Nyadran Laut Batang: Ritual Sakral 1 Suro, Harmoni Doa dan Sedekah Bumi Para Nelayan
Batang – Sebagai daerah yang memiliki garis pantai panjang di jalur Pantura, kehidupan masyarakat Kabupaten Batang tidak bisa dilepaskan dari laut. Salah satu manifestasi hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta terekam jelas dalam tradisi tahunan yang dikenal dengan sebutan Upacara Nyadran atau Sedekah Laut.
Berbeda dengan Nyadran makam pada umumnya, ritual ini dikhususkan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya pada hasil tangkapan ikan.
Suasana persiapan sesaji dalam tradisi Nyadran nelayan Batang.
Dilaksanakan Setiap 1 Suro
Upacara sakral ini rutin dilaksanakan bertepatan dengan tanggal 1 Suro (Tahun Baru Islam/Jawa). Meski catatan sejarah mengenai kapan pertama kali tradisi ini dimulai belum ditemukan secara pasti, namun masyarakat meyakini bahwa ritual ini adalah warisan turun-temurun dari nenek moyang.
Secara historis, tradisi pesta laut ini diperkirakan sudah ada sejak zaman pra-Islam (era Kerajaan Hindu-Buddha seperti Majapahit atau Mataram Kuno). Hal ini terlihat dari tata cara pelarungan sesaji yang kental dengan nuansa kultur agraris-maritim masa lampau.
Akulturasi Islam dan Budaya Lokal
Salah satu keunikan Nyadran di Batang adalah terjadinya sinkretisme atau perpaduan budaya yang harmonis.
- Unsur Lokal: Terlihat dari prosesi larung sesaji (menghanyutkan kepala kerbau atau hasil bumi ke tengah laut) sebagai simbol "memberi makan" atau merawat alam.
- Unsur Islam: Terlihat dari doa-doa yang dipanjatkan. Seluruh ritual dibuka dan diiringi dengan doa keselamatan, tahlil, dan sholawat yang menggunakan Bahasa Arab bercampur Bahasa Jawa halus.
Harmoni ini diyakini sebagai buah karya para Wali (Walisongo) dan penyebar Islam terdahulu di Tanah Jawa yang menyelaraskan adat istiadat tanpa menghilangkan esensinya.
Harapan Keselamatan dan Rezeki
Bagi komunitas nelayan Batang, Nyadran bukan sekadar pesta rakyat. Ini adalah momentum spiritual untuk memohon tolak bala (perlindungan) agar terhindar dari ganasnya ombak laut saat bekerja.
Selain itu, ritual ini adalah bentuk syukur massal atas hasil tangkapan ikan selama setahun terakhir, sekaligus doa agar di tahun mendatang laut tetap memberikan limpahan rezeki bagi kesejahteraan keluarga nelayan.
Jelajahi Kekayaan Budaya Batang
Tradisi ini menjadi bukti bahwa Batang kaya akan kearifan lokal. Tertarik mengeksplorasi budaya unik lainnya?
- Mengenal Tradisi Unik Bancaan dan Udik-Udikan Bayi
- Rekomendasi Wisata Budaya dan Alam di Kabupaten Batang
Kontributor Foto & Cerita: Eko Sapto Prakoso (via Grup FB Batang Berkembang). Ditulis ulang oleh Redaksi mBatang.com.