Dini Hari di Candiareng Batang: Denting Tongprek Bangunkan Sahur dan Kenangan Ramadan
Jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika suara kentongan terdengar dari ujung gang Dukuh Klopogodo, Desa Candiareng, Kecamatan Warungasem, Batang. Bunyi ritmisnya pelan, lalu semakin ramai. Warga yang masih terlelap mulai membuka mata. Tanda sahur telah tiba.
Bukan alarm ponsel, bukan pengeras suara masjid. Melainkan langkah kaki belasan pemuda Karang Taruna Bina Remaja yang berjalan sambil memainkan alat sederhana: ember bekas, kaleng, dan potongan bambu. Mereka menyebutnya tongprek.
Tradisi ini dulu lazim di banyak kampung, namun perlahan hilang tergantikan teknologi. Kini, di Candiareng, suara itu kembali hidup dan menghadirkan suasana Ramadan yang berbeda.
Bukan Sekadar Membangunkan Sahur
Sebanyak 15 pemuda berkeliling dari rumah ke rumah. Mereka tidak hanya membangunkan warga, tetapi juga menyapa, tertawa, dan menciptakan suasana hangat di tengah dinginnya malam.
“Kami ingin Ramadan terasa hidup lagi di kampung,” kata Ketua Karang Taruna Bina Remaja, M. Rendi.
Beberapa warga keluar rumah, ada yang melambaikan tangan, ada pula yang memberi minuman hangat. Anak-anak kecil bahkan ikut berjalan di belakang rombongan dengan wajah antusias.
Kegiatan masyarakat seperti ini masih sering dibagikan dalam cerita komunitas warga Batang yang menunjukkan kuatnya budaya kampung di tengah perkembangan zaman.
Ramadan yang Lebih Dekat
Bagi warga, tongprek bukan sekadar pengingat waktu makan sahur. Ia menjadi tanda bahwa Ramadan benar-benar hadir di lingkungan mereka.
Tidak ada panggung, tidak ada lomba, hanya jalan kampung dan kebersamaan. Namun justru di situlah makna muncul. Pemuda dan warga kembali saling mengenal.
“Kami ingin anak muda punya kegiatan positif, bukan hanya begadang tanpa arah,” ujar Rendi.
Aktivitas sederhana ini memperlihatkan bahwa tradisi dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan modern.
Tradisi yang Hampir Hilang
Dulu, tongprek menjadi suara khas menjelang sahur di banyak desa. Kini jarang terdengar karena masyarakat mengandalkan alarm digital. Namun Candiareng memilih cara berbeda: menjaga warisan budaya.
Pelestarian tradisi lokal seperti ini sejalan dengan gerakan sosial desa yang berkembang dalam agenda Ramadan masyarakat Batang.
Selain mempererat hubungan sosial, kegiatan ini juga menghidupkan kembali identitas kampung yang perlahan memudar.
Harapan dari Suara Kentongan
Ketika rombongan berakhir di ujung desa, langit mulai berubah gelap kebiruan. Beberapa rumah sudah menyalakan lampu dapur. Aroma masakan sahur tercium dari kejauhan.
Tradisi tongprek mungkin sederhana, tetapi dampaknya terasa. Warga merasa lebih dekat, pemuda memiliki kegiatan bermanfaat, dan suasana Ramadan menjadi lebih hidup.
Karang Taruna berharap kegiatan ini bisa terus berjalan setiap tahun dan menjadi ciri khas desa. Bahkan bukan tidak mungkin menjadi bagian dari potensi wisata budaya lokal yang sering diangkat dalam aktivitas pemberdayaan masyarakat desa.
Di Candiareng, sahur bukan hanya soal makan sebelum subuh. Ia adalah pertemuan, cerita, dan bunyi kentongan yang membawa pulang kenangan Ramadan masa kecil.

Posting Komentar
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar