur dr. Bekti di sela-sela kegiatan.

Lebih lanjut, dr. Bekti memberikan edukasi mendalam mengenai miskonsepsi yang sering beredar di masyarakat. Banyak yang mengira senam ini hanya untuk menurunkan gula darah secara drastis.

“Perlu dipahami bahwa senam ini dapat diikuti oleh seluruh kalangan, baik generasi muda maupun lansia. Mengapa? Karena penyakit diabetes saat ini tidak memandang usia, ia dapat menyerang siapa saja. Tujuan utama senam ini bukan semata-mata untuk menurunkan kadar gula secara instan, tetapi lebih kepada menstabilkan kadar gula darah dalam jangka panjang agar metabolisme tubuh tetap terjaga,” terangnya.

Dr Bekti Mastiadji mendampingi peserta senam diabetes

Komunitas Sebagai Pendukung Psikologis Pasien

Selain aspek fisik, aspek psikologis juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan penderita diabetes. Bergabung dengan komunitas seperti PERSADIA di Kabupaten Batang memberikan dukungan emosional yang kuat. Ketua PERSADIA, Imam Sujono, menjelaskan bahwa kegiatan komunitas tidak hanya terbatas pada olah fisik.

“Selain senam bersama, kami juga rutin mengadakan seminar kesehatan, terutama update informasi tentang penyakit diabetes, serta kegiatan santapan rohani. Ini penting untuk menjaga semangat hidup para anggota,” jelas Imam.

Imam juga membagikan testimoninya sebagai penderita diabetes yang telah lama bergabung dengan komunitas ini. Konsistensi adalah kunci utamanya.

“Saya sudah bergabung di PERSADIA dan mengikuti Senam Diabetes sejak tahun 2004. Hingga sekarang, saya masih rutin mengikuti senam dan merasakan manfaat yang luar biasa banyak. Tubuh terasa lebih bugar dan gula darah lebih terkontrol,” ucap Imam memberikan motivasi.

Ia sangat menyarankan agar para penderita diabetes di wilayah Batang dan sekitarnya untuk tidak ragu mengikuti Senam Diabetes dan rutin menjalani pemeriksaan kesehatan (Medical Check-Up) agar mengetahui profil kadar gula darah setiap saat.

Peserta Senam Diabetes Lansia di Batang

Tips Aman Berolahraga: Perhatikan Denyut Nadi

Olahraga bagi penderita diabetes dan lansia tentu memiliki aturan main tersendiri agar tidak menimbulkan cedera atau risiko kesehatan lainnya. Tri Laila, Instruktur Senam yang memandu acara tersebut, menyampaikan apresiasinya atas antusiasme peserta dari fans LPPL Abirawa FM.

“Setiap hari Minggu pagi saya melatih senam pada PERSADIA dan kelompok Dokter Keluarga. Khususnya bagi para lansia, melakukan kegiatan olahraga sangat membantu tubuh kita agar jauh dari penyakit komplikasi dan membantu menetralkan peredaran darah sehingga badan tetap sehat,” ujar Laila.

Namun, Laila memberikan tips kesehatan vital yang sering diabaikan: pengukuran denyut nadi sebelum berolahraga. Ini adalah indikator keselamatan yang wajib diperhatikan.

“Sebelum melakukan aktivitas senam, kita harus mengukur denyut nadi sesuai dengan standar medis. Normalnya, dalam kondisi istirahat atau sebelum latihan berat, denyut nadi berkisar antara 60 – 90 kali per menit. Jika denyut nadi sudah di atas 100, maka patut berhati-hati,” paparnya.

Instruktur Senam Memandu Gerakan

Laila menegaskan, memaksakan diri saat kondisi jantung bekerja terlalu keras justru berbahaya. “Jika denyut nadi mencapai lebih dari 100 dalam satu menitnya sebelum mulai, maka jangan memaksakan melakukan olahraga dan aktivitas yang terlalu berat. Sangat dianjurkan untuk beristirahat terlebih dahulu sampai kondisi stabil,” pungkasnya.

Melalui kolaborasi berbagai pihak di wilayah Batang ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan bahaya diabetes dan pentingnya gaya hidup aktif semakin meningkat. Kesehatan adalah investasi jangka panjang yang harus dijaga dengan disiplin, edukasi yang tepat, dan dukungan komunitas yang positif.

(Chacha/Mc Batang/Editor: Tim Mbatang)

Posting Komentar