Misteri Pohon Beringin Alun-Alun Batang: Antara Mitos Pusaka, Arwah, dan Simbol Regenerasi

Daftar Isi

Bagi masyarakat lokal, keberadaan Pohon Beringin di tengah Alun-Alun Batang bukan sekadar tanaman peneduh biasa. Pohon berusia ratusan tahun ini menyimpan segudang cerita, mulai dari legenda urban yang mistis hingga filosofi kepemimpinan yang mendalam.

Peristiwa tumbangnya pohon keramat ini beberapa tahun silam (2015) sempat menggegerkan publik dan memicu berbagai spekulasi, mulai dari alasan supranatural hingga tanda alam akan adanya pergantian era. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai fenomena tersebut.

1. Legenda Urban: Sarang Arwah Jalur Pantura

Pohon Beringin Tua di Tengah Alun-Alun Batang
Pohon beringin ikonik yang menjadi saksi bisu sejarah Batang.

Posisi Kabupaten Batang yang dilintasi Jalur Pantura membuatnya tak lepas dari kisah-kisah kecelakaan lalu lintas. Menurut kesaksian warga sekitar, area pohon beringin ini sering dikaitkan dengan penampakan makhluk gaib.

Suratno, salah seorang warga lokal menuturkan keyakinannya bahwa energi di sekitar pohon tersebut berkaitan dengan arwah korban kecelakaan di jalur Pantura yang "singgah". "Karena jalur ini ganas dan sering terjadi kecelakaan, kadang ada penampakan sosok yang diyakini berkaitan dengan peristiwa tersebut," ungkapnya.

Kuatnya kepercayaan mistis ini juga didukung dengan tradisi Kliwonan yang rutin digelar di Alun-Alun, di mana nuansa spiritual dan budaya berbaur menjadi satu.

2. Mitos Pengambilan Pusaka Keraton

Saat pohon beringin tua tersebut terbelah dan tumbang, Sejarawan Batang, Turadi, mencatat adanya kemiripan pola dengan kejadian serupa 7 tahun sebelumnya. Muncul dugaan di kalangan spiritualis bahwa tumbangnya pohon disebabkan oleh upaya "pengambilan paksa" benda pusaka secara gaib yang berlebihan.

"Setelah ditelisik dari sisi mistis, diduga ada oknum yang mencoba mengambil pusaka sejenis Keris Nogo Runting dan Cakra (Busur Panah) dari dalam pohon tersebut," ujar Turadi.

Kabupaten Batang memang lekat dengan sejarah pusaka. Salah satu buktinya adalah keberadaan Tombak Abirawa, pusaka daerah yang kini tersimpan rapi dan dikirabkan pada momen-momen sakral tertentu.

3. Simbol Regenerasi Kepemimpinan

Perspektif Pemerintah:
Menanggapi fenomena tersebut, Wakil Bupati Batang kala itu, H. Soetadi, memberikan pandangan yang lebih filosofis dan bijak.

"Pohon Beringin adalah simbol pengayom masyarakat. Jika roboh, itu adalah pertanda alam tentang regenerasi. Intinya, kami yang tua akan turun dan digantikan oleh pemimpin muda yang lebih segar," ujarnya memaknai peristiwa tersebut.

Meskipun sempat ada wacana penggantian pohon, para sesepuh seperti KH. Mahbub (Imam Masjid Agung Batang) menyarankan agar pohon tersebut dipulihkan kembali karena nilai historisnya sebagai ikon Kabupaten Batang.

Dinas Pekerjaan Umum (DPU) pun melakukan upaya penyelamatan dengan mendirikan kembali bagian pohon yang masih memiliki akar sehat, terutama sisi utara, karena akar sisi selatan telah membusuk dimakan usia.

Kini, pohon beringin tersebut tetap menjadi pengingat bagi warga Batang akan pentingnya menjaga keseimbangan antara alam, budaya, dan sejarah di tengah modernisasi kota.

Posting Komentar