Warga Pranten Diajak "Berkawan" dengan Longsor, Ini Strategi BPBD Batang
BATANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang terus mengintensifkan langkah mitigasi bencana, khususnya di wilayah rawan tanah longsor seperti Desa Pranten, Kecamatan Bawang. Mengingat kontur wilayah pegunungan yang ekstrem, pendekatan edukasi menjadi kunci utama untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, terlebih saat memasuki puncak musim penghujan.
Kepala Pelaksana BPBD Batang, Wawan Nurdiansyah, menegaskan bahwa pemahaman mitigasi bencana sangat krusial bagi warga yang bermukim di zona merah. Tujuannya agar masyarakat memiliki kemampuan adaptasi atau "hidup berdampingan" dengan potensi ancaman alam tersebut.
Dilema Relokasi dan Kearifan Lokal
Menurut Wawan, meski relokasi penduduk merupakan solusi teknis paling ideal untuk menghindari risiko, realisasinya di lapangan seringkali terbentur kendala sosial. Ikatan emosional warga dengan tanah kelahiran serta faktor mata pencaharian menjadi alasan utama masyarakat enggan berpindah.
“Relokasi memang ideal, namun praktiknya kompleks karena menyangkut sumber penghidupan warga. Oleh karena itu, strategi kami bergeser pada peningkatan kewaspadaan dini,” ujar Wawan di Kantor BPBD Batang, Selasa (13/1/2026).
Sebagai informasi, update berita terkini seputar Kabupaten Batang juga dapat Anda pantau terus untuk mengetahui perkembangan situasi di wilayah rawan bencana lainnya.
Kesadaran Mandiri Warga Pranten
Edukasi yang konsisten mulai menampakkan hasil positif. Wawan mencontohkan kesadaran warga di Dukuh Rejosari, Desa Pranten. Sebanyak delapan Kepala Keluarga (KK) di wilayah tersebut kini memiliki inisiatif mandiri untuk mengungsi ke rumah kerabat saat curah hujan tinggi, dan baru akan kembali saat kondisi dinilai aman di musim kemarau.
“Ini adalah bentuk mitigasi partisipatif yang patut diapresiasi. Mereka tidak lagi menunggu instruksi, tapi sudah paham kapan harus evakuasi demi keselamatan keluarga,” tambahnya.
Akselerasi Desa Tangguh Bencana (Destana)
Selain edukasi personal, BPBD Batang juga mendorong penguatan kelembagaan melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana). Program ini bertujuan menciptakan kemandirian desa dalam penanggulangan bencana, mulai dari prabencana hingga pascabencana.
Wawan merinci, sebuah Destana harus memiliki infrastruktur mitigasi yang memadai, meliputi:
- Tim relawan desa yang terlatih.
- Peta risiko dan kerawanan bencana.
- Basis data warga di zona rawan.
- Jalur evakuasi dan titik kumpul yang jelas.
Hingga saat ini, tercatat baru sekitar 40 persen atau 90-100 desa dari total 248 desa/kelurahan di Kabupaten Batang yang telah berstatus Destana. Anda bisa melihat potensi desa-desa lain di Batang melalui ulasan di Mbatang.com.
Bantuan Logistik dan Jaringan Komunikasi Darurat
Sebagai dukungan konkret bagi Desa Pranten, BPBD Batang telah menyalurkan bantuan logistik operasional posko berupa matras, terpal, dan tempat tidur lipat (velbed).
Tak hanya logistik, aspek komunikasi juga menjadi perhatian serius. Mengingat sulitnya sinyal seluler di wilayah pegunungan Pranten, BPBD telah mengaktifkan kembali dan menata ulang frekuensi radio komunikasi (HT).
“Dalam kondisi darurat, informasi adalah nyawa. Karena sinyal seluler terbatas, kami andalkan HT sebagai sarana komunikasi utama untuk koordinasi cepat antar relawan dan petugas,” pungkas Wawan.

Posting Komentar
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar