Asal-Usul Desa Terate Juga Kebanyon

Daftar Isi

BATANG – Sejarah penyebaran agama Islam di tanah Jawa, khususnya di wilayah pesisir utara (Pantura), menyimpan ribuan kisah yang belum sepenuhnya terungkap. Kabupaten Batang, sebagai salah satu titik strategis di jalur ini, memiliki warisan sejarah religi yang sangat kental. Salah satu legenda yang hidup di tengah masyarakat adalah kisah tentang Syekh Maulana Maghribi dan asal-usul terbentuknya nama Desa Terate serta Kebanyon.

Kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan jejak peradaban bagaimana para ulama terdahulu melakukan syiar Islam dengan pendekatan budaya dan adaptasi terhadap kondisi geografis setempat. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai jejak spiritual Kyai Atas Angin yang menjadi cikal bakal identitas wilayah di pusat Kota Batang ini.

Makam Kyai Atas Angin di Batang
Petilasan Makam Kyai Atas Angin yang menjadi saksi bisu penyebaran Islam di Batang.

Mengenal Sosok Syekh Maulana Maghribi

Nama Syekh Maulana Maghribi sangat harum di kalangan peziarah dan sejarawan Islam. Berdasarkan literatur sejarah, beliau dipercaya berasal dari wilayah Maghrib (Maroko), Afrika Utara. Namun, ada pula versi lain yang menyebutkan beliau lahir di Samarkand, Asia Tengah. Sejarawan kolonial Thomas Stamford Raffles mencatat bahwa beliau berasal dari Arab dan sempat menetap di Desa Leran, Gresik. Sementara peneliti J.P. Moquette menduga tokoh ini berasal dari Kashan, wilayah Iran modern.

Terlepas dari perdebatan mengenai tempat kelahirannya, satu hal yang disepakati adalah pengaruhnya yang masif dalam dakwah Islam di Nusantara. Di wilayah Batang, sosok ini dikenal dengan nama khusus, yaitu Syekh Maulana Isro' Al Ra'uf. Beliau melakukan perjalanan dakwah (rihlah) yang panjang dari arah Ujung Negoro menyusuri pesisir hingga masuk ke pedalaman Batang.

Legenda Kyai Atas Angin dan Dua Santri Setia

Dalam syiarnya di Batang, Syekh Maulana Maghribi tidak berjalan sendiri. Beliau didampingi oleh dua santri setianya yang bernama Mbah Ngalimun dan Mbah Prawoto. Ketiganya bahu-membahu mengenalkan ajaran tauhid di tengah masyarakat yang kala itu masih memegang teguh kepercayaan lama.

Masyarakat Jawa pada masa itu memberikan julukan kehormatan kepada Syekh Maulana Maghribi sebagai Kyai Atas Angin. Istilah "Atas Angin" merupakan sebutan metaforis orang Jawa kuno untuk merujuk pada negeri-negeri yang jauh di barat (Jazirah Arab/Persia), tempat dari mana angin berhembus membawa kapal-kapal layar para pedagang dan ulama.

Dakwah di masa awal tentu tidak mudah. Di beberapa titik, agama Islam sempat kurang berkembang. Namun, dengan kesabaran tinggi (akhlakul karimah), beliau tetap istiqomah menyebarkan agama dan memohon ridho Allah SWT. Tempat-tempat yang pernah beliau singgahi untuk bermunajat inilah yang kemudian dikenal sebagai petilasan atau makam keramat hingga hari ini.

Pintu Gerbang Makam Kyai Atas Angin

Etimologi: Asal Usul Nama Kebanyon dan Terate

Perjalanan Syekh Maulana Maghribi terus berlanjut ke arah selatan dari pesisir pantai. Di sanalah beliau menemukan sebuah fenomena alam yang menjadi dasar penamaan wilayah setempat. Beliau melihat sebuah daratan rendah yang kerap tergenang air, terutama saat air laut pasang (rob).

Dalam bahasa Jawa, kondisi daratan yang kemasukan air atau tergenang air disebut dengan istilah "Klebon Banyu". Dari frasa inilah kemudian masyarakat menyebut wilayah tersebut dengan nama Kebanyon.

Tidak hanya genangan air, di lokasi rawa-rawa tersebut tumbuh subur tanaman bunga Teratai (Lotus) yang indah. Karena banyaknya populasi bunga air tersebut, wilayah di sekitarnya kemudian dinamakan Desa Terate (atau sering dilafalkan sebagai Nerate/Nrate oleh lidah lokal). Hingga kini, Desa Karangsari, Terate, dan wilayah Kebanyon menjadi satu kesatuan sejarah yang tak terpisahkan dari perjalanan sang Wali.

Peta Wisata Religi: 9 Makam Wali di Kabupaten Batang

Bagi Anda yang gemar melakukan wisata religi atau ziarah kubur untuk mengenang jasa para penyebar Islam, Kabupaten Batang memiliki setidaknya 9 titik lokasi makam/petilasan yang keramat. Berikut daftarnya:

  1. Syech Rahmatillah (Ki Pusponegoro): Terletak di Makam Pasekaran. Beliau juga dikenal sebagai tokoh penting pemerintahan awal Batang. Simak kisah lengkapnya di artikel Syekh Rahmatillah Bupati Pertama Kabupaten Batang. Ada mitos unik tentang ular besar dan burung yang jatuh jika melintas di atas makam ini.
  2. Syech Surgi Jatikusumo: Berlokasi di Pasekaran, beliau adalah ulama kharismatik yang memiliki hubungan erat dengan perjuangan Pangeran Diponegoro.
  3. Syech Samsudin: Terletak di wilayah Junggrangan, Kademangan.
  4. Kyai Singokerti: Berada di daerah Singokerten, Kauman.
  5. Pangeran Kadilangu: Dimakamkan di daerah Kadilangu.
  6. Kyai Atas Angin (Syekh Maulana Maghribi): Tokoh utama dalam artikel ini, makamnya berada di wilayah Kasepuhan.
  7. Mbah Wali Kebanyon: Berada di Kasepuhan/Kebanyon, erat kaitannya dengan sejarah Desa Terate.
  8. Kyai Kendil Wesi: Terletak di daerah Sambong.
  9. Syech Maulana Maghribi (Versi Pantai): Petilasan yang sangat terkenal di kawasan wisata Pantai Ujung Negoro.
Area Dalam Makam Kyai Atas Angin

Pentingnya Melestarikan Sejarah Lokal

Kisah tentang Kyai Atas Angin dan asal-usul Desa Terate/Kebanyon adalah warisan budaya tak benda yang sangat berharga. Sayangnya, kondisi beberapa makam bersejarah seperti Makam Syekh Maulana Maghribi di Desa Karangsari sempat dikabarkan kurang terawat.

Melalui tulisan yang bersumber dari catatan saudara Leonardo Dekat-priyo (Wong Sudro Ing Tlatah Kutho mBatang) ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif dari masyarakat dan pemerintah daerah untuk merawat situs-situs tersebut. Ini bukan hanya soal agama, tetapi juga potensi Wisata Religi yang dapat menggerakkan ekonomi umat.

Selain sejarah religi, Batang juga menyimpan misteri alam dan sejarah lainnya, seperti kawasan hutan yang melegenda. Anda bisa membaca lebih lanjut tentang Sejarah Alas Roban Batang yang penuh misteri namun eksotis.

Mari kita jaga dan lestarikan sejarah Kabupaten Batang agar tidak hilang tergerus zaman.