Jejak Karomah Pangeran Kajoran: Misteri Pancuran Sendang Depok dan Asal-Usul Desa Sodong Batang

Daftar Isi

Sejarah peradaban Islam di Kabupaten Batang menyimpan banyak kisah menakjubkan yang memadukan unsur spiritualitas, perjuangan, dan kearifan lokal. Setelah keberhasilan syiar Islam di Desa Gringgingsari yang membuat wabah penyakit sirna, kehidupan masyarakat setempat berangsur pulih. Di bawah bimbingan ulama kharismatik Syekh Syarif Abdurrahman atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Kajoran, masyarakat mulai menata kehidupan yang lebih religius dan tentram.

Namun, jejak sang Pangeran tidak berhenti di situ. Perjalanan beliau dalam membangun sarana ibadah melahirkan situs-situs bersejarah baru yang hingga kini masih dikeramatkan dan menjadi destinasi wisata religi, yakni Pancuran Sendang Depok dan cikal bakal Desa Sodong. Berikut adalah kisah lengkapnya.

Pemandangan alam Desa Sodong Wonotunggal Batang
Keasrian alam di sekitar wilayah Sodong dan Gringgingsari

Misi Pencarian Bahan Masjid dan Asal-Usul "Garung"

Kisah bermula ketika semangat beribadah masyarakat sedang tinggi-tingginya. Pangeran Kajoran berinisiatif mengajak beberapa warga masuk ke hutan belantara. Tujuan mereka adalah mencari bambu berkualitas baik untuk dijadikan rangken (kerangka atap) guna pembangunan Masjid Desa Gringgingsari.

Di tengah hutan tersebut, Pangeran Kajoran sempat memiliki niat mulia untuk mendirikan sebuah masjid atau langgar sebagai tempat ibadah. Namun, karena berbagai faktor dan pertimbangan alam, niat tersebut urung dilaksanakan. Lokasi rencana pembangunan yang gagal tersebut kemudian dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Garung, yang merupakan akronim dari bahasa Jawa: "Langgar sing Wurung" (Mushola yang tidak jadi dibangun).

Karomah Tongkat Sakti dan Mata Air Sendang Depok

Saat matahari mulai meninggi dan waktu shalat tiba, rombongan Pangeran Kajoran mengalami kesulitan. Mereka tidak menemukan sumber air untuk berwudhu di tengah hutan yang lebat itu. Dalam kondisi mendesak ini, Pangeran Kajoran menunjukkan karomah (keistimewaan) beliau sebagai seorang Waliyullah (Kekasih Allah).

Dengan memohon izin kepada Allah SWT, beliau menancapkan tongkatnya ke tanah. Seketika itu juga, memancarlah air yang jernih dari bekas tancapan tongkat tersebut. Untuk memudahkan para pengikutnya mengambil air wudhu, dibuatlah pancuran sederhana dari bambu.

Ilustrasi mata air pegunungan di Batang

Filosofi Nama "Depok"

Setelah selesai menunaikan shalat berjamaah, rombongan tersebut beristirahat untuk melepas lelah. Mereka duduk santai di atas tanah atau dalam bahasa Jawa disebut ndeprok. Kebiasaan beristirahat sambil ndeprok di sekitar mata air inilah yang kemudian melahirkan nama tempat tersebut menjadi Depok.

Khasiat Air Sendang Depok:
Hingga saat ini, Pancuran Sendang Depok menjadi tujuan wisata religi. Airnya dipercaya memiliki kandungan mineral alami yang sangat tinggi. Banyak peziarah yang meminumnya langsung tanpa dimasak karena rasanya yang segar. Selain itu, atas izin Allah, air ini diyakini sebagian masyarakat dapat menjadi perantara kesembuhan berbagai penyakit.

Lokasi Pancuran Depok berjarak sekitar 2 km ke arah selatan dari Desa Gringgingsari. Akses menuju lokasi ini cukup menantang dengan tanjakan di Gunung Klengkong. Meskipun jalan telah dilebarkan sejak tahun 2009 dan bisa dilalui kendaraan, pengunjung disarankan tetap berhati-hati, terutama saat musim hujan karena kondisi jalan yang licin (belum aspal penuh).

Lahirnya Desa Sodong dan "Ompyong"

Perjalanan mencari bambu belum usai. Rombongan kembali menembus hutan, keluar masuk semak belukar. Karena kelelahan dan belum menemukan bambu yang cocok, mereka memutuskan untuk membuat tempat berteduh sederhana sementara waktu.

Tempat berteduh tersebut dinamakan Sodong atau Ompyong. Dari sinilah cikal bakal nama Desa Sodong lahir. Secara geografis, Desa Sodong terletak di sebelah selatan wilayah Gringgingsari.

Jalan menuju Desa Sodong Batang

Mitos "Dapuran Larangan" (Rumpun Bambu Keramat)

Akhirnya, usaha keras mereka membuahkan hasil. Rumpun bambu yang dicari berhasil ditemukan. Bambu-bambu tersebut kemudian ditebang dan dibawa ke tanah lapang untuk diproses.

Menariknya, rumpun bambu (dapuran) tersebut kemudian tumbuh kembali dan oleh masyarakat Desa Sodong dijadikan simbol konservasi adat. Area ini disebut Dapuran Larangan (Rumpun Terlarang). Artinya, bambu di area ini disengker (dijaga/dilarang) untuk ditebang oleh siapapun, kecuali untuk kepentingan umum yang mendesak.

Situs Istirahat yang Hilang

Selain rumpun bambu, bekas tempat duduk istirahat Pangeran Kajoran saat bekerja juga sempat dikeramatkan. Masyarakat memagarinya dan melarang siapapun duduk di atasnya karena takut akan bebendu (kutukan/laknat). Namun, seiring perkembangan zaman, situs pagar keramat ini telah hilang. Pada tahun 1973, lokasi tersebut tergusur oleh proyek pembangunan Sekolah Dasar (SD) Inpres dan pelebaran jalan desa.


Meskipun beberapa situs fisik telah berubah bentuk karena modernisasi, nilai sejarah dan spiritualitas Pangeran Kajoran tetap melekat kuat di hati masyarakat Desa Sodong dan Gringgingsari. Jika Anda berkunjung ke Batang, sempatkanlah untuk mencicipi kesegaran air di Pancuran Depok dan meresapi ketenangan alam Desa Sodong.

Referensi Sejarah: gringgingsari.wordpress.com | Kredit Foto: Agustin Ayunk & Dokumentasi Mbatang.com

1 komentar

Silahkan di kritik siapa tau admin salah menulis artikel tentang Kabupaten Batang

Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar
Pingin Bgt Main mbolang ke curug sodong tp ndak ada teman