Gethuk Bokong: Kuliner Khas Batang Nama Nyeleneh Rasa Sultan

Daftar Isi

Sobat traveler dan pecinta kuliner nusantara, pernahkah Anda mendengar nama makanan yang satu ini? Gethuk Bokong. Ya, Anda tidak salah baca. Sekilas mendengarnya mungkin membuat dahi berkerut atau bahkan tersenyum simpul karena namanya yang terdengar sedikit "nakal" dan tidak lazim untuk sebuah hidangan.

Namun, jangan salah sangka dulu. Di balik namanya yang eksentrik, tersimpan cita rasa legendaris yang menjadi kebanggaan warga Kabupaten Batang, khususnya di wilayah Kecamatan Bawang. Kuliner rakyat yang berasal dari lereng Gunung Prau, tepatnya Desa Wonosari ini, kini mulai naik daun dan menjadi buruan para wisatawan yang penasaran.

Gethuk Bokong Makanan Khas Bawang Batang yang Unik dan Lezat

Potret Gethuk Bokong, sajian tradisional dengan cita rasa manis gurih khas pedesaan.

Kenapa Dinamakan Gethuk Bokong?

Nama adalah doa, tapi dalam dunia kuliner, nama adalah branding. Sunaryo, salah satu pengrajin gethuk ini menjelaskan fakta menarik di balik penamaan tersebut. Sejatinya, nama asli makanan ini adalah Gethuk Gaplek atau gethuk singkong biasa. Namun, masyarakat luar desa justru lebih familiar menyebutnya Gethuk Bokong.

Alasannya sederhana namun menggelitik: bentuk cetakannya. Makanan ini dicetak menggunakan baskom atau wadah bulat yang ketika dituang, bentuknya yang membulat dan padat menyerupai bentuk (maaf) pantat atau bokong. "Banyak masyarakat yang menamakan Gethuk Bokong karena mungkin bentuknya yang menyerupai bokong," ujar Sunaryo.

Camat Bawang, Yarsono, juga mengamini hal tersebut. Menurutnya, meskipun nama aslinya Gethuk Gaplek, branding organik dari masyarakatlah yang membuat nama "Bokong" lebih populer dan justru menjadi daya tarik wisata tersendiri.

Proses Pembuatan yang Rumit demi Rasa Sempurna

Berbeda dengan jajanan pasar modern yang serba instan, proses pembuatan Gethuk Bokong adalah representasi dari kesabaran dan kearifan lokal. Ini bukan sekadar singkong yang direbus lalu ditumbuk. Ada seni dan kerja keras di dalamnya yang membuat teksturnya begitu spesial.

Bahan dasarnya adalah singkong pilihan yang tumbuh subur di tanah pegunungan Batang. Berikut adalah tahapan "rumit" yang harus dilalui:

  • Pemilihan dan Pembersihan: Singkong dikupas dan dicuci hingga bersih dari tanah lempung khas pegunungan.
  • Penggilingan dan Pemerasan: Singkong diparut atau digiling halus. Poin kuncinya ada di sini: air pati singkong harus diperas dan dibuang sampai kadar airnya benar-benar berkurang drastis. Ini penting untuk menghasilkan tekstur yang kenyal dan tidak lembek, serta menghilangkan potensi rasa pahit.
  • Perebusan dan Perasa: Adonan singkong yang sudah kering kemudian direbus/dikukus selama kurang lebih 15 menit. Pada tahap ini, varian rasa ditentukan. Untuk gethuk warna cokelat, ditambahkan gula aren asli dan garam. Sedangkan untuk varian putih, cukup menggunakan garam untuk rasa gurih yang dominan.
  • Penumbukan Kembali: Setelah matang, adonan tidak langsung dicetak. Ia harus ditumbuk lagi saat masih panas agar tidak menggumpal dan bumbu tercampur rata.
  • Pencetakan: Terakhir, adonan dimasukkan ke dalam baskom untuk dicetak menjadi bentuk "bokong" yang ikonik.

Sensasi Rasa: Teman Setia Kopi dan Teh

Bagaimana rasanya? Bayangkan perpaduan tekstur lembut namun padat, dengan rasa manis gula aren yang tidak bikin eneg, ditambah sentuhan gurih dari garam. Gethuk Bokong menawarkan sensasi kuliner ndeso yang otentik. Kepala Bagian Humas Batang, Triossy Juniarto, menggambarkan pengalaman menyantapnya dengan sangat menggugah selera.

"Gethuk akan terasa lezat sekali bila disajikan dengan kopi atau teh hangat. Mau waktu pagi, siang, maupun malam, rasanya enake por (enak sekali)," ungkapnya. Apalagi jika disantap di tengah udara sejuk Kecamatan Bawang yang sering dijuluki sebagai "Tol di Atas Awan" atau saat Anda sedang mengunjungi destinasi wisata Bawang yang pemandangannya mirip pedesaan di Korea.

Harga Kaki Lima, Kualitas Bintang Lima

Salah satu alasan mengapa wisata kuliner di Jawa Tengah selalu dirindukan adalah harganya yang sangat terjangkau. Gethuk Bokong biasanya dijual dalam ukuran besar, dengan diameter mencapai 25 cm dan ketebalan 3 cm. Ukuran jumbo ini bisa dinikmati oleh satu keluarga.

Harganya? Sangat ramah di kantong. Anda bisa membawa pulang oleh-oleh unik ini hanya dengan merogoh kocek antara Rp 5.000 hingga Rp 12.000 saja, tergantung ukuran. Pemasarannya pun cukup luas, mulai dari pasar-pasar tradisional di Kecamatan Bawang hingga menembus Pasar Dieng di Kabupaten Banjarnegara.

Namun, perlu dicatat bahwa gethuk ini tidak selalu tersedia setiap hari. Biasanya, para pedagang menjualnya pada hari pasaran Jawa tertentu, seperti Pahing dan Wage. Jadi, pastikan Anda mengecek kalender Jawa sebelum berburu kuliner ini agar tidak kecele.

Peluang Usaha dan Dukungan Pemerintah

Popularitas Gethuk Bokong bukan hanya soal rasa, tapi juga potensi ekonomi kreatif bagi masyarakat desa. Sunaryo mengaku jualannya selalu laris manis di Pasar Bawang maupun Dieng. Ini membuktikan bahwa produk olahan singkong memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kendati demikian, para pengrajin masih menghadapi kendala peralatan. "Kami inginkan bantuan mesin dan modal usaha agar bisa memproduksi gethuk dalam jumlah banyak, serta butuh tungku yang memadai," harap Sunaryo.

Merespons hal ini, Pemerintah Kabupaten Batang melalui program Visit to Batang dengan tagline "Heaven of Asia" berkomitmen untuk menginventarisir dan membina potensi kuliner lokal. Tujuannya agar makanan khas seperti Gethuk Bokong dapat dikemas lebih modern, higienis, dan menjadi oleh-oleh wajib bagi wisatawan.

Kesimpulan

Jika Anda sedang merencanakan perjalanan wisata ke Jawa Tengah, jangan lupa mampir ke Batang. Jelajahi keindahan alamnya dan rasakan keunikan Gethuk Bokong yang melegenda. Selain memanjakan lidah, membeli produk ini berarti Anda turut serta memajukan UMKM lokal.

Penasaran ingin mencobanya langsung? Yuk, agendakan liburan Anda ke Batang sekarang juga!


Ringkasan Info Gethuk Bokong:
  • Lokasi: Kecamatan Bawang, Kab. Batang & Pasar Dieng.
  • Bahan Utama: Singkong, Gula Aren, Garam.
  • Harga: Rp 5.000 - Rp 12.000.
  • Waktu Terbaik Membeli: Hari Pasaran (Pahing & Wage).

Posting Komentar