Seruan STOP HIV/AIDS Mulai dari Sekarang
BATANG – Tantangan kesehatan global terkait penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) masih menjadi fokus utama pemerintah daerah. Memperingati Hari AIDS Sedunia, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang mengambil langkah agresif dengan menyelenggarakan Seminar Kesehatan bertema “Saya Berani Saya Sehat”. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus memutus mata rantai penularan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut.
Acara yang digelar di Pendopo Kabupaten Batang pada Sabtu (9/12) ini menghadirkan diskusi komprehensif antara pemerintah, praktisi medis, dan masyarakat. Hadir sebagai pembicara utama adalah Ketua Tim HIV/AIDS RSUP Dr. Kariadi Semarang, Dr. dr. Muchlis Ahsan Udji Sofro, Sp.PD-KPTI, yang didampingi oleh dr. Arif Rahman dan dr. Broto, Sp.PD. Kehadiran para pakar ini menegaskan keseriusan Batang dalam menangani isu kesehatan masyarakat ini.
Suasana Seminar Kesehatan Hari AIDS Sedunia di Pendopo Kabupaten Batang yang dihadiri elemen pemerintah dan pelajar.
Strategi S.T.O.P: Metode Ampuh Kendalikan HIV
Dalam paparannya, Dr. dr. Muchlis Ahsan Udji Sofro memperkenalkan pendekatan sistematis yang disebut S.T.O.P untuk menanggulangi penyebaran virus ini. Konsep ini dirancang agar mudah dipahami dan diaplikasikan oleh masyarakat awam maupun tenaga kesehatan.
- S (Suluh): Memberikan penyuluhan atau edukasi masif bahwa HIV adalah penyakit infeksi kronis yang bisa dikendalikan. Stigma bahwa HIV adalah "vonis mati" harus diubah. Dengan penanganan tepat, virus tidak akan berkembang menjadi AIDS.
- T (Temukan): Menggalakkan inisiatif untuk menemukan kasus baru sedini mungkin. Masyarakat didorong untuk berani melakukan tes VCT (Voluntary Counseling and Testing) tanpa rasa takut.
- O (Obati): Penggunaan obat Antiretroviral (ARV) sesegera mungkin bagi mereka yang terdiagnosis positif. ARV berfungsi menekan jumlah virus (viral load) dalam darah hingga tidak terdeteksi, sehingga sistem imun tetap terjaga.
- P (Pertahankan): Memastikan pengidap HIV (ODHA) mempertahankan kualitas hidupnya dengan pola hidup sehat, rutin minum obat, dan berpikir positif.
“Mari kita stop penularan HIV/AIDS mulai dari saat ini juga! Perlu diketahui HIV adalah infeksi virus. Selama sistem kekebalan tubuh kita bagus dan virus ditekan dengan ARV, seseorang bisa bertahan tanpa jatuh ke fase AIDS selama 5 hingga 12 tahun. Namun, kuncinya harus ditemukan terlebih dahulu melalui tes,” tegas Dr. Muchlis yang juga merupakan Konsultan Penyakit Tropik Infeksi (KPTI).
Kepala Dinas Kesehatan Kab. Batang, dr. Hidayah Basbeth, menekankan pentingnya menghapus stigma terhadap ODHA.
Menuju Target Nasional: Triple Zero 2030
Pemerintah Indonesia, selaras dengan target global WHO, menetapkan visi Triple Zero pada tahun 2030. Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kab. Batang, dr. Ani Rusdiani, menjelaskan rincian target ambisius tersebut dalam seminar ini.
“Melalui kegiatan ini, kita ingin menyukseskan tujuan nasional Triple Zero di tahun 2030, yaitu: Nol kasus baru HIV (Zero New Infection), Nol kematian akibat AIDS (Zero AIDS-related Deaths), dan Nol diskriminasi (Zero Discrimination),” jelas dr. Ani.
Dr. Ani juga meluruskan mitos yang salah kaprah di masyarakat tentang penularan. Ia menegaskan bahwa virus HIV tidak menular melalui interaksi sosial seperti berorganisasi, berolahraga bersama, bersalaman, atau bekerja dalam satu tim. Penularan hanya terjadi melalui cairan tubuh tertentu, seperti hubungan seksual berisiko (gonta-ganti pasangan), penggunaan jarum suntik bergantian, dan penularan dari ibu ke anak (melalui ASI atau proses kelahiran tanpa prosedur medis yang tepat).
Peran Pemerintah dan Penghapusan Stigma ODHA
Wakil Bupati Batang, Suyono, yang turut hadir dalam acara tersebut, menekankan aspek kemanusiaan dan dukungan psikologis. Menurutnya, perlindungan diri penting, namun empati terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) juga tak kalah krusial. Pemkab Batang di tahun ini telah meningkatkan anggaran penanggulangan HIV/AIDS dari Rp 500 juta menjadi Rp 600 juta sebagai bukti komitmen nyata.
“Jangan sampai kita tidak menolong secara psikologis, apalagi sampai menjauhi orang yang terkena penyakit AIDS. Sikap kita seharusnya memberikan motivasi agar mereka mempunyai semangat hidup untuk menatap masa depan yang lebih baik. Jauhi penyakitnya, bukan orangnya,” tutur Wakil Bupati dengan penuh penekanan.
Senada dengan Wakil Bupati, Kepala Dinkes dr. Hidayah Basbeth juga menyerukan penghentian diskriminasi sosial. Pengucilan terhadap ODHA justru akan membuat fenomena "gunung es", di mana penderita takut memeriksakan diri dan justru berpotensi menularkan virus secara tidak sadar karena tidak mendapatkan pengobatan.
Pendidikan Seksual dan Peran Generasi Muda
Sorotan khusus juga diarahkan kepada generasi muda, pelajar SMA/SMK yang hadir. Masa remaja adalah fase rentan terhadap perilaku berisiko. Dr. Muchlis berpesan agar remaja di Batang membentengi diri dengan nilai-nilai agama dan pengetahuan kesehatan reproduksi yang benar.
“Untuk generasi muda, jangan coba-coba. Kuncinya adalah hindari hubungan seks pra-nikah (abstinence), karena risiko penularan sangat tinggi. Dekatkan diri kepada Tuhan dan ikuti anjuran orang tua,” pesannya.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kab. Batang, Mudhofir, menambahkan bahwa tren penularan di daerah memang menunjukkan peningkatan. Oleh karena itu, KPA aktif menggandeng organisasi kepemudaan melalui Forum Generasi Peduli Aids (FGPA) dan Forum Remaja Sehat (FRS) untuk melakukan sosialisasi peer-to-peer (sesama teman sebaya).
Melalui sinergi antara kebijakan pemerintah daerah, keahlian medis dari RSUP Dr. Kariadi, dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan Kabupaten Batang dapat menjadi wilayah yang sehat dan bebas dari ancaman epidemi HIV/AIDS di masa depan.
(Heri/Mc Batang/Editor: Tim Mbatang)
Posting Komentar
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar