Filosofi Tradisi Mentak-Mentik dan Udik-Udikan: Ritual Unik Bayi 40 Hari Khas Batang

Daftar Isi

Batang – Tanah Jawa kaya akan simbolisme dalam setiap fase kehidupan manusia. Bagi masyarakat Kabupaten Batang, kelahiran seorang bayi tidak hanya disambut dengan tangisan bahagia, tetapi juga serangkaian ritual adat yang penuh makna.

Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah Bancaan Mentak-Mentik atau sering juga dikenal dengan istilah Udak-udikan. Tradisi ini biasanya digelar saat bayi genap berusia 40 hari (selapanan) sebagai wujud rasa syukur sekaligus doa agar sang bayi tumbuh sehat dan sejahtera.

Tradisi Udik-udikan Koin Bayi 40 Hari di Batang

Keseruan warga saat mengikuti tradisi udik-udikan atau sebar koin.

1. Ritual Cukur Rambut dan Simbolisme Air

Prosesi diawali dengan pencukuran rambut bayi oleh seorang Simbok (Dukun Bayi atau Sesepuh Adat). Rambut bayi yang telah dicukur tidak dibuang sembarangan, melainkan dimasukkan ke dalam wadah berisi air yang telah dicampur dengan berbagai bahan alami penuh makna:

  • Telur: Melambangkan kebulatan tekad dan harapan agar kepala bayi terbentuk sempurna (bundar).
  • Gula Jawa & Kelapa: Harapan agar kelak sang bayi memiliki tutur kata yang manis dan perilaku yang disukai banyak orang.
  • Daun Lumbu (Talas): Simbol ketahanan dan kemampuan beradaptasi (pendirian) di mana pun ia berada.

Batang memang memiliki ragam tradisi unik selain Mentak-mentik. Simak juga Kuliner Batang yang Wajib di coba Nasi Megono yang wajib dilestarikan.

2. Keseruan Udak-Udikan (Sebar Koin)

Inilah momen yang paling dinanti oleh tetangga sekitar. Setelah bayi dimandikan dan didandani rapi, sang Dukun Bayi akan memegang bokor/wadah berisi uang koin yang telah dicampur dengan beras kuning dan kunir (kunyit) potong.

Bancaan Uang Koin dan Beras Kuning

Dengan lantang, Simbok akan merapalkan doa: "Mentak-mentik slametane bocah cilik, Allahumma..." yang kemudian disambut serentak oleh warga dengan kata "Aamiin!".

Seketika, uang receh dan beras kuning disebarkan ke udara (pyuur!). Suasana berubah menjadi riuh rendah penuh tawa. Tua, muda, dan anak-anak saling berdesakan (ungsel-ungselan) berebut koin. Tidak ada rasa marah, yang ada hanyalah euforia kebersamaan.

Di puncak keseruan itu, sang Dukun Bayi akan menyipratkan atau "menggebyur" air sisa ritual kepada para warga yang sedang berebut uang. Siraman air ini dipercaya sebagai simbol kesuburan dan keberkahan.

Baca Juga: Tradisi pasar rakyat juga kental di Batang. Lihat uniknya Tradisi Pasar Tiban di Kabupaten Batang.

3. Penutup: Kenduri Sego Takir

Tak lengkap rasanya bancaan tanpa makan bersama. Setelah lelah berebut koin, warga akan dibagikan Sego Takir, yaitu nasi yang dibungkus daun pisang dengan bentuk menyerupai perahu (takir).

Lauknya sederhana namun nikmat, biasanya terdiri dari kluban (urap sayur), ikan asin, telur dadar iris, dan kerupuk. Sego Takir ini dimakan bersama-sama, melambangkan kerukunan antar warga.

Makna Filosofis

Secara keseluruhan, tradisi Mentak-mentik mengajarkan kita tentang berbagi rezeki (lewat uang koin), rasa syukur, dan pentingnya doa kolektif dari masyarakat untuk masa depan sang bayi.

Tertarik mengeksplorasi budaya spiritual Jawa lainnya di Batang? Jangan lewatkan artikel tentang Tradisi Upacara Nyadran Masyarakat Batang.

Kontributor Cerita: Achmad Dasirin (via Grup FB Batang Berkembang). Ditulis ulang oleh Redaksi mBatang.com.

Posting Komentar