Sejarah dan Asal-Usul Desa Proyonanggan Batang

Daftar Isi

Masyarakat Batang sejak dahulu dikenal memiliki tradisi tutur yang kuat dalam menjaga sejarah dan budaya. Kisah tentang asal-usul Desa Proyonanggan merupakan salah satu cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Cerita ini tidak hanya mengisahkan berdirinya sebuah desa, tetapi juga menggambarkan nilai perjuangan, keteguhan hati, dan kearifan budaya Jawa yang hidup di Batang.

Kelurahan Proyonanggan Tengah Batang

Latar Belakang Perang Mataram Melawan VOC

Sejarah Desa Proyonanggan tidak lepas dari peristiwa besar perang antara Kerajaan Mataram dan VOC. Dalam peperangan tersebut, Mataram mengalami kekalahan akibat keterbatasan persenjataan, kurangnya bahan makanan, serta jauhnya jarak tempuh dari pusat Kerajaan Mataram menuju Batavia yang bisa memakan waktu lebih dari dua bulan perjalanan.

Kondisi ini sangat memberatkan pasukan Mataram dan berdampak besar pada keberlangsungan hidup para prajuritnya.

Dilema Prajurit Mataram Pasca Kekalahan

Setelah kekalahan tersebut, para prajurit Mataram berada dalam situasi sulit. Kembali ke Mataram berarti menghadapi hukuman dan kemungkinan kematian. Sementara itu, menetap di wilayah Batavia juga berisiko tinggi karena terus diburu dan disiksa oleh VOC. Dalam kondisi terdesak inilah banyak prajurit memilih melarikan diri dan mencari tempat baru untuk bertahan hidup.

Kisah Ki Proyononggo dan Ki Proyondoko

Dalam cerita tutur masyarakat Batang, disebutkan dua prajurit Mataram kakak beradik bernama Ki Proyononggo dan Ki Proyondoko. Keduanya melarikan diri setelah pasukan Mataram tercerai-berai. Pada masa pelarian itu pula terdengar kabar gugurnya Ki Bahurekso beserta kedua putranya dalam perjalanan menuju Kesesi. Mereka wafat di wilayah Lebaksiu akibat luka parah yang diderita.

Perjalanan Menuju Wilayah Batang

Ki Proyononggo dan Ki Proyondoko kemudian bergerak ke arah timur menuju wilayah Batang. Namun kondisi Batang saat itu juga belum sepenuhnya aman. Tokoh-tokoh penting seperti Adipati Batang Kyai Mandurorejo dan Kyai Uposonto telah gugur. Meski demikian, wilayah Batang tetap dipandang sebagai tempat yang memungkinkan untuk memulai kehidupan baru.

Tapa dan Petunjuk Spiritual di Batang

Sebagai bagian dari budaya Jawa, ketika menghadapi kebimbangan dan ketidakpastian, seseorang akan melakukan tapa atau laku spiritual untuk memohon petunjuk. Ki Proyononggo dan Ki Proyondoko melakukan tapa di sebuah batu besar. Lokasi ini hingga kini dipercaya berada di sekitar Pasar Lama Batang, arah selatan, di pinggir pertokoan. Saat ini, keberadaan batu tersebut hanya tampak sebagian karena tertutup aspal.

Dari tapa tersebut, Ki Proyononggo memperoleh petunjuk untuk membuka pemukiman dan membangun sebuah desa di tempat tersebut.

Awal Mula Berdirinya Desa Proyonanggan

Dengan tekad yang kuat dan pengorbanan jiwa raga, Ki Proyononggo mulai membuka lahan dan membangun pemukiman baru. Seiring waktu, masyarakat mulai berdatangan dan menetap. Ki Proyononggo kemudian dikenal sebagai sesepuh dan tokoh utama dalam pembentukan desa tersebut.

Asal Usul Nama Desa Proyonanggan dan Kali Gendingan

Sebagai wujud rasa syukur atas terbentuknya pemukiman baru, Ki Proyononggo mengadakan tasyakuran di pinggir sungai dengan iringan gending. Dalam tasyakuran itu, beliau menyebut bahwa kelak sungai tersebut akan dinamai Kali Gendingan.

Pemukiman yang dirintis kemudian diberi nama Desa Proyonanggan, diambil dari nama Ki Proyononggo, sebagai bentuk penghormatan atas jasanya dalam membabat alas dan membangun desa.

Wafatnya Ki Proyononggo dan Warisan Budaya Batang

Ki Proyononggo wafat pada tahun 1702 dan dimakamkan di belakang Dealer Honda Cendana Wangi, Batang. Hingga kini, makam beliau masih menjadi perhatian masyarakat karena kondisinya yang kurang terawat. Padahal, Ki Proyononggo memiliki peran besar dalam sejarah dan budaya Batang, khususnya sebagai pendiri Desa Proyonanggan.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa sejarah lokal dan budaya masyarakat Batang perlu terus dijaga, dilestarikan, dan dikenalkan kepada generasi muda. Artikel ini bersumber dari penuturan dan kajian sejarah yang disampaikan oleh Leonardo Dekatpriyo.

Pada masa lalu, wilayah Kelurahan Proyonanggan memiliki cakupan wilayah yang sangat luas, membentang dari Dracik hingga Ketandan, dengan pusat pemerintahan kelurahan berada di wilayah tengah Proyonanggan. Seiring dengan perkembangan wilayah serta untuk meningkatkan efektivitas dan pemerataan pelayanan administrasi kepada masyarakat, wilayah Proyonanggan kemudian mengalami pemekaran menjadi tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Proyonanggan Selatan yang berpusat di Dracik, Kelurahan Proyonanggan Tengah yang tetap berpusat di wilayah Proyonanggan, serta Kelurahan Proyonanggan Utara yang berlokasi di Kebonan.

2 komentar

Silahkan di kritik siapa tau admin salah menulis artikel tentang Kabupaten Batang

Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar
Proyonanggan Utara hadir Pedalangan
Dulu setahun sekali ada Pasar Malam di Proyonanggan dan rame banget pengunjungnya