Jejak Arsip Den Haag: Kisah Mbok Samin, Wanita Subah Batang Penjelajah Suriname Tahun 1928

Daftar Isi

Batang – Sejarah panjang masyarakat Kabupaten Batang ternyata tidak hanya berkutat di tanah Jawa saja. Sebuah fakta mengejutkan terungkap dari tumpukan data di Arsip Nasional Den Haag, Belanda. Siapa sangka, pada tahun 1928, ada seorang perempuan tangguh dari pelosok desa di Batang yang telah menyeberangi separuh bola bumi hingga ke Amerika Selatan.

Sosok tersebut tercatat dengan nama "Bok Samin" (kemungkinan besar panggilannya adalah Mbok Samin). Dalam dokumen kolonial tersebut, tertulis jelas bahwa beliau berasal dari Desa Djatisari, Soebah, Batang. Hingga hari ini, Desa Jatisari masih eksis secara administratif di wilayah Kecamatan Subah, Kabupaten Batang.

Arsip Foto Mbok Samin Wanita Batang di Suriname

Foto ilustrasi dokumen/sosok Mbok Samin dari arsip sejarah.

Berangkat di Usia Belia (1928)

Berdasarkan data manifestasi penumpang, Mbok Samin diberangkatkan ke Suriname pada tanggal 5 Juli 1928. Yang membuat hati bergetar, saat itu usianya diperkirakan masih sangat muda, sekitar 17 tahun. Bayangkan keberanian (atau mungkin keterpaksaan keadaan) seorang gadis desa pada masa itu, harus meninggalkan kampung halamannya di Subah menuju tanah yang asing.

Perjalanan panjang tersebut ditempuh menggunakan kapal uap legendaris bernama SS Sembilan. Berangkat dari Pelabuhan Batavia (Jakarta), kapal ini membelah samudra sejauh kurang lebih 10.006 mil laut atau setara 18.531 kilometer. Perjalanan laut yang memakan waktu sekitar 3 bulan itu tentu penuh dengan cerita suka duka yang tak terbayangkan oleh generasi sekarang.

Baca Juga: Subah memang menyimpan banyak cerita sejarah, termasuk di era revolusi. Simak kisah heroik lainnya di artikel: Sejarah Perjuangan Rakyat di Sekitar Wilayah Tulis dan Subah.

Merantau di Perkebunan Alliance

Setibanya di pelabuhan Paramaribo, Suriname, Mbok Samin tidak tinggal di ibu kota. Beliau ditempatkan dan dipekerjakan di sebuah kota kecil bernama Alliance. Di sinilah beliau menghabiskan masa mudanya sebagai pekerja kontrak (kemungkinan di perkebunan tebu atau kopi yang umum saat itu).

Secara aturan, kontrak kerja para perantau Jawa biasanya berdurasi 5 tahun (dari 21 Juni 1928 hingga 21 Juni 1933). Namun, nasib berkata lain. Mbok Samin tercatat tinggal lebih lama dari masa kontrak aslinya. Beliau baru bisa pulang ke tanah Jawa pada tanggal 28 Oktober 1937, atau molor sekitar 4 tahun dari jadwal kepulangan seharusnya.

Pulang Membawa Keluarga

Kepulangan Mbok Samin ke Jawa menggunakan kapal uap SS Blitar. Ada fakta menarik yang menyentuh sisi kemanusiaan dari data arsip ini. Ternyata, selama di tanah rantau, Mbok Samin sempat membangun keluarga. Saat menaiki tangga kapal SS Blitar untuk pulang, beliau tidak sendirian, melainkan membawa serta dua orang anaknya yang bernama Rameslan dan Masinem.

Ini membuktikan bahwa di tengah kerasnya kehidupan sebagai pekerja kontrak di negeri orang, kehidupan sosial dan keluarga tetap berjalan. Mbok Samin adalah bukti ketangguhan wanita Batang yang mampu bertahan hidup, menjadi ibu, dan akhirnya berhasil kembali ke tanah leluhur.

Kisah-kisah masa lalu seperti ini seringkali terlupakan seiring perubahan zaman. Mari bernostalgia sejenak melihat suasana Batang di masa lalu lewat artikel: Potret Nostalgia Kehidupan di Kota Batang Tempo Dulu.

Fakta Sejarah: Kapal yang Tenggelam di Perang Dunia II

Sebagai informasi tambahan yang menambah dramatis kisah ini, kedua kapal yang pernah menjadi saksi bisu perjalanan hidup Mbok Samin mengalami nasib tragis saat Perang Dunia II (1943):

  • SS Sembilan: Kapal yang membawanya pergi, tenggelam setelah ditorpedo oleh kapal selam Italia, Leonardo Da Vinci.
  • SS Blitar: Kapal yang membawanya pulang, juga karam akibat serangan torpedo dari kapal selam U-Boat milik Nazi Jerman.

Beruntung, Mbok Samin dan anak-anaknya sudah kembali ke Jawa beberapa tahun sebelum tragedi kapal tersebut terjadi.

Mencari Jejak Keturunan

Kisah ini bukan sekadar data statistik. Ini adalah cerita tentang manusia, tentang nenek moyang kita. Pertanyaan besarnya adalah: Masih adakah anak cucu atau keturunan dari Ibu Masinem atau Bapak Rameslan di Desa Jatisari, Subah?

Jika ada pembaca yang merasa memiliki hubungan kekerabatan atau mengetahui cerita turun-temurun ini, jangan ragu untuk berbagi cerita. Ini adalah bagian dari mozaik sejarah Kabupaten Batang yang sangat berharga.

Dapatkan informasi unik dan sejarah tersembunyi lainnya seputar daerah kita hanya di mBatang.com - Menggali Potensi dan Sejarah Kabupaten Batang.

Sumber Data: Penelusuran Arsip Nasional Den Haag & Kontribusi Rohmah Indah di Komunitas Batang Berkembang.

2 komentar

Silahkan di kritik siapa tau admin salah menulis artikel tentang Kabupaten Batang

Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar
Artikel yang menarik. Saya dapat link arsip dari teman yang bertugas di suriname, ternyata banyak juga putra-putri Batang yang dibawa ke Suriname. Barangkali diantara pembaca ada yang membutuhkan informasi tersebut.
http://www.gahetna.nl/en/collectie/index/nt00346/q/zoekterm/batang/q/comments/1/f/content_type/geografische_aanduiding/pagina/1
Saya sangat suka Pahlawan Bersejarah terima kasih telah berbagi semoga Kab Batang semakin berkibar dan kreatif