Misteri dan Sejarah Petilasan Sunan Bonang Desa Bismo: Jejak Wali Songo di Batang

Daftar Isi

Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menyimpan sejuta misteri sejarah penyebaran Islam yang belum banyak terungkap ke permukaan. Silsilah dan jejak perjalanan Wali Songo (sembilan wali) dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa ternyata tidak hanya terbatas pada kota-kota besar tempat mereka dimakamkan seperti Demak, Kudus, atau Tuban.

Di balik perbukitan yang asri di Kabupaten mBatang, tepatnya di Desa Bismo, Kecamatan Blado, terdapat sebuah situs keramat yang diyakini sebagai petilasan (tempat persinggahan) dua tokoh besar Wali Songo, yakni Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Tempat ini menjadi saksi bisu bagaimana para wali bermusyawarah dan menyusun strategi dakwah di masa lampau.

Petilasan yang Menjadi "Makam" Aulia

Meskipun secara historis tempat ini adalah petilasan atau tempat singgah, masyarakat setempat lebih akrab menyebutnya sebagai Makam Aulia. Hal ini dikarenakan adanya bangunan berbentuk cungkup kubus layaknya sebuah makam di dalam Masjid Al Huda Bismo, tepat di belakang ruang imam.

Petilasan Makam Sunan Bonang Desa Bismo Blado
Suasana di sekitar Masjid Al Huda Desa Bismo, tempat petilasan Sunan Bonang.

Di dalam cungkup tersebut diyakini sebagai tempat bermunajatnya Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Lokasi ini sangat strategis dan berdekatan dengan situs religi lainnya. Jarak Makam Sunan Bonang di Bismo ini hanya terpaut sekitar 2,1 km ke arah selatan dari situs Pohon Jlamprang di Wonobodro. Rutenya pun cukup menantang namun indah, melewati pemandangan alam khas pegunungan dan dekat dengan sumber air hangat Ngasinan di Desa Bawang Wonolobo.

Peninggalan Keramat: Peci Akar dan Alquran Tulisan Tangan

Kekayaan sejarah di Desa Bismo tidak hanya berupa cerita tutur, melainkan dibuktikan dengan adanya benda-benda pusaka peninggalan para wali. Menurut Turyono (50), juru kunci makam, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga pernah singgah cukup lama di desa ini dalam perjalanan dakwah mereka.

Salah satu bukti otentik yang masih tersimpan rapi di Masjid Al Huda adalah sebuah Peci (Kopiah) Sunan Bonang. Uniknya, peci ini tidak terbuat dari kain beludru, melainkan anyaman akar-akaran tanaman yang sangat halus. Saat ini, peci tersebut disimpan dalam kotak kaca untuk menjaganya dari kerusakan.

"Dulu peci ini utuh, tapi karena banyak tangan jahil peziarah yang ingin mengambil berkah dengan cara memotong akar peci tersebut, sekarang kondisinya sedikit rusak di bagian atas," ungkap Turyono dengan nada prihatin.

Selain peci, terdapat pula sebuah Alquran tulisan tangan asli yang diyakini ditulis oleh sang Sunan. Kitab suci ini memiliki keistimewaan tersendiri. Bagi para peziarah yang melakukan istikharah, ayat yang terbuka saat mereka membuka Alquran ini konon bisa menjadi cerminan atau "rapor" kehidupan spiritual mereka. Sebuah fenomena spiritual yang membuat banyak orang datang jauh-jauh untuk membuktikan kebenarannya.

Arsitektur Masjid Tiban dan Misteri Saka Berkah

Masjid Al Huda di Desa Bismo bukan sembarang masjid. Menurut legenda setempat, masjid ini dibangun hanya dalam waktu semalam oleh para wali, bersamaan dengan pembangunan tiga masjid lainnya di wilayah Blado (Wonobodro) dan satu di Gringgingsari, Kecamatan Wonotunggal. Konsep pembangunan kilat ini sering disebut masyarakat Jawa sebagai "Masjid Tiban".

