Transformasi THR Kramat Batang: Antara Nostalgia Panggung Hiburan
Dalam sejarah tata kota dan perkembangan pariwisata di Kabupaten Batang, nama Taman Hiburan Rakyat (THR) Kramat pernah menduduki posisi istimewa. Terletak di kawasan Dracik, Proyonanggan, tempat ini pernah menjadi denyut nadi hiburan masyarakat Batang pada masanya.
Namun, layaknya roda kehidupan yang berputar, popularitas THR Kramat kini mengalami fase surut. Bak mentari yang perlahan terbenam di ufuk barat, kemeriahan yang dulu membahana kini berganti menjadi kesunyian. Artikel ini akan mengupas tuntas sejarah, kondisi terkini, serta potensi besar yang tersembunyi di balik dinding-dinding tuanya.
Mengenang Masa Keemasan: Orkes Melayu dan Bunga Padma
Bagi generasi lama, THR Kramat bukan sekadar taman biasa. Dulu, setiap hari Jumat Kliwon, tempat ini berubah menjadi lautan manusia. Panggung hiburan yang megah selalu rutin menggelar pertunjukan Orkes Melayu maupun hiburan rakyat lainnya. Antusiasme warga sangat tinggi, bahkan tak jarang artis-artis Ibukota pernah menjejakkan kaki untuk menghibur masyarakat Batang di tempat ini.
Selain aspek audio (musik), aspek visual taman ini dulu sangat memanjakan mata. Salah satu ikon yang paling dirindukan adalah keberadaan kolam besar yang dipenuhi oleh Bunga Padma (Teratai). Pemandangan bunga teratai yang mekar di atas air memberikan nuansa asri dan romantis, menjadikan THR Kramat sebagai lokasi favorit untuk wisata keluarga maupun pasangan muda-mudi yang ingin menikmati sore.
Realita Terkini: Tantangan Revitalisasi Aset Daerah
Sayangnya, potret indah masa lalu tersebut kini mulai pudar. Pasca beberapa kali renovasi, wajah THR Kramat justru dirasa sebagian warga menjadi "hampa". Kolam yang dulunya indah, kini seringkali terlihat kering karena saluran irigasi yang dibuka atau tidak lancar.
Kondisi fisik kolam di sisi selatan kini banyak ditumbuhi rerumputan liar, sementara di sisi utara tak jarang hanya menyisakan genangan lumpur. Panggung hiburan yang dulu riuh rendah dengan suara sound system, kini berdiri sunyi bak gedung tua yang merindukan tepuk tangan penonton.
Lebih memprihatinkan lagi, kurangnya penerangan dan pengawasan di masa lalu sempat membuat area ini disalahgunakan oleh oknum tak bertanggung jawab. Tepian sungai yang rimbun dan sudut-sudut taman yang gelap kerap dimanfaatkan untuk kegiatan yang melanggar norma susila. Hal ini tentu menjadi "pekerjaan rumah" (PR) besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengembalikan citra positif Taman Hiburan Kramat sebagai ruang publik yang aman dan edukatif.
Harapan Baru: Taman Koleksi Tanaman Pewarna Alam
Namun, di tengah kritik dan kondisi yang memprihatinkan, terdapat satu titik cahaya yang membawa harapan baru. THR Kramat ternyata menyimpan potensi edukasi botani yang luar biasa. Dinas terkait telah melakukan inisiatif brilian dengan menanam berbagai jenis bibit pohon langka yang berfungsi sebagai Tanaman Pewarna Alam.
Keberadaan tanaman pewarna alam memiliki nilai ekonomi tinggi (High Value) dalam industri tekstil ramah lingkungan (Eco-Fashion) dan Batik. Ini bisa menjadi pusat studi bagi pelajar dan pengrajin batik di Batang.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, terdapat koleksi tanaman yang namanya mungkin jarang didengar oleh telinga orang awam, namun memiliki nilai konservasi tinggi, antara lain:
- Sri Gading & Cendana: Tanaman yang dikenal dengan aromanya.
- Kasumba & Soga: Bahan utama pewarna alami batik klasik.
- Lobe-lobe Laut & Sapu Angin: Tanaman pesisir yang eksotis.
- Pronojiwo & Kantil Wangi: Tanaman yang sering dikaitkan dengan jamu dan tradisi.
- Koleksi Lainnya: Ri Serepan, Gurah, Secan, Bunga Telang, Wora-Wari, Kepundung, Plasa, Mundu, dan Bisbol Bodis.
Keberadaan "Arboretum Mini" ini membuktikan bahwa THR Kramat sedang bertransformasi. Bukan lagi sekadar tempat hura-hura, melainkan menuju fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang edukatif. Ini adalah bentuk perhatian pemerintah yang patut diapresiasi dan didukung.
Membangun Sinergi Pemerintah dan Masyarakat
Menatap masa depan, revitalisasi THR Kramat tidak bisa hanya digantungkan pada pundak pemerintah daerah semata. Diperlukan kolaborasi aktif (Public-Private Partnership) antara Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup, dan masyarakat sekitar.
Sebagai warga Batang yang baik, pola pikir (mindset) harus diubah. Daripada sekadar mengeluh melihat kondisi yang ada, masyarakat bisa berkontribusi dengan cara:
- Menjaga Kebersihan: Tidak membuang sampah sembarangan di area taman dan sungai.
- Pengawasan Sosial: Ikut mencegah penyalahgunaan taman untuk hal-hal negatif.
- Promosi Kreatif: Anak muda bisa mempromosikan koleksi tanaman langka tersebut melalui media sosial sebagai spot foto edukatif.
Dengan pengelolaan yang profesional, THR Kramat berpotensi besar kembali menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang signifikan, baik dari sektor pariwisata, edukasi, maupun konservasi lingkungan.
Semoga ke depannya, panggung hiburan kembali bergema dengan pentas seni budaya, dan kolam kembali jernih memantulkan bayangan bunga teratai. Mari kita jaga aset daerah ini agar tidak hanya menjadi kenangan, tetapi menjadi kebanggaan masa depan.
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar