Kisah Legenda Desa Jolosekti Tulis
BATANG – Kabupaten Batang tidak hanya dikenal dengan keindahan alam pesisirnya, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah dan cerita rakyat (folklore) yang melegenda. Salah satu kisah yang masih dipercaya dan dihormati hingga kini adalah sejarah berdirinya Desa Jolosekti di Kecamatan Tulis. Kisah ini erat kaitannya dengan masa kejayaan Kerajaan Mataram Islam dan perjalanan spiritual para Waliyullah di tanah Jawa.
Legenda ini bermula dari sebuah pusaka sakti berwujud jala (jaring) dan pencarian ikan mistis yang menjadi syarat khusus dari keraton. Bagaimana kisahnya? Simak ulasan mendalam mengenai sejarah Desa Jolosekti yang menjadi warisan budaya tak benda masyarakat Batang berikut ini.
Area Makam Kyai Jolosekti yang kini menjadi destinasi wisata religi di Batang.
Permintaan Sang Permaisuri Mataram dan Ikan Mistis
Kisah bermula pada masa pemerintahan Panembahan Hanyokrowati (dikenal juga sebagai Panembahan Seda Ing Krapyak), raja kedua Mataram Islam yang merupakan putra dari Panembahan Senopati. Kala itu, suasana keraton sedikit tegang karena sang Permaisuri yang tengah mengandung (hamil muda) mengalami "ngidam" yang tidak biasa.
Sang Permaisuri menginginkan santapan berupa ikan Waderbang Sisik Kencono, atau ikan Wader berwarna merah dengan sisik kuning keemasan yang berkilauan. Permintaan ini disampaikan terus-menerus kepada Sinuwun Hanyokrowati.
Namun, Sinuwun Hanyokrowati yang memiliki ketajaman batin (waskita) menyadari bahwa ikan tersebut bukanlah hewan sembarangan. Konon, Ikan Waderbang Sisik Kencono tersebut adalah penjelmaan sukma dari kakaknya sendiri, Pangeran Wiro Nenggolo. Sang Pangeran dikisahkan memiliki ambisi besar untuk menjadi raja hingga melakukan pertapaan di luar batas kemampuan raganya, yang akhirnya menyebabkan ia meninggal dunia (moksa) dan sukmanya menyusup ke dalam wujud ikan tersebut.
Tugas Berat Ki Ageng Gribig dan Jala Sutra Emas
Menyadari kesulitan dan unsur mistis dari permintaan tersebut, Sinuwun Hanyokrowati teringat pada sosok sakti mandraguna, yakni Ki Ageng Gribig. Ki Ageng Gribig dikenal memiliki pusaka ampuh berupa jala yang terbuat dari benang sutra bertampangkan emas murni. Karena kepemilikan pusaka inilah, beliau juga dijuluki sebagai Ki Ageng Jolosutro.
Raja kemudian menitahkan Ki Ageng Gribig untuk mencari dan menangkap ikan Waderbang Sisik Kencono tersebut. Tanpa membantah, Ki Ageng Gribig memulai pengembaraannya menyusuri aliran sungai-sungai di tanah Jawa, memohon petunjuk Sang Pencipta untuk menemukan keberadaan ikan jelmaan tersebut.
Jejak di Tanah Batang dan Kesaktian Nyai Saketi
Perjalanan spiritual tersebut membawa Ki Ageng Gribig sampai ke wilayah pesisir utara, tepatnya di daerah yang sekarang masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Batang. Di sebuah lokasi di Kecamatan Tulis, beliau mendirikan pondok sederhana sebagai tempat peristirahatan sekaligus tempat bermunajat (bertapa) meminta petunjuk Allah SWT.
Di masa itu, daerah tersebut mengalami kesulitan air irigasi. Sungai yang ada hanya mengalir begitu saja tanpa bisa dimanfaatkan maksimal untuk mengairi sawah penduduk yang mulai mengering. Istri Ki Ageng Gribig, Nyai Rubiyah atau yang lebih dikenal dengan julukan Nyai Saketi, merasa iba melihat penderitaan warga.
Sementara sang suami masih khusyuk dalam pertapaannya mencari ikan mistis, Nyai Saketi—yang sejatinya juga seorang Wali Nu'bah (wanita sholehah dengan karomah tinggi)—memutuskan untuk bertindak. Ia tidak ingin mengganggu suaminya, namun juga tak tega membiarkan warga kelaparan karena gagal panen.
Dengan memohon izin Allah, Nyai Saketi mengambil pusaka Jala Sutra milik suaminya. Ia membawanya ke pinggir sungai, melemparkannya, dan menarik jala tersebut. Ajaibnya, bekas tarikan jala tersebut seketika berubah menjadi aliran sungai baru yang membelok dan mampu mengairi persawahan penduduk. Air melimpah ruah, membawa berkah kesuburan bagi tanah sekitarnya hingga hari ini.
Lahirnya Nama Desa Jolosekti
Peristiwa ajaib (karomah) penciptaan aliran sungai menggunakan pusaka jala tersebut membuat takjub penduduk setempat. Sejak saat itu, Ki Ageng Gribig dikenal dengan sebutan Kyai Jolosekti (Jala yang Sakti). Wilayah tempat kejadian tersebut kemudian dinamakan Desa Jolosekti, sebagai bentuk penghormatan abadi atas jasa kedua tokoh tersebut.
Dalam versi tutur lokal, Kyai Jolosekti ini juga sering diidentikkan dengan sosok Sunan Geseng, salah satu murid kinasih dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Hal ini menambah bobot nilai sejarah dan spiritual desa ini sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di jalur Pantura pada masanya.
Potensi Wisata Religi dan Pelestarian Budaya
Hingga kini, petilasan dan makam Kyai Jolosekti serta Nyai Rubiyah masih dijaga keberadaannya oleh masyarakat setempat. Situs ini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang kerap dikunjungi peziarah yang ingin mendoakan para leluhur dan mengambil hikmah perjuangan mereka.
Makam ini juga telah mengalami pemugaran (renovasi) agar lebih layak dan nyaman bagi peziarah, salah satunya berkat bantuan donatur Bpk. Garot Suyudono. Upaya "uri-uri budaya" (melestarikan budaya) ini sangat penting agar generasi muda Batang tidak kehilangan identitas sejarahnya.
Kisah Legenda Desa Jolosekti ini, yang ditulis kembali berdasarkan catatan Leonardo Dekat-priyo (Wong Sudro Ing Tlatah Kutho mBatang), merupakan sastra lisan yang patut kita