Kenangan Manis dan Sejarah Bioskop Srikandi Batang Era 80-an

Daftar Isi

Bagi pembaca setia yang lahir dan tumbuh besar di tahun 80-an hingga 90-an, Kabupaten Batang menyimpan sejuta kenangan yang sulit untuk dilupakan. Salah satu memori yang paling melekat di benak "Cah Batang" lawas adalah kejayaan dunia hiburan layar lebar. Sebelum era digital menyerang, Batang pernah memiliki dua bioskop legendaris yang menjadi primadona hiburan rakyat, yaitu Bioskop Srikandi dan Bioskop Mustika.

Pada kesempatan kali ini, mBatang.Com akan mengajak Anda memutar waktu, bernostalgia mengenang masa-masa indah di mana Bioskop Srikandi masih berdiri gagah di jantung kota, menjadi saksi bisu kisah cinta remaja, tawa, dan kebersamaan warga Batang.

Tiket Karcis Jadul Bioskop Srikandi Batang
Kenangan sobekan karcis bioskop yang menjadi saksi sejarah hiburan di Batang (Sumber Foto: Batang.org)

Lokasi Legendaris di Jantung Kota Batang

Berbeda dengan bioskop modern yang kini berada di dalam mal berpendingin udara, Bioskop Srikandi memiliki pesona klasiknya sendiri. Letaknya sangat strategis, berada tepat di Pusat Kota Batang, atau tepatnya di kawasan Alun-alun Batang. Bangunan ini berdiri di lokasi yang sangat ikonik pada masanya, diimpit oleh warung legendaris Bakso Giman dan Kantor Pos Batang.

Bagi mereka yang pernah merasakan malam minggu di Alun-alun, pasti ingat betapa ramainya area ini ketika film box office sedang tayang. Suasana riuh rendah penonton yang mengantre, aroma kacang rebus, dan asap rokok para bapak-bapak menjadi pemandangan yang lazim saat itu. Namun, tahukah Anda siapa saja sosok penting yang mengurus operasional Bioskop Srikandi? Berdasarkan ingatan kolektif warga dan pengalaman pribadi, mari kita bedah satu per satu.

Struktur Pengurus Bioskop Srikandi

Sebuah bioskop tentu tidak berjalan sendiri. Di balik layar, ada sosok Bapak Musa yang dikenal sebagai Kepala atau penanggung jawab utama jalannya operasional Bioskop Srikandi Batang. Di bawah kepemimpinan beliau, Srikandi mampu menjadi hiburan nomor satu, menyajikan film-film hits mulai dari film nasional hingga mancanegara.

Legenda Pak Bisu: Sang Penjaga dan Pemandu

Jika berbicara tentang Nostalgia Kota Batang tahun 80-an, tidak lengkap rasanya jika tidak menyebut nama Bapak Bisu. Beliau adalah ikon hidup Bioskop Srikandi yang paling diingat oleh penonton.

Tugas Pak Bisu sangat krusial. Selain bertanggung jawab atas kebersihan studio, beliau adalah "malaikat penyelamat" di dalam kegelapan. Dengan ciri khas membawa senter batre, beliau dengan sigap mengantar penonton menemukan kursi kosong di tengah ruangan yang gelap gulita. Cahaya senter Pak Bisu adalah panduan agar kita tidak salah duduk atau tersandung.

Namun, jangan salah sangka, Pak Bisu juga merangkap sebagai keamanan (security) yang tegas. Bagi anak-anak kecil nakal yang hobi "nrembol" (menyelinap masuk tanpa tiket), Pak Bisu adalah sosok yang ditakuti. Beliau akan mencegat siapa saja yang mencoba masuk secara ilegal. Ketegasan beliau menjaga ketertiban bioskop patut diacungi jempol.

Sensasi Kursi Kayu dan Aroma Khas

Fasilitas di Bioskop Srikandi tentu jauh berbeda dengan bioskop XXI masa kini. Kursinya masih terbuat dari kayu keras, bukan sofa empuk. Ada sensasi unik—dan sedikit menyiksa—saat menonton film berdurasi panjang. Tak jarang, kursi-kursi kayu tersebut sudah dihuni oleh "penduduk asli" berupa hewan kecil bernama tinggi (sejenis kutu busuk atau rayap kayu).

Jika sedang sial, penonton akan pulang dengan bentol-bentol gatal akibat gigitan hewan tersebut. Selain itu, fasilitas toiletnya pun sangat sederhana. Sebuah Kamar Mandi Kecil (WC) dengan aroma yang sangat khas dan menyengat seringkali tercium hingga ke deretan kursi belakang, menambah "kesan" tak terlupakan dari bioskop rakyat ini.

Ekosistem di Sekitar Bioskop: Parkir dan Calo

Di sisi selatan gedung bioskop, terdapat area penitipan sepeda motor yang dijaga oleh Bapak Tony. Beliau adalah sosok yang memastikan kendaraan penonton aman selama pertunjukan berlangsung. Sementara itu, di bagian depan, dinamika jual beli tiket terjadi.

