Khotmil Qur’an dan Buka Bersama Warnai Penutupan KKN MIT UIN Walisongo di Wonokerso

Daftar Isi

MBATANG.COM – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT UIN Walisongo Semarang di Desa Wonokerso resmi berakhir setelah berlangsung selama 45 hari. Penutupan kegiatan pengabdian tersebut ditandai dengan acara Khotmil Qur’an dan buka bersama yang digelar di Masjid Al-Hidayah, Rabu (28/2/2026).

Kegiatan ini menjadi momen istimewa sekaligus simbol rasa syukur atas terselenggaranya berbagai program kerja mahasiswa selama menjalankan pengabdian di tengah masyarakat desa. Acara berlangsung dengan suasana khidmat namun tetap hangat, dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga yang selama ini terlibat aktif dalam berbagai kegiatan bersama mahasiswa.

Selama hampir satu setengah bulan, mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo tidak hanya menjalankan program akademik semata, tetapi juga membangun hubungan sosial yang erat dengan masyarakat. Melalui berbagai kegiatan pemberdayaan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan, mahasiswa berupaya memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan Desa Wonokerso.

45 Hari Pengabdian di Desa Wonokerso Mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Tutup Kegiatan dengan Khotmil Qur’an dan Buka Bersama

Khotmil Qur’an Menjadi Pembuka Acara Penutupan

Rangkaian acara penutupan dimulai pada pukul 16.00 WIB dengan pelaksanaan khotmil Qur’an. Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih satu jam hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Prosesi khataman Al-Qur’an dilaksanakan dengan metode satu orang satu juz. Setiap jamaah yang hadir diberikan bagian bacaan Al-Qur’an hingga seluruh 30 juz berhasil diselesaikan secara bersama-sama.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Alfin selaku Koordinator Khataman yang memastikan jalannya pembacaan berlangsung tertib, terkoordinasi, serta penuh kekhusyukan.

Suasana Masjid Al-Hidayah pun terasa sangat religius. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan secara bergantian menghadirkan nuansa spiritual yang mendalam, sekaligus menjadi bentuk rasa syukur atas kelancaran kegiatan KKN selama 45 hari.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini bukan sekadar seremoni penutupan, tetapi juga menjadi refleksi perjalanan pengabdian yang penuh pengalaman dan pembelajaran.

Paparan Program Kerja Mahasiswa Selama Pengabdian

Setelah khotmil Qur’an selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Reyhan Zhafar selaku Koordinator Mahasiswa (Korma) Tim KKN Karsa Wonokerso.

Dalam sambutannya, Reyhan memaparkan berbagai program kerja yang telah dilaksanakan selama masa pengabdian di Desa Wonokerso.

Menurutnya, kegiatan KKN tidak hanya berfokus pada satu bidang saja, tetapi mencakup berbagai sektor penting yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat desa.

Beberapa program yang telah dilaksanakan antara lain:

  • Pendampingan pendidikan bagi anak-anak dan pelajar
  • Kegiatan kebersihan lingkungan dan edukasi pengelolaan sampah
  • Pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan sosial
  • Pelatihan keterampilan bagi warga desa
  • Kegiatan keagamaan dan pembinaan spiritual masyarakat

Berbagai kegiatan tersebut mendapatkan respon positif dari masyarakat. Warga desa tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi juga terlibat langsung dalam pelaksanaan program bersama mahasiswa.

Reyhan juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat Desa Wonokerso yang telah memberikan dukungan penuh selama mahasiswa menjalankan program pengabdian.

“Kami merasa sangat diterima oleh masyarakat. Selama 45 hari ini kami bukan hanya menjalankan program kerja, tetapi juga belajar banyak dari kehidupan dan kebersamaan warga desa,” ungkapnya.

Baca juga: Program KKN Mahasiswa yang Memberikan Dampak Nyata bagi Desa

Apresiasi Pemerintah Desa terhadap Kontribusi Mahasiswa

Apresiasi terhadap kegiatan mahasiswa juga disampaikan oleh Bapak Anton selaku Penjabat (PJ) Kepala Desa Wonokerso.

Dalam sambutannya, ia menilai keberadaan mahasiswa KKN memberikan manfaat nyata bagi pemerintah desa maupun masyarakat.

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya membawa ide-ide baru, tetapi juga turut membantu berbagai kegiatan sosial serta program pembangunan desa.

“Mahasiswa KKN sangat membantu kegiatan desa. Mereka ikut terlibat dalam berbagai aktivitas masyarakat, bahkan membantu pengadaan fasilitas yang bermanfaat bagi warga,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan KKN seperti ini dapat terus berlanjut di masa mendatang karena memberikan dampak positif bagi perkembangan desa.

