Asal Usul Sintren Batang: Kisah Cinta Terlarang Sulandono hingga Mitos Dewi Lanjar

Daftar Isi

Batang – Tanah Jawa memiliki ragam kebudayaan yang kental dengan nuansa mistis dan sejarah, salah satunya adalah Kesenian Sintren. Di Kabupaten Batang dan sekitarnya, tarian ini bukan sekadar hiburan rakyat biasa, melainkan sebuah ritual budaya yang menyimpan kisah romansa legenda masa lalu.

Banyak yang mengenal Sintren karena atraksi magisnya, di mana seorang penari wanita dapat berganti kostum dalam hitungan detik di dalam kurungan ayam. Namun, tahukah Anda bagaimana sejarah kelam yang melatarbelakanginya?

Pertunjukan Tari Sintren Tradisional Batang

Ilustrasi: Penari Sintren bersiap melakukan pertunjukan (Dok. Mbatang.com)

Legenda Cinta Terhalang Restu

Akar sejarah Sintren tidak bisa dilepaskan dari cerita rakyat mengenai Raden Sulandono dan Sulasih. Raden Sulandono adalah putra dari Ki Baurekso (Bupati pertama Batang) hasil pernikahannya dengan Dewi Rantamsari.

Dikisahkan, Raden Sulandono menjalin asmara dengan Sulasih, seorang kembang desa dari Desa Kalisalak. Namun, hubungan ini mendapat pertentangan keras dan tidak direstui oleh Ki Baurekso. Akibat halangan tersebut, Raden Sulandono memilih untuk pergi bertapa, sementara Sulasih mengabdikan dirinya menjadi seorang penari.

Meskipun raga mereka terpisah, cinta mereka tetap terjalin melalui dimensi gaib. Pertemuan mistis ini difasilitasi oleh ibunda Sulandono, Dewi Rantamsari, yang konon memasukkan roh bidadari ke dalam tubuh Sulasih.

"Pada saat Sulasih menari dalam keadaan kerasukan roh bidadari, roh Dewi Rantamsari akan memanggil putranya yang sedang bertapa untuk datang menemui kekasihnya di alam gaib."

Ritual Magis dan Syarat Kesucian

Berdasarkan legenda tersebut, seni tari Sintren berkembang dengan pakem yang unik. Penari Sintren haruslah seorang gadis yang masih suci (perawan). Hal ini diyakini sebagai syarat mutlak agar roh bidadari bersedia masuk ke dalam tubuh sang penari melalui mantra yang dibacakan oleh seorang Pawang.

Dalam pertunjukannya, Sintren biasanya diiringi oleh gending gamelan sederhana dan nyanyian sinden. Kini, untuk menambah unsur hiburan, pagelaran Sintren sering dilengkapi dengan penari latar dan sosok Bodor (pelawak) yang berinteraksi jenaka dengan penari maupun penonton.

Koneksi dengan Ratu Pantai Utara

Masyarakat pesisir Batang dan Pekalongan juga meyakini adanya campur tangan penguasa Pantai Utara, Dewi Lanjar.

Dalam beberapa versi permainan kesenian rakyat ini, sang Pawang sering kali turut mengundang roh Dewi Lanjar. Dipercaya, apabila roh Dewi Lanjar berhasil "hadir" dalam ritual tersebut, sang penari Sintren akan memancarkan aura kecantikan yang luar biasa, gerakannya menjadi lebih lincah, luwes, dan mempesona siapa saja yang melihatnya.

Telusuri Lebih Jauh Tentang Sejarah Batang:

Ingin mengetahui lebih banyak tentang tokoh-tokoh legenda yang disebutkan di atas? Simak artikel terkait berikut:

Melestarikan Kesenian Sintren berarti merawat ingatan kolektif kita tentang sejarah dan kearifan lokal. Mari terus dukung budaya asli daerah!

2 komentar

Silahkan di kritik siapa tau admin salah menulis artikel tentang Kabupaten Batang

Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar
Di Pekalongan dan Pemalang juga ada tradisi tari Sintren
Iya, Sintren tak hanya ada di Batang, tarian ini ada di sepanjang pantura. Di Batang sendiri terakhir Sintren bisa saya nikmati di tahun 1984. Entah di masa-masa sekarang.