Loket tiket Bioskop Srikandi memiliki desain yang misterius, tertutup kaca riben hitam pekat. Pembeli tidak bisa melihat wajah penjualnya, hanya tangan yang keluar-masuk menukar uang dengan karcis. Namun, bagi yang malas mengantre atau kehabisan tiket untuk film populer, para Calo Tiket siap membantu dengan harga yang tentu saja lebih mahal.

Para calo dan pencopet biasanya beraksi saat film-film besar tayang. Film India (Bollywood) yang penuh drama, film laga Jackie Chan, Film Dewasa (17+), hingga komedi legendaris Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) serta film Doyok & Kadir adalah magnet yang membuat bioskop penuh sesak. Harga tiket saat itu sangat terjangkau, yaitu Rp 500 untuk pertunjukan reguler dan Rp 150 untuk Midnight Show. Bayangkan, dengan uang receh, kebahagiaan sudah bisa didapatkan!

Srikandi Penjaga Pintu dan Kuliner Bioskop

Di pintu masuk, ada dua wanita tangguh yang bertugas menyobek karcis. Salah satunya bernama Mbak Siti, warga asli yang rumahnya berada tepat di belakang Bioskop Srikandi. Kini, setelah bioskop tiada, Mbak Siti dikenal sebagai penjual janganan pecel di kampungnya. Kenangan akan keramahan (atau ketegasan) mereka saat memeriksa tiket masih membekas di ingatan.

Setelah melewati pintu masuk, penonton akan disambut oleh sebuah kantin kecil. Seperti halnya toko-toko jajanan lawas di Batang, kantin ini menyediakan makanan ringan dan minuman botol untuk teman menonton. Setelah membeli bekal, penonton akan naik melalui tangga di sisi kanan dan kiri menuju studio utama di lantai atas, disambut kembali oleh sorot senter Pak Bisu.

Jadwal Tayang dan Promosi "Woro-Woro"

Jadwal operasional Bioskop Srikandi sangat teratur. Pada hari Senin hingga Sabtu, film diputar mulai pukul 14:00, 16:00, 19:00, dan 21:00 WIB. Khusus hari Minggu atau hari libur, pemutaran dimulai lebih awal, yakni jam 10:00 dan 12:00 WIB. Ada juga program spesial bernama Midnight Show dengan harga tiket miring, yang menjadi favorit anak muda yang suka begadang. Bahkan, saat malam Tahun Baru, Srikandi sering memutar dua film sekaligus dalam satu tiket!

Strategi pemasarannya pun sangat unik dan tradisional. Tidak ada media sosial zaman itu. Promosi dilakukan menggunakan mobil keliling yang dilengkapi pengeras suara (toa), berkeliling ke pelosok desa di Batang meneriakkan judul film yang akan tayang. Selain itu, mereka menyebarkan selebaran (flyer) poster film berukuran kecil. Selebaran ini sering menjadi barang koleksi berharga bagi anak-anak kecil kala itu. Promosi juga gencar dilakukan lewat siaran Radio Batang yang menjadi media informasi utama warga.

Runtuhnya Era Bioskop Batang

Lokasi Bekas Bioskop Srikandi Batang Kini Jadi Ruko
Lokasi di mana Bioskop Srikandi pernah berdiri, kini telah berubah fungsi menjadi Ruko modern.

Sayangnya, segala kejayaan pasti ada masa surutnya. Memasuki akhir 90-an dan awal 2000-an, teknologi VCD (Video Compact Disc) bajakan mulai membanjiri Indonesia, tak terkecuali Batang. Kemudahan menonton film di rumah dengan harga kaset bajakan yang sangat murah membuat masyarakat enggan pergi ke bioskop.

Perlahan namun pasti, bioskop menjadi sepi pengunjung. Biaya operasional yang tidak tertutup oleh pendapatan membuat manajemen merugi. Akhirnya, satu per satu bioskop di wilayah ini gulung tikar. Tidak hanya Bioskop Srikandi, saudaranya Bioskop Mustika dan Bioskop Rahayu di Pekalongan pun mengalami nasib serupa.

Ruko Modern Pengganti Srikandi

Kini, jika Anda berkunjung ke Alun-alun Batang, Anda tidak akan lagi menemukan bangunan bioskop tersebut. Lokasinya telah berubah total menjadi deretan Rumah Toko (Ruko). Tim mBatang.Com sudah berusaha mencari arsip foto asli bangunan Bioskop Srikandi dengan membongkar album foto lama milik bapak dan simbah, namun hasilnya nihil. Foto tiket di atas adalah satu-satunya bukti otentik yang kami dapatkan dari rekan blogger di megonoholic dan batang.org.

Meskipun bangunannya telah tiada, kenangan menonton film di kursi kayu ditemani gigitan "tinggi" dan panduan senter Pak Bisu akan selalu hidup di hati masyarakat Batang.

Posting Komentar