Nostalgia Layar Tancap Batang: Dari Wangi Kacang Godok hingga Bandar Kutuk
Masih ingatkah Anda dengan suara genset yang menderu di kejauhan, sorot lampu proyektor yang membelah langit malam yang berdebu, dan riuh rendah suara penonton yang duduk beralaskan koran bekas atau sandal jepit?
Bagi Wong Batang yang tumbuh di era 80-an hingga awal 2000-an, momen menonton Layar Tancap adalah hiburan termewah pada zamannya. Jauh sebelum era Netflix atau bioskop modern masuk ke kota kita, layar putih raksasa yang dibentangkan di lapangan terbuka adalah magnet yang menyatukan seluruh warga kampung.
Mari kita putar ulang waktu sejenak, mengenang masa-masa indah itu di mbatang.com.
Proyonanggan Fair dan Alun-Alun: Episentrum Hiburan Rakyat
Dulu, agenda wajib yang paling ditunggu-tunggu adalah Proyonanggan Fair atau keramaian di Alun-Alun Batang. Kalau sudah ada kabar bakal ada layar tancap (sering disebut misbar – gerimis bubar), rasanya semangat belajar di sekolah langsung hilang, digantikan rasa tidak sabar menunggu malam tiba.
Film-film yang diputar biasanya film laga Indonesia, film India, atau film horor Suzanna yang melegenda. Kualitas gambarnya? Jangan tanya. Seringkali kepyur (banyak bintik), suaranya kadang timbul tenggelam, bahkan pitanya putus di tengah adegan seru. Tapi anehnya, tidak ada yang protes. Semua menikmati dengan khidmat.
Wangi Kacang Godok dan Asap Rokok Klembak Menyan
Nonton layar tancap di Batang belum sah tanpa amunisi kuliner sederhana. Bukan popcorn mahal seperti di mall, melainkan kacang godok (kacang rebus) yang masih mengebul hangat.
Di sela-sela adegan film Barry Prima yang sedang baku hantam, tangan kita sibuk mengupas kulit kacang yang basah. Di sekeliling, wangi kacang rebus bercampur baur dengan aroma rokok klembak menyan milik bapak-bapak yang duduk bersila. Suasana ini menciptakan aroma khas "pasar malam" yang sulit ditemukan di zaman sekarang.
Sisi Lain: Sudut Gelap Para Bandar 'Kutuk'
Nah, ini dia bagian yang paling ikonik dan mungkin agak "nakal" dari kenangan layar tancap di Batang. Di balik kerumunan warga yang menonton film, biasanya di sudut lapangan yang agak gelap atau di balik terpal warung, ada kehidupan lain yang tak kalah ramai.
Ya, para bandar Kutuk (sejenis judi dadu tebak angka/gambar) atau kopyok.
Cahaya remang-remang dari lampu uplik atau lilin menerangi papan bergambar gajah, harimau, atau angka-angka. Suara dadu yang dikocok dalam tempurung kelapa atau kaleng menjadi backsound tandingan dari suara film.
"Ayo pasang, pasang, abang ireng, ganjil genap!"
Bagi anak kecil zaman dulu, melihat kerumunan bapak-bapak yang sedang "adu nasib" ini adalah pemandangan yang misterius sekaligus menegangkan. Seringkali ada yang pulang membawa uang kemenangan buat beli sate, tapi lebih banyak yang pulang dengan wajah cemberut karena uang jatah belanja istri ludes di lapak kutuk.
"Sultan" Kampung yang Nanggap Layar Tancap
Selain di Proyonanggan Fair atau alun-alun, layar tancap juga menjadi simbol status sosial di acara hajatan. Dulu, orang yang punya hajat sunatan atau nikahan dan bisa "nanggap" layar tancap, otomatis dianggap orang kaya alias "Sultan Kampung".
Halaman rumah si punya hajat akan berubah jadi lautan manusia. Tetangga satu desa, bahkan desa sebelah, akan tumpah ruah tanpa perlu undangan. Di momen inilah kebersamaan warga Batang benar-benar terasa. Tidak ada sekat kaya miskin, semua duduk sama rendah mendongak ke layar yang sama.
Penutup: Rindu yang Tak Tergantikan
Sekarang zaman sudah berubah. Layar tancap sudah digantikan oleh layar smartphone di genggaman masing-masing. Proyonanggan Fair mungkin masih ada, tapi rasanya sudah berbeda. Lapak kutuk pun sudah menjadi cerita masa lalu yang dilarang.
Namun, kenangan duduk berhimpitan, makan kacang godok, sambil sesekali mengintip lapak dadu di kegelapan malam, akan selalu menjadi memori manis bagi generasi Batang tempo dulu.
Sobat mbatang.com, apa kenangan paling berkesan kalian saat nonton layar tancap? Tulis di kolom komentar ya!
Posting Komentar
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar