Tari Babalu: Identitas Batang Menuju Warisan Budaya 2026
BATANG – Di balik kacamata hitam, kaos kaki tinggi, dan topi kupluk berkuncir, tersimpan sebuah narasi heroik rakyat Kabupaten Batang melawan kolonialisme. Inilah Tari Babalu, sebuah kesenian unik yang kini tengah diperjuangkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang untuk diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada tahun 2026.
Penampilan nyentrik para penari Babalu yang bergerak serempak di bawah komando peluit bukanlah sekadar hiburan semata. Tarian ini adalah simbol "sandi perjuangan" yang sarat makna sejarah.
Filosofi "Aba-aba Dahulu": Seni sebagai Strategi Perang
Tari Babalu diperkirakan lahir di tengah berkecamuknya era kolonial sekitar tahun 1940-an. Nama "Babalu" sendiri diyakini masyarakat setempat berasal dari frasa "Aba-aba Dahulu". Filosofi ini tercermin kuat dalam struktur tariannya yang sangat bergantung pada suara peluit sebagai komando utama.
Tatik Setianingsih, pemilik Sanggar Merti Desa sekaligus pengamat seni, mengungkapkan bahwa tarian berdurasi tujuh menit ini sejatinya adalah latihan bela diri yang disamarkan.
"Tari Babalu itu intinya adalah gerakan silat. Peluit yang berbunyi prit... itu bukan sekadar musik, melainkan kode untuk mengganti strategi atau gerakan. Ini adalah cara cerdik warga Batang dahulu untuk mengelabui penjajah," jelas Tatik di Sanggar Merti Desa, Kecamatan Wonotunggal, Selasa (6/1/2026).
Setiap lengkingan peluit menandakan perubahan taktik di medan laga, mulai dari gerakan meracik obat (pembubukan) hingga manuver menumpas musuh.
Identitas Maskulin yang Kerap Salah Kaprah
Secara visual, tak jarang masyarakat awam menyamakan Babalu dengan kesenian Sintren karena kemiripan atribut. Namun, Tatik menegaskan bahwa Babalu memiliki "ruh" yang jauh berbeda.
"Memang nuansa Batang agak lekat dengan Sintren, tapi Babalu itu beda. Karakternya lebih maskulin, gagah, layaknya tentara yang sedang menyamar dan berjuang," tegasnya.
Keunikan lain dari tarian ini adalah fleksibilitas penarinya. Meski memancarkan aura kegagahan prajurit, Tari Babalu secara tradisional justru dibawakan oleh perempuan, meskipun kini penari laki-laki pun turut melestarikannya. Bagi Tatik, mengajarkan Babalu kepada generasi muda adalah kewajiban kultural karena tarian ini merupakan fondasi dasar tari sekaligus identitas asli Batang.
Optimisme Menuju Panggung Nasional
Setelah sempat mengalami masa "mati suri", Tari Babalu bangkit kembali pada tahun 1998 dan mencapai puncak popularitasnya di era 2000-an. Kini, momentum tersebut dimanfaatkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang untuk menaikkan status Babalu ke level nasional.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Batang, Camelia Dewi, menyampaikan optimisnya. Menurutnya, orisinalitas Babalu menjadi nilai tawar yang sangat kuat karena tidak ditemukan di daerah lain.
- Historis: Eksistensi terbukti sejak tahun 1940-an.
- Otentik: Merupakan identitas asli Batang dan tidak ditemukan di daerah lain.
Saat ini, seluruh berkas persyaratan mulai dari naskah akademik, dokumentasi foto, hingga video pementasan telah dikirimkan ke pemerintah pusat.
Jika lolos, Tari Babalu akan menyusul jejak pendahulunya seperti Serabi Kalibeluk, Nyadran Gunung, dan Batik Rifaiyah yang telah lebih dulu diakui sebagai WBTb. Langkah ini menjadi upaya menjaga agar pekik peluit "Aba-aba Dahulu" tetap terdengar nyaring bagi generasi masa depan.
Posting Komentar
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar