Asa Baru Petani Plelen: Pembangunan Embung Bantuan Kementan Dimulai dengan Tradisi Selamatan di Gringsing Batan
Gringsing, Batang – Air adalah denyut nadi kehidupan. Dalam dunia pertanian, keberadaan air bukan sekadar pelengkap, melainkan faktor determinan yang menentukan hidup matinya tanaman dan nasib para petani. Menyadari vitalnya peran infrastruktur air, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) terus menggencarkan pembangunan embung di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Batang.
Salah satu realisasi nyata dari program ketahanan pangan ini terlihat di Dukuh Kertosono, Desa Plelen, Kecamatan Gringsing. Sebagai wujud rasa syukur dan permohonan kelancaran sebelum dimulainya proyek fisik, warga setempat bersama unsur TNI dan Pemerintah Kecamatan menggelar acara tradisi "Selamatan" atau syukuran pembukaan lahan pembuatan embung pada tanggal 19 September lalu.
Sinergi TNI dan Rakyat: Mengawal Bantuan Kementan
Acara selamatan ini dihadiri langsung oleh Danramil 03/Gringsing, Kapten Inf Sugito, beserta jajarannya. Kehadiran TNI dalam proyek infrastruktur pertanian ini bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan bagian dari pendampingan Upaya Khusus (Upsus) Swasembada Pangan guna memastikan bantuan pemerintah tepat sasaran dan berjalan lancar.
Dalam sambutannya yang menyentuh, Kapten Inf Sugito menekankan aspek spiritual dan ekologis dari air. "Air merupakan sumber kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi ini. Tanpa air, niscaya kehidupan akan punah dan binasa. Oleh karena itu, kita wajib dan harus bersyukur kepada Tuhan atas semua karunia-Nya, termasuk bantuan embung yang akan segera dibangun ini," tuturnya di hadapan warga Gapoktan Kertotani.
Suasana khidmat doa bersama (selamatan) sebelum peletakan batu pertama embung di Dukuh Kertosono.
Memaknai Tradisi Selamatan: Kearifan Lokal, Bukan Klenik
Ada hal menarik yang perlu diluruskan mengenai tradisi selamatan di masyarakat Jawa, khususnya di Batang. Kapten Sugito menegaskan bahwa kegiatan ini murni sebagai manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME), bukan praktik animisme atau meminta kepada roh leluhur.
"Kegiatan selamatan ini dilaksanakan bukan untuk meminta kepada leluhur seperti zaman hinduisme terdahulu. Ini adalah bentuk rasa syukur atas nikmat bantuan yang telah kita terima, sekaligus simbol kerukunan warga (gotong royong). Harapan utamanya adalah agar seluruh pekerja dan warga diberikan keselamatan selama proyek pembuatan embung ini berjalan," jelas Danramil.
Tradisi tumpengan dan doa bersama ini menjadi pengikat sosial yang kuat, menyatukan visi antara Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kertotani, pemerintah desa, dan aparat keamanan demi suksesnya pembangunan infrastruktur desa.
Dampak Ekonomi: Target Peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT)
Pembangunan embung di Desa Plelen ini memiliki nilai strategis ekonomi yang tinggi. Embung berfungsi sebagai penampung air hujan (water harvesting) yang akan menjadi cadangan irigasi saat musim kemarau tiba. Dengan adanya embung, pola tanam yang tadinya hanya mengandalkan tadah hujan bisa ditingkatkan intensitasnya.
Kapten Inf Sugito menaruh harapan besar pada infrastruktur ini. "Dengan dibangunnya embung tersebut, pasokan air untuk kebutuhan pertanian akan tercukupi sepanjang tahun. Targetnya, Luas Tambah Tanam (LTT) dan luas panen akan terealisasi maksimal. Pada akhirnya, kesejahteraan dan perekonomian para petani di Gringsing akan meningkat signifikan," paparnya.
Peninjauan lokasi embung oleh unsur Forkopimcam Gringsing bersama warga.
Imbauan Keselamatan dan Perawatan Infrastruktur
Selain fokus pada manfaat irigasi, aspek keselamatan publik juga menjadi sorotan utama. Embung pertanian biasanya memiliki kedalaman yang cukup signifikan dan dasar yang berlumpur, sehingga sangat berbahaya jika disalahgunakan sebagai tempat bermain air.
Danramil mengingatkan warga sekitar lokasi embung untuk proaktif melakukan pengawasan. "Setelah embung selesai dibangun, mohon diawasi agar tidak dimanfaatkan oleh anak-anak untuk berenang. Ini bukan kolam renang, ini infrastruktur pertanian. Jangan sampai ada korban jiwa karena kelalaian kita," tegasnya.
Senada dengan Danramil, Camat Gringsing, Rusmanto MSi, yang turut hadir dalam acara tersebut, memberikan pesan khusus mengenai pemeliharaan (maintenance). Infrastruktur air, seperti halnya Bendungan Kedung Asem di Mentosari, memerlukan perawatan berkala agar fungsinya optimal dalam jangka panjang.
"Saya berpesan kepada warga dan Gapoktan untuk merawat aset ini. Selama proses pengerjaan, semoga selalu diberikan keselamatan dan kelancaran, baik bagi para pekerja proyek maupun warga di sekitar lokasi," ujar Rusmanto menutup acara.
Penutup
Acara selamatan ini dihadiri oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Gringsing, seluruh anggota Gapoktan Kertotani, dan tokoh masyarakat Dukuh Kertosono, Desa Plelen. Dimulainya proyek ini menjadi angin segar bagi pertanian di wilayah Batang bagian timur, menjanjikan produktivitas yang lebih baik di masa depan. (Sumber: Pendim0736)