Kehadiran mahasiswa di desa dinilai mampu mendorong semangat partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan pembangunan.

Artikel terkait: Peran Mahasiswa KKN dalam Mendukung Pembangunan Desa

Kesan Mendalam Mahasiswa Selama Tinggal di Desa

Pada kesempatan tersebut, Reynald selaku Ketua Acara Perpisahan turut menyampaikan kesan dan pesan selama menjalani masa pengabdian di Desa Wonokerso.

Ia mengungkapkan bahwa pengalaman tinggal bersama masyarakat desa memberikan banyak pelajaran berharga bagi mahasiswa.

Selama menjalani kegiatan KKN, mahasiswa tidak hanya berinteraksi dalam kegiatan formal saja, tetapi juga ikut merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Kami sering diajak mengikuti kegiatan warga, mulai dari kerja bakti hingga kegiatan sosial lainnya. Bahkan tidak jarang masyarakat memberikan bahan makanan atau hidangan kepada kami. Hal tersebut membuat kami merasa seperti keluarga sendiri,” ujarnya.

Kebersamaan tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mahasiswa karena memberikan pemahaman langsung mengenai kehidupan masyarakat desa.

Kultum dan Penayangan After Movie Perjalanan KKN

Menjelang waktu berbuka puasa, acara dilanjutkan dengan kultum yang disampaikan oleh Bapak Muh Tumari.

Dalam ceramah singkatnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk terus menjaga nilai kebersamaan, gotong royong, serta memperkuat hubungan silaturahmi antarwarga.

Ia juga mengingatkan bahwa semangat pengabdian seperti yang dilakukan mahasiswa KKN perlu terus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain kultum, mahasiswa juga menayangkan after movie yang berisi dokumentasi perjalanan kegiatan selama 45 hari.

Video tersebut menampilkan berbagai momen kebersamaan mahasiswa dengan masyarakat, mulai dari kegiatan pendidikan, program sosial, hingga berbagai kegiatan yang dilakukan bersama warga.

Penayangan video tersebut menjadi salah satu momen yang paling berkesan karena mengingatkan kembali perjalanan kebersamaan yang telah dilalui.

Simak juga: Kegiatan Sosial Mahasiswa yang Memberikan Dampak Positif bagi Masyarakat

Pemotongan Tumpeng Simbol Rasa Syukur

Sebelum memasuki waktu berbuka puasa, acara dilanjutkan dengan prosesi pemotongan tumpeng.

Tradisi pemotongan tumpeng ini menjadi simbol rasa syukur atas selesainya masa pengabdian mahasiswa di Desa Wonokerso.

Prosesi tersebut juga menjadi tanda kebersamaan antara mahasiswa dan masyarakat yang selama ini telah terjalin dengan baik.

Momen ini terasa cukup emosional bagi sebagian mahasiswa karena menandai berakhirnya masa kebersamaan mereka dengan warga desa.

Buka Bersama diikuti Ratusan Warga

Acara kemudian dilanjutkan dengan kegiatan buka bersama yang diikuti oleh sekitar 200 tamu undangan.

Menariknya, seluruh hidangan berbuka disiapkan langsung oleh mahasiswa KKN.

Ayun selaku Koordinator Konsumsi mengungkapkan bahwa proses persiapan makanan sempat menjadi tantangan tersendiri bagi timnya.

“Kami harus menyiapkan makanan untuk ratusan orang, tentu cukup menantang. Namun berkat kerja sama tim, semua dapat berjalan lancar,” ujarnya.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan dalam persiapan, acara buka bersama berlangsung dengan penuh kebersamaan dan kehangatan.

Mahasiswa dan warga desa menikmati hidangan berbuka sambil berbincang santai, menciptakan suasana kekeluargaan yang begitu terasa.

Harapan Mahasiswa Setelah Masa KKN Berakhir

Berakhirnya program KKN tidak berarti berakhir pula hubungan antara mahasiswa dan masyarakat Desa Wonokerso.

Melalui kegiatan penutupan ini, mahasiswa berharap hubungan silaturahmi yang telah terjalin dapat terus terjaga di masa mendatang.

Pengalaman selama menjalankan pengabdian di desa diharapkan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa dalam menjalani kehidupan sosial maupun profesional ke depan.

Program KKN sendiri merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga memahami langsung dinamika kehidupan masyarakat serta pentingnya kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.

Kenangan selama 45 hari di Desa Wonokerso pun akan menjadi cerita yang selalu dikenang oleh para mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Semarang.

Posting Komentar