Kisah Haru di Balik Legenda: M. Sarengat, Pahlawan Olahraga Batang yang Kini Terbaring Lemah
Batang – Nama besar M. Sarengat terukir abadi di gerbang stadion kebanggaan masyarakat Kabupaten Batang. Sebagai putra daerah yang pernah mengguncang Asia dengan rekor lari tercepatnya pada Asian Games 1962, sosoknya adalah definisi nyata dari pahlawan olahraga. Namun, di balik kemegahan nama stadion tersebut, tersimpan kisah perjuangan hidup yang menyentuh hati di masa tua sang legenda.
Mantan atlet nasional yang pernah mengharumkan nama Indonesia di mata dunia itu kini harus beristirahat total. Tubuh yang dulu melesat bagai kilat di lintasan lari, kini tergolek lemah akibat serangan stroke yang dideritanya.
M. Sarengat saat menjalani perawatan di rumah (Sumber: Dok. Keluarga)
Perjuangan Melawan Stroke
Di kediamannya yang asri di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, suasana hening menyelimuti kamar sang pahlawan. Dua untai tasbih tergantung di tiang infus, menemani M. Sarengat yang kini berusia senja. Berbagai peralatan medis, mulai dari tabung oksigen hingga monitor pemantau, menjadi teman setianya sehari-hari.
Putri kedua Sarengat, Sari "Ayi" Sarengat, menuturkan bahwa ayahnya mulai terserang stroke sejak Ramadan tahun 2009. "Papa tiba-tiba jatuh dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sempat dirawat intensif selama satu setengah bulan," kenang Ayi.
Kondisi medis memaksa tim dokter memasang tracheostomy di tenggorokan beliau untuk membantu mengeluarkan dahak, mengingat fungsi otak yang menurun dalam mengkoordinasikan tubuh. Asupan nutrisi pun harus dibantu melalui selang khusus yang terhubung langsung ke lambung.
Filosofi "Mangan Ora Mangan Ngumpul"
Meskipun dalam kondisi sakit, semangat kekeluargaan justru semakin erat. Keluarga besar Sarengat memilih untuk tinggal bersama di satu atap demi memantau kondisi sang ayah. Ayi, yang merupakan lulusan FE Universitas Pancasila, menyebutkan prinsip "mangan ora mangan ngumpul" menjadi pegangan mereka.
"Kondisi pasien stroke itu benar-benar tidak bisa diprediksi (unpredictable). Karena kami tidak ada yang berlatar belakang dokter, kami memutuskan untuk boyongan tidur di sini agar bisa sigap jika terjadi sesuatu," jelas ibu dari Aldiano ini.
Kehadiran cucu, Aldiano, seringkali menjadi obat pelipur lara. Mata sang legenda yang dulu tajam menatap garis finis, kini berbinar haru saat melihat cucunya berlari-lari kecil di sekitarnya. Munir, salah satu terapis yang merawatnya, kerap menyemangati, "Ayo Pak, yang gembira. Semangat Bapak adalah inspirasi bagi kami."
Diagnosa Medis Sang Dokter Militer
Sebagai informasi, M. Sarengat bukan hanya seorang atlet, tetapi juga seorang dokter TNI-AD dengan pangkat terakhir Kolonel. Ia pernah menjabat sebagai dokter pribadi Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Adam Malik, serta menjabat Sekjen KONI di era 1990-an.
Ironisnya, sakit yang dideritanya justru berkaitan dengan masa mudanya yang gemilang. Dokter mendiagnosis adanya kelainan pada katup jantung. Ayi memberikan analogi yang sangat jelas untuk menggambarkan kondisi ayahnya:
"Ibarat sebuah mobil balap yang mesinnya sering dipacu kencang di sirkuit, lalu tiba-tiba didiamkan bertahun-tahun di garasi tanpa dipanaskan. Jantung Papa dulu dipacu sangat keras saat menjadi atlet, namun setelah aktif menjadi dokter, aktivitas fisiknya berkurang drastis."
Semangat juang M. Sarengat selaras dengan semangat olahraga yang terus tumbuh di Batang, seperti halnya perkembangan klub lokal di artikel ini: Persatuan Sepak Bola Pagilaran Kabupaten Batang.
Warisan Nama di Tanah Leluhur
Meski raga mungkin lemah, nama M. Sarengat akan selalu gagah berdiri di Kabupaten Batang. Stadion M. Sarengat adalah bukti cinta warga Batang terhadap pahlawannya. Keluarga pun tidak pernah melupakan akar mereka.
"Biasanya saat Lebaran dulu kami sewa bus mudik ke Batang. Selain bersilaturahmi dengan keluarga di sana, kami selalu menyempatkan diri meninjau stadion yang diberi nama ayah itu," cerita Ayi dengan bangga.
Kunjungan dari pejabat negara seperti Menpora Roy Suryo sempat memberikan kejutan bagi keluarga, namun doa dan dukungan dari masyarakat Batang-lah yang menjadi kekuatan moral tersendiri. Mari kita doakan agar sang pahlawan olahraga ini diberikan ketenangan dan kekuatan.
Dapatkan informasi terkini seputar tokoh, sejarah, dan perkembangan daerah hanya di mBatang.com.
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar