Menelusuri Jejak Sejarah Batang 1614: Darah Wong Batang di Nadi Raja-Raja Mataram

Daftar Isi

Batang – Banyak yang mengira Kabupaten Batang baru lahir di era kemerdekaan atau saat pemisahan dari Karesidenan Pekalongan pada tahun 1966. Padahal, jika ditarik benang merah sejarah yang lebih panjang, eksistensi Kadipaten Batang sudah tercatat sejak tahun 1614.

Lebih dari sekadar wilayah administratif, tanah Batang menyimpan rahasia besar tentang silsilah raja-raja Jawa. Tahukah Anda bahwa Raja-raja Kesultanan Mataram (Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta) memiliki garis keturunan langsung dari seorang putri asli Batang?

Silsilah Sejarah Batang Tempo Dulu

Arsip dokumen kuno yang mencatat eksistensi wilayah Batang.

Era Kepemimpinan Pangeran Mandurorejo (1614)

Sejarah mencatat, pemerintahan Batang di zaman Mataram Islam dimulai sekitar tahun 1614. Atas titah Sultan Agung Hanyokrokusumo, dilantiklah Pangeran Mandurorejo sebagai Bupati Batang yang pertama. Beliau memimpin wilayah ini pada periode krusial saat Mataram sedang gencar-gencarnya memperluas kekuasaan dan melawan kolonialisme VOC.

Setelah masa jabatan Pangeran Mandurorejo berakhir (sekitar tahun 1628 pasca penyerangan ke Batavia), tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada adiknya, yakni Kyai Uposonto. Di sinilah titik balik sejarah besar itu dimulai.

Kisah Sri Ratu Batang (Ratu Wetan)

Kyai Uposonto memiliki seorang putri yang cantik jelita dan berkharisma bernama R. Ayu Prahila. Kecantikan dan kecerdasan putri Batang ini memikat hati Sultan Agung, Raja terbesar Mataram. Sultan Agung kemudian mempersunting R. Ayu Prahila sebagai permaisuri kedua (Garwa Padmi) dengan gelar Ratu Wetan atau dikenal juga sebagai Sri Ratu Batang.

Ilustrasi R. Ayu Prahila Ratu Wetan

Ilustrasi R. Ayu Prahila, ibunda dari Amangkurat I.

Ratu Wetan bukan hanya sekadar pendamping raja. Beliau adalah sosok wanita tangguh, pemimpin, sekaligus pahlawan. Ketika ayahnya (Kyai Uposonto) dan Tumenggung Bahurekso (Bupati Kendal) berangkat ke Batavia untuk menggempur VOC pada tahun 1628, terjadi kekosongan pemerintahan di wilayah pesisir.

Atas titah Sultan Agung, Ratu Wetan mengambil alih kendali pemerintahan di Batang. Beliau berperan vital dalam mengamankan jalur logistik dan menghalau pergerakan VOC di jalur Pantura dari Semarang ke arah barat.

Darah Batang di Tahta Mataram

Pernikahan Sultan Agung dengan Ratu Wetan (Putri Batang) melahirkan seorang putra mahkota bernama Raden Mas Sayidin. Kelak, Raden Mas Sayidin naik tahta menggantikan ayahnya dan bergelar Amangkurat I (Sunan Tegal Arum).

Dari garis keturunan Amangkurat I inilah lahir Amangkurat II, Amangkurat III, hingga kemudian terjadi Perjanjian Giyanti (Palihan Nagari) yang memecah Mataram menjadi Kasunanan Surakarta (Pakubuwono) dan Kasultanan Yogyakarta (Hamengkubuwono).

"Fakta sejarah ini pernah dikonfirmasi langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam kunjungannya ke Batang pada acara pertemuan Raja-Raja Nusantara (saat era Bupati Yoyok Riyo Sudibyo), Ngarso Dalem mengakui bahwa beliau masih memiliki darah keturunan orang Batang."

Hingga kini, makam Kanjeng Sri Ratu Batang (Ratu Wetan) disemayamkan dengan hormat di Komplek Pemakaman Raja-Raja Mataram di Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Ini membuktikan betapa tingginya posisi putri Batang tersebut dalam struktur kerajaan Jawa.

Mengenal Sultan Agung Hanyokrokusumo

Untuk memahami konteks zaman tersebut, kita perlu mengenal Sultan Agung. Lahir dengan nama Raden Mas Jatmika (Raden Mas Rangsang), beliau memerintah Mataram pada tahun 1613-1645. Di bawah kepemimpinannya, Mataram mencapai puncak kejayaan menguasai hampir seluruh tanah Jawa.

Sultan Agung memiliki dua permaisuri utama:

  • Ratu Kulon: Putri Sultan Cirebon, melahirkan Pangeran Alit.
  • Ratu Wetan: Putri Adipati Batang (Cucu Ki Juru Martani), melahirkan Amangkurat I.
Baca Juga: Ingin tahu lebih banyak tentang asal muasal nama daerah kita? Simak artikel Asal Usul Nama Kota mBatang yang penuh misteri.

Sejarah ini disusun berdasarkan catatan dari saudara Leonardo Dekat-priyo Wong Sudro Ing Tlatah Kutha mBatang. Semoga catatan ini menyadarkan kita bahwa Kabupaten Batang bukanlah daerah pinggiran biasa, melainkan tanah leluhur para raja yang memiliki andil besar dalam sejarah Nusantara.

Posting Komentar