Kabupaten Batang Sudah Ada Sejak 1659

Perjalanan panjang lahirnya Kadipaten Batang 1614, setelah peperangan antara Mataram dan VOC di Batavia Pemerintahan Batang lemah saat ditinggalkan Sri Ratu Batang / Ratu Wetan / R. Ayu Prahila, kemudian dirubah oleh VOC, Batang dibawah Karisidenan Pekalongan kemudian menjadi sebuah Kabupaten yang berdiri sendiri tahun 1966, catatan demi catatan dikumpulkan untuk mencari keakuratan Kab.Batang semoga bisa terselesaikan dan cepat dibukukan, sedang Pangeran Mandurorejo sendiri dilantik jadi Adipati Batang thun 1614-1628 atas titah Sultan Agung. Adapun struktur pemerintahannya ketika VOC yang selalu ikut campur tangan disetiap Pemerintahan.

Pemerintahan Batang zaman Mataram thn 1614 Bupati Batang dulu yang pertama bernama Pangeran Mandurorejo, Pangeran Mandurorejo menjabat Bupati hanya setahun, kemudian digantikan oleh adiknya yang bernama Kyai Uposonto.Kemudian Kyai Uposonto menjadi Bupati Batang ke-2, Kyai Uposonto mempunyai anak bernama R.Ayu Prahilla,kemudian R.Ayu Prahilla diambil istri ke-2 oleh Sultan Agung, kemudian R.Ayu Prahilla berjuluk Sri Ratu Batang atau Ratu Wetan. Dari sinilah Sultan Agung dengan R.Ayu Prahillo/Sri Ratu Batang/Ratu Wetan menurunkan Amangkurat I Amangkurat II Amangkurat III

Kemudian terjadi palihan negari dalam perundingan Giyanti, kemudian Mataram pecah jadi 2 kemudian terbentuk antara Paku Buwono ( PB ) Solo dan Hamengku Buwono ( HB ) Jogjakarta. Darisinilah Sri Sultan Hamengku Buwono X, matur tentang pengakuan saat kunjungan ke-Batang pada acara Raja Raja Nusantara beberapa waktu yang lalu saat Bupati Batang di Jabat oleh Pak Yoyok, bahwa Beliau Sri Sultan Hamengku Buwono masih keturunan orang Batang. dan Sri Ratu Batang/R.Ayu Prahilla/Ratu Wetan dimakamkan dikomplek makam Raja2 Mataram di Imogiri Bantul Yogyakarta.

Cerita Sri Ratu Batang / Ratu Wetan / R. Ayu Prahila

Kab.Batang mempunyai wanita berkharisma, pemimpin sekaligus Pahlawan. R. Ayu Prahila pada saat itu dipersunting Sultan Agung kemudian mendapat gelar nama kebesaran yaitu kanjeng Sri Ratu Batang.

Pada saat ayahnya yang bernama Kyai Uposonto bupati Batang ke- 2, ditugaskan untuk menyokong prajurit Tumenggung Bahurekso ke Batavia, tampuk kepemimpinan Batang langsung diperintah oleh Kanjeng Sri Ratu Batang ( R.Ayu Prahila ) atas titah langsung dari Sultan Agung pada tahun 1628.

Kanjeng Sri Ratu Batang memberikan sumbangan logistik dan menghancur VOC yang lewat dijalur pantura dari Semarang ke barat karena Kab.Kendal pada saat itu terjadi kekosongan Pemerintahan karena Tumenggung Bahurekso sebagai bupati Kendal diberangakatkan ke Batavia sebagai Senopati Mataram.

Kanjeng Sri Ratu Batang adalah satu satu nya Bupati wanita di Kab.Batang. Sultan Agung sangat menyayangi Kanjeng Sri Ratu Batang ( R.Ayu Prahila ) walaupun hanya sebagai garwo padmi atau Selir, sebab itu anak dari pasangannya dijadikan Raja Mataram ke- VI yaitu Amangkurat Agung ( Amangkurat I ) yang makamnya ada di Tegal Arum- Tegal. Secara otomatis Raja Raja trah Mataram masih keturunan dari Batang. Kanjeng Sri Ratu Batang ( R.Ayu Prahila ) dimakamkan di Imogiri makam Raja Raja Mataram. Adapun Silsilahnya Kanjeng Sri Ratu Batang ( R.Ayu Prahila )

Berikut Ulasan Tentang Sultan Agung yang di kutip dari Wikipedia Indonesia

Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo (lahir: Mataram, 1593 - wafat: Mataram, 1645) adalah raja Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1613-1645. Di bawah kepemimpinannya, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara pada saat itu.Atas jasa-jasanya sebagai pejuang dan budayawan, Sultan Agung telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.

Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang.

Versi lain mengatakan, Sultan Agung adalah putra Pangeran Purbaya (kakak Prabu Hanyokrowati). Konon waktu itu, Pangeran Purbaya menukar bayi yang dilahirkan istrinya dengan bayi yang dilahirkan Dyah Banowati. Versi ini adalah pendapat minoritas sebagian masyarakat Jawa yang kebenarannya perlu untuk dibuktikan. Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri utama. Yaitu Ratu Kulon dan Ratu Wetan.

  • Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat atau "Pangeran Alit".
  • Sedangkan yang menjadi Ratu Wetan adalah putri Adipati BATANG (cucu Ki Juru Martani) yang melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I).

Artikel Kabupaten Batang Sudah Ada1659 di kutip dari Leonardo Dekat-priyo Wong Sudro Ing Tlatah Kutha mBatang. Begitulah sekilas benang merah Batang dengan raja-raja Mataram.

Reaksi:

Baca Juga

Simak

Show Disqus Comment Hide Disqus Comment

Disqus Comments