Mahasiswa KKN UIN Walisongo Sampaikan Kultum Ramadhan tentang Hubungan Manusia dan Bumi di Wonokerso
WONOKERSO — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT dari UIN Walisongo Semarang mengisi kegiatan kultum (kuliah tujuh menit) pada puasa ke-6 bulan Ramadhan di Masjid Al-Huda Dukuh Wates, Desa Wonokerso.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program keagamaan mahasiswa sekaligus sarana edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan dalam perspektif Islam. Program pengabdian mahasiswa seperti ini juga sering menjadi bagian dari kegiatan sosial dan pendidikan masyarakat di Kabupaten Batang.
Dalam kultum tersebut, mahasiswa KKN mengangkat tema العَلَاقَةُ بَيْنَ الإِنْسَانِ وَالأَرْضِ yang berarti hubungan antara manusia dan bumi. Materi ini diambil dari kitab Al-Bi’ah wal-Hifazh ‘Alaiha min Manzhur Islami karya ulama Mesir, Syekh Ali Jum’ah.
Kultum Ramadhan Angkat Isu Lingkungan
Pemilihan tema ini dilatarbelakangi oleh berbagai persoalan lingkungan yang sering terjadi di Indonesia, seperti banjir, tanah longsor, serta kerusakan ekosistem di sejumlah wilayah.
Selain faktor alam, berbagai bencana tersebut juga dipengaruhi oleh menurunnya kesadaran manusia dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Contohnya penggundulan hutan, pengelolaan sampah yang kurang baik, serta berkurangnya daerah resapan air.
Berbagai persoalan lingkungan ini juga menjadi perhatian di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Batang yang memiliki potensi alam dan pertanian cukup besar seperti kawasan Kebun Benih Hortikultura Clapar Subah yang dikenal sebagai pusat pembelajaran hortikultura.
Melalui kultum ini, mahasiswa KKN mengajak masyarakat untuk memahami kembali ajaran Islam yang menempatkan pelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan.
Perspektif Islam tentang Hubungan Manusia dan Bumi
Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa Islam memandang hubungan manusia dengan bumi tidak hanya sebatas pemanfaatan sumber daya alam.
Lebih dari itu, hubungan tersebut juga mencerminkan kedekatan dan keterikatan spiritual antara manusia dan alam sebagai ciptaan Allah SWT.
Syekh Ali Jum’ah menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan bumi terbagi menjadi tiga tingkatan.
Pertama, tingkat pemanfaatan (istikhdam). Pada tahap ini manusia memandang bumi sebagai objek yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Kedua, tingkat kesadaran rasional (al-‘aql). Manusia mulai menjaga lingkungan karena memahami manfaatnya, seperti pohon yang menghasilkan oksigen, menjaga keseimbangan ekosistem, serta membantu mencegah banjir dan longsor.
Ketiga, tingkat mahabah (cinta dan kedekatan). Pada tahap tertinggi ini manusia menjaga alam bukan hanya karena manfaatnya, tetapi karena kesadaran spiritual bahwa bumi merupakan amanah dari Allah SWT.
Pesan Al-Qur’an tentang Keterkaitan Manusia dan Alam
Dalam kultum tersebut juga disampaikan pesan Al-Qur’an yang selaras dengan konsep tersebut, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Nuh ayat 17-20.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari bumi, hidup dari rezeki yang berasal dari bumi, dan pada akhirnya akan kembali kepada bumi.
Syekh Ali Jum’ah menggambarkan hubungan manusia dengan bumi layaknya kerinduan seorang anak kepada ibunya. Bumi menjadi tempat asal penciptaan manusia, sumber kehidupan, serta tempat kembali setelah kematian.
Jamaah Sambut Positif Kultum Mahasiswa KKN
Kegiatan kultum ini mendapat sambutan hangat dari jamaah Masjid Al-Huda Dukuh Wates.
Selain memperkuat nilai keagamaan di bulan Ramadhan, materi yang disampaikan juga memberikan pemahaman bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah.
Berbagai kegiatan keagamaan dan sosial di Kabupaten Batang juga sering menjadi bagian dari agenda masyarakat daerah, seperti kegiatan pameran dan promosi daerah dalam Batang Expo yang menampilkan potensi UMKM dan ekonomi kreatif lokal.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Posting Komentar
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar