Menelusuri Jejak Kuno Desa Masin: Dari Legenda Raja Sanna, Catatan Fa Hian, hingga Sentra Kulit

Daftar Isi

Batang – Di Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, terdapat sebuah desa yang tidak hanya dikenal karena denyut ekonominya, tetapi juga menyimpan misteri sejarah yang agung. Desa tersebut adalah Desa Masin. Berlokasi strategis di antara Desa Gapuro dan Desa Cepagan, Masin kini tersohor sebagai sentra industri kerajinan kulit terbesar di Kabupaten Batang.

Namun, tahukah Anda? Di balik kesibukan para pengrajin kulit hari ini, tersimpan narasi sejarah panjang yang menghubungkan desa ini dengan cikal bakal Kerajaan Mataram Kuno hingga catatan pelaut Tiongkok abad ke-4 Masehi.

Sejarah Desa Masin Warungasem Batang

Ilustrasi: Jejak peradaban lama yang kini menjadi pusat industri kulit.

Etimologi: Dari "Maha Sanna" Menjadi Masin

Nama "Masin" diyakini bukan sekadar nama tanpa makna. Berdasarkan penelusuran sejarah lokal yang dikaitkan dengan Prasasti Canggal (732 M), nama desa ini memiliki kaitan erat dengan sosok Raja Sanjaya dan pendahulunya, Raja Sanna.

Dalam sejarah Mataram Kuno (Mataram Hindu), dikenal seorang raja yang sangat masyhur dan bijaksana bernama Raja Sanna. Kebesaran namanya membuat ia dijuluki "Maha Sanna" (Sanna yang Agung). Lidah masyarakat setempat yang mengalami evolusi bahasa selama berabad-abad mengubah pengucapan Maha Sanna menjadi Mahasin, dan akhirnya dipendekkan menjadi Masin.

Teori ini memunculkan dugaan kuat: Apakah wilayah Warungasem ini dahulunya merupakan pusat pemerintahan atau setidaknya wilayah penting bagi Kerajaan Mataram Kuno di bawah pimpinan Raja Sanna?

Baca Juga: Sejarah pesisir Batang memang penuh misteri. Simak juga kaitan sejarah lainnya di kawasan pantai: Sejarah dan Mitos Pantai Ujung Negoro Batang.

Mahasin dalam Catatan Fa Hian (Abad 4 M)

Bukti lain yang menguatkan tuanya peradaban di Masin adalah catatan perjalanan musafir Tiongkok bernama Fa Hian. Pada abad ke-4 Masehi, dalam perjalanannya mengarungi laut Nusantara, Fa Hian mencatat sebuah pelabuhan singgah bernama Mahasin.

Dalam catatannya, Fa Hian menggambarkan "Mahasin" sebagai tempat yang makmur:

  • Terdapat pasar yang ramai dengan aktivitas jual beli.
  • Pemimpin Mahasin digambarkan sebagai Pangeran gagah yang mengenakan pakaian indah.
  • Sang Pangeran diiringi pengawal yang membawa payung kertas dan kotak sirih pinang.
  • Yang paling menarik, Pangeran tersebut dicatat mengenakan terompah (alas kaki) dari kulit hewan untuk melindungi kaki dari karang tajam.

Detail mengenai "terompah kulit" ini menjadi benang merah yang menakjubkan. Keahlian mengolah kulit yang dimiliki warga Desa Masin saat ini diduga kuat merupakan keterampilan turun-temurun (warisan genetik budaya) yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mahasin kuno tersebut.

Geografi Purba: Saat Batang Masih Lautan

Mungkin Anda bertanya, "Masin kan jauh dari laut, bagaimana bisa Fa Hian singgah dengan kapal?"

Jawabannya terletak pada sedimentasi selama ratusan tahun. Dahulu, garis pantai utara Pulau Jawa jauh lebih menjorok ke selatan (daratan) dibanding sekarang. Jika ditarik garis imajiner dari Pantai Ujungnegoro ke barat hingga titik Masin, maka wilayah tersebut dulunya adalah garis pantai.

Desa-desa yang sekarang berada di utara seperti Tegalsari (Kandeman), Sambong, Klidang, Karangasem, Denasri, Kalipucang, Proyonanggan, Kasepuhan, hingga Kauman, dulunya adalah kawasan perairan dangkal atau lautan. Bukti geologisnya sederhana: jika menggali sumur di daerah-daerah tersebut pada kedalaman tertentu, kita akan menemukan lapisan pasir laut dan cangkang kerang. Ini membuktikan bahwa Masin dulunya adalah pelabuhan atau kota pesisir.

Perubahan bentang alam ini juga mempengaruhi pola pemukiman warga Batang modern. Lihat bagaimana perkembangan infrastruktur Batang saat ini di artikel: Jejak Sejarah Kabupaten Batang Sejak Tahun 1659.

Desa Masin Hari Ini: Sentra Kulit

Kini, kejayaan masa lalu itu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi. Desa Masin dikenal luas sebagai desa industri penyamakan kulit. Produk olahannya mulai dari tas, ikat pinggang, sepatu, hingga dompet telah merambah pasar nasional.

Keunikan ini menjadikan Desa Masin satu-satunya sentra kulit di Batang, yang mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah dalam hal pembinaan, pelatihan, dan pemasaran. Jalan akses yang menghubungkan Batang/Pekalongan menuju Bandar, Reban, hingga tembus ke Dieng/Yogyakarta menjadikan desa ini sangat potensial sebagai destinasi wisata sejarah dan belanja.

Penemuan keramik Cina kuno di wilayah ini juga semakin mempertegas bahwa di masa lalu, Masin adalah kawasan elit tempat bermukimnya para bangsawan dan saudagar kaya.

Ingin berburu produk kulit atau mencari oleh-oleh khas Batang lainnya? Cek informasinya di: Daftar Toko dan Pusat Oleh-Oleh yang Ada di Batang.

Referensi: Catatan Sejarah Lokal & Kiriman Saudara Sekawan Sukses Makmur di Grup Facebook Batang Berkembang.

Posting Komentar