Masjid Al Huda Bismo Blado

Secara arsitektur, masjid ini memiliki kemiripan konstruksi dengan Masjid Agung Demak, terutama pada penggunaan Saka Guru (tiang utama). Salah satu tiangnya menggunakan sistem saka sambungan (kayu yang disambung-sambung). Empat tiang utama di masjid ini dipercaya memiliki "tuah" atau filosofi yang berbeda-beda:

  • Tiang Utara-Barat (Saka Berkah): Dibuat oleh Sunan Kalijaga, dipercaya membawa keberkahan hidup.
  • Tiang Selatan: Dipercaya sebagai wasilah untuk meraih derajat atau pangkat.
  • Tiang Selatan-Timur: Melambangkan kekuatan fisik dan batin.
  • Tiang Utara-Timur: Sering didatangi oleh mereka yang sedang berikhtiar mencari jodoh.

Meskipun demikian, sang juru kunci selalu mengingatkan agar tidak terjebak dalam kemusyrikan. "Meminta berkah jangan kepada tiang kayu, itu syirik. Semua doa dan permohonan tetap harus dipanjatkan hanya kepada Allah SWT. Tiang ini hanyalah saksi sejarah kesalehan para wali," tegas Turyono.

Tradisi Ziarah: Bukan Malam Jumat Kliwon

Ada keunikan lain dari tradisi ziarah di Bismo. Jika tempat keramat lain biasanya ramai pada malam Jumat Kliwon, di Masjid Al Huda Bismo keramaian justru memuncak pada Kamis Pahing malam Jumat Pon. Pada malam tersebut, ratusan peziarah dari berbagai daerah seperti Cirebon, Demak, Kudus, Tuban, hingga luar pulau seperti Palembang dan Lampung datang memadati lokasi.

Mereka biasanya melakukan zikir bersama, membaca tahlil, dan mengelilingi saka berkah. Tak jarang, banyak testimoni dari peziarah yang mengaku hajatnya terkabul, seperti mendapatkan jodoh atau ketenangan batin, tak lama setelah berdoa di tempat ini.

Mata Air Bismo: "Rembesing Sukmo"

Sebelum memasuki area masjid, para peziarah diwajibkan untuk bersuci atau berwudu di mata air Bismo. Nama "Bismo" sendiri menurut sesepuh desa, Suwanto (65), berasal dari ungkapan filosofis Jawa "Rembesing Sukmo" yang berarti meresapnya jiwa.

Sumber air di kawasan ini sangat melimpah dan kini dikelola oleh PDAM Batang untuk kebutuhan air bersih warga. Konon, ada lima sumber mata air keramat yang menyatu di sini:

  1. Mata Air Tes Seper (dari Kali Ngubal)
  2. Mata Air Tes Ning (dari Kali Kitiran)
  3. Mata Air Tes Geni (dari kawasan Dieng)
  4. Mata Air Syeh Gemading Mekar (dari Laut Jawa)
  5. Telaga Al Kautsar

Di Telaga Al Kautsar inilah konon Sunan Kalijaga mengambil air wudu sebelum menunaikan salat di atas batu. Kini, area tersebut telah dibangun fasilitas MCK yang layak bagi peziarah pria dan wanita. Banyak peziarah yang membawa pulang air dari sini menggunakan jerigen karena dipercaya memiliki khasiat kesehatan dan ketenangan.

Akses Menuju Lokasi

Bagi Anda yang tertarik menelusuri jejak sejarah ini, akses menuju Desa Bismo cukup mudah dijangkau. Dari pusat kota Batang atau Pekalongan, perjalanan memakan waktu sekitar satu jam menggunakan kendaraan roda dua maupun minibus.

Rutenya searah dengan jalur menuju wisata Pagilaran atau Petilasan Sunan Bonang ini lokasinya tidak jauh dari makam Syeh Maulana Magribi di Desa Wonobodro. Jalanan sudah beraspal mulus hingga ke lokasi parkir, memudahkan peziarah yang membawa rombongan.

Mengunjungi petilasan ini bukan hanya tentang ritual, tetapi juga napak tilas perjuangan para wali dalam menyebarkan Islam yang damai di tanah Jawa. Mari lestarikan situs bersejarah ini agar tidak hilang ditelan zaman.

Posting Komentar