Refleksi Warga Batang: Jangan Sampai Kita Bagai Tikus Mati di Lumbung Padi

Daftar Isi

Pernahkah Anda mendengar pepatah lama yang berbunyi, "Bagai tikus mati di lumbung padi"?

Kalimat ini terdengar menyedihkan, namun sarat makna. Ia menggambarkan kondisi seseorang yang menderita kelaparan atau kesusahan, padahal ia berada di tempat yang sangat kaya dan berlimpah sumber daya.

kodim batang bersama masyarakat

Bagi kita masyarakat daerah—khususnya di Kabupaten Batang dan sekitarnya—pepatah ini adalah "alarm" peringatan yang keras. Jangan sampai kita menjadi tamu yang kebingungan atau justru kelaparan di tanah kelahiran kita sendiri yang kaya raya.

Ironi di Tengah Kelimpahan Sumber Daya Batang

Secara geografis dan ekonomi, daerah kita sebenarnya adalah "lumbung padi" dalam arti luas. Kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa yang seharusnya bisa menyejahterakan warganya, antara lain:

  • Potensi Kelautan: Garis pantai utara yang panjang dengan hasil laut melimpah.
  • Pertanian & Perkebunan: Tanah subur yang menghasilkan pangan berkualitas hingga komoditas ekspor.
  • Pariwisata: Keindahan alam "Paluggada" (Pantai, Laut, Gunung, Gadha) yang memikat wisatawan.
  • Investasi Industri: Masuknya Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan proyek strategis nasional lainnya.

Dengan segala potensi tersebut, secara logika, seharusnya tidak ada warga yang kesulitan ekonomi. Namun, realitanya sering kali berbeda. Masih banyak warga lokal yang hanya menjadi "penonton" saat sumber daya daerahnya dikelola oleh pihak luar.

Mengapa Fenomena Ini Bisa Terjadi?

Kondisi ibarat "tikus mati di lumbung padi" tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor internal yang sering membuat kita belum bisa menikmati hasil "lumbung" kita sendiri:

  1. Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM): Kesempatan kerja terbuka lebar, namun seringkali kualifikasi skill warga lokal belum memenuhi standar industri modern yang masuk.
  2. Kurang Kreatif Mengolah Potensi: Kita sering terbuai dengan menjual bahan mentah secara langsung daripada mengolahnya menjadi produk bernilai jual tinggi (hilirisasi skala UMKM).
  3. Mentalitas Pasif: Masih adanya budaya menunggu bantuan atau uluran tangan pemerintah tanpa berusaha menciptakan peluang usaha sendiri secara mandiri.

Mengubah Pola Pikir: Dari Penonton Menjadi Pemain

Agar kita tidak bernasib seperti tikus yang malang tersebut, perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Kita tidak bisa hanya menyalahkan keadaan. Lantas, apa yang harus kita lakukan?

  • Tingkatkan Kompetensi & Skill: Jangan ragu untuk belajar hal baru. Anak muda Batang harus melek teknologi dan bahasa asing agar bisa bersaing di rumah sendiri.
  • Cintai & Beli Produk Lokal: Dukung UMKM tetangga dan teman sendiri. Perputaran uang di lingkup lokal akan memperkuat ekonomi daerah secara nyata.
  • Jeli Melihat Peluang: Jangan hanya terpaku ingin bekerja di dalam pabrik, tapi lihatlah kebutuhan pekerjanya. Bisnis katering, binatu (laundry), jasa transportasi, atau kos-kosan adalah contoh cerdas memanfaatkan peluang dari industri yang masuk.

Kesimpulan

Kekayaan alam dan potensi daerah adalah anugerah Tuhan. Namun, kesejahteraan adalah hasil dari kerja keras dan kecerdasan manusianya dalam mengelola.

Mari kita pastikan bahwa kita adalah tuan rumah yang sejahtera di negeri sendiri. Jangan sampai lumbung padi penuh, tetapi kita mati kelaparan di atasnya hanya karena kita malas atau tidak tahu cara mengolahnya.

Posting Komentar