Kisah Penghubung Nadi Ekonomi Kalimanggis-Kemiri Barat yang Masih Berlantai Bambu
Pembangunan infrastruktur pedesaan di Indonesia tengah menggeliat hebat dalam beberapa tahun terakhir. Kucuran Dana Desa yang digelontorkan pemerintah pusat seharusnya mampu mengubah wajah desa menjadi lebih modern dan aksesibel. Namun, di tengah euforia pembangunan tersebut, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemerataan belum sepenuhnya terjadi. Masih ada sudut-sudut wilayah yang membutuhkan perhatian serius karena menyangkut hajat hidup orang banyak.
Salah satu potret nyata ketimpangan infrastruktur ini ditemukan di wilayah Kecamatan Subah, Kabupaten Batang. Di sana, terdapat sebuah akses vital penghubung antar desa yang kondisinya masih sangat sederhana, bahkan cenderung memprihatinkan. Adalah jembatan gantung berlantai bambu yang menghubungkan Desa Kalimanggis dengan Desa Kemiri Barat. Meski terlihat rapuh, jembatan ini memegang peranan kunci dalam roda kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Babinsa Koramil Subah mengecek kondisi jembatan bambu yang menjadi akses utama warga.
Spesifikasi Jembatan dan Peran Babinsa
Fakta mengenai kondisi jembatan ini terungkap jelas saat Sertu Sodik, seorang Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari Koramil 01/Subah, melakukan pengecekan langsung ke lokasi (On The Spot). Bersama aparat desa setempat, Sertu Sodik meninjau kelayakan sarana penghubung tersebut.
Berdasarkan data di lapangan, jembatan gantung ini memiliki dimensi panjang sekitar 35 meter dengan lebar hanya 1,5 meter. Konstruksinya yang didominasi oleh anyaman dan batangan bambu membuat jembatan ini bergoyang cukup keras ketika dilintasi, terutama oleh kendaraan roda dua. Bayangkan risikonya ketika musim penghujan tiba; bilah bambu yang licin tentu menjadi ancaman tersendiri bagi warga yang melintas. Padahal, ini adalah akses tercepat yang menghubungkan dua desa bertetangga tersebut.
Urat Nadi Perekonomian yang Terhambat
Infrastruktur bukan sekadar beton dan aspal, melainkan tentang bagaimana ekonomi bisa bergerak efisien. Hal ini disuarakan oleh Bapak Sukirno, salah satu tokoh warga Desa Kalimanggis. Beliau menuturkan keluh kesahnya mengenai belum dibangunnya jembatan tersebut secara permanen.
Menurut Sukirno, kondisi jembatan yang masih darurat ini sangat berpengaruh signifikan terhadap sektor perekonomian warga, khususnya pertanian dan perkebunan. Desa Kalimanggis dan Kemiri Barat memiliki potensi hasil bumi yang melimpah. Namun, para petani seringkali mengalami kesulitan dalam mengangkut hasil panen mereka ke pasar atau pengepul.
"Biaya angkut jadi mahal karena akses sulit. Kalau jembatan ini permanen dan bisa dilalui kendaraan roda empat atau setidaknya roda dua dengan aman, tentu ekonomi warga akan lebih cepat berputar," ungkap keresahan warga yang terwakili. Keterbatasan akses ini membuat margin keuntungan petani tergerus oleh biaya logistik yang tinggi.
Warga berharap adanya peningkatan status jembatan menjadi permanen.
Tanggung Jawab Moral Koramil 01/Subah
Kehadiran TNI di tengah permasalahan infrastruktur ini bukan tanpa alasan. Koramil 01/Subah, sebagai satuan pelaksana di bawah komando Kodim 0736/Batang, memiliki tugas pembinaan teritorial yang mencakup aspek Geografi, Demografi, dan Kondisi Sosial (Komsos).
Melihat kondisi jembatan Kalimanggis-Kemiri Barat, pihak Koramil menilai ini sebagai sarana vital yang strategis. Dalam doktrin pembinaan teritorial, aksesibilitas antar wilayah adalah kunci pertahanan dan kesejahteraan. Jika akses terputus atau sulit, maka pembinaan potensi wilayah juga akan terhambat.
Oleh karena itu, Koramil 01/Subah aktif mendorong dan menjembatani aspirasi masyarakat ini agar didengar oleh pemangku kebijakan. TNI menyadari bahwa tugas mereka tidak hanya mengangkat senjata, tetapi juga membantu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang dalam percepatan pembangunan, sesuai dengan amanat konstitusi untuk mensejahterakan rakyat.
Menanti Sentuhan Pembangunan Permanen
Harapan besar kini digantungkan masyarakat kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Batang dan dinas terkait. Jembatan sepanjang 35 meter ini menanti sentuhan teknologi konstruksi yang lebih layak. Bukan lagi bambu yang harus diganti berkala setiap lapuk dimakan usia, melainkan beton atau baja yang kokoh.
Jika jembatan ini dibangun permanen, dampaknya akan luar biasa (Multiplier Effect):
- Efisiensi Distribusi: Petani bisa mengangkut pupuk dan hasil panen dengan mobil bak terbuka.
- Akses Pendidikan & Kesehatan: Anak-anak sekolah dan warga yang sakit bisa melintas dengan aman tanpa takut terperosok.
- Integrasi Sosial: Hubungan kekerabatan antar dua desa semakin erat dengan akses yang mudah.
Semoga hasil pengecekan lapangan oleh Babinsa dan aspirasi yang disuarakan oleh warga Desa Kalimanggis ini segera mendapatkan respon positif dalam perencanaan anggaran daerah mendatang. Pembangunan infrastruktur yang merata adalah kunci menuju Batang yang lebih maju dan sejahtera.
Mari kita kawal bersama pembangunan di daerah kita. Bagaimana kondisi infrastruktur di desa Anda? Silakan berbagi cerita di kolom komentar.