Tradisi Lomban Klidang Lor: Pesta Rakyat di Sungai Sambong dan Catatan Kritis Lingkungan
Batang – Setiap momen Syawalan (seminggu setelah Lebaran), masyarakat Kabupaten Batang, khususnya di kawasan pesisir Klidang Lor, memiliki hajatan besar yang dikenal dengan sebutan Lomban atau Lomba Dayung Tradisional.
Bukan sekadar olahraga air, Lomban telah menjadi tradisi turun-temurun yang sangat bergengsi. Ribuan warga akan memadati bantaran Sungai Sambong, bahkan rela berdesakan di bawah jembatan demi menyaksikan tim kesayangan mereka beradu kecepatan membelah air sungai.
Suasana start lomba dayung di Sungai Sambong yang selalu dipadati penonton.
Adu Gengsi Tim Dayung Lokal
Kompetisi ini bukan main-main. Para peserta biasanya dikenakan biaya pendaftaran (sebagai gambaran, pada tahun 2012 biayanya sekitar Rp 400.000) untuk memperebutkan hadiah dan yang paling utama: Harga Diri Kampung.
Tim-tim dayung legendaris saling sikut di babak penyisihan hingga menyisakan tim terbaik di babak final. Persaingan ketat di atas perahu naga tradisional ini selalu menyajikan drama yang seru bagi penonton.
Catatan Kritis: Kondisi Sungai Sambong
Di balik kemeriahan sorak-sorai penonton, terdapat isu lingkungan yang menjadi perhatian serius para tokoh masyarakat dan warga Batang. Diskusi hangat sempat mencuat di komunitas Mbangun Mbatang Yuk terkait kondisi air Sungai Sambong yang kian memprihatinkan.
Beberapa poin penting yang menjadi sorotan warga antara lain:
- Masalah Debit & Kualitas Air: Menurut pengamat lokal, Ipung Djadjoeri, saat musim kemarau debit air sungai mayoritas tersedot untuk irigasi teknis sawah. Akibatnya, air yang tersisa mengalami peningkatan metabolisme dan kadar garam, sehingga warnanya berubah menjadi hitam pekat.
- Pencemaran Limbah: Warga lain, Bobo FSP, menyoroti adanya dugaan pencemaran dari pembuangan oli kapal dan limbah pabrik. Hal ini tidak hanya membuat air kotor, tetapi juga mengancam biota sungai yang mulai berkurang drastis.
- Tanggung Jawab Bersama: Tokoh masyarakat, Kartono Mohamad, menegaskan bahwa menjaga kejernihan sungai bukan hanya tugas Pemda, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat Batang.
Antusiasme Warga Tak Terbendung
Meski kondisi sungai menjadi catatan tersendiri, antusiasme warga tak pernah surut. Ribuan pasang mata tetap setia menonton dari pinggir tanggul hingga kolong jembatan.
Sudut pandang penonton dari bawah jembatan Klidang.
Kekompakan tim adalah kunci kemenangan.
Bagaimana dengan kampung Anda? Apakah pernah mengirimkan wakil untuk bertarung di ajang bergengsi ini? Tradisi ini adalah aset budaya yang harus kita lestarikan, sembari terus berupaya memperbaiki kualitas lingkungan sungainya.
Baca Juga Artikel Terkait:
- Sejarah Tim Sapuranu Sabetan Sapu Bersih Juara Lomban
- Update Berita dan Event Terbaru di Kabupaten Batang
Sumber Foto & Diskusi: Bobo FSP & Qmbunks Setyakhu (Grup Batang Berkembang & Mbangun Mbatang Yuk).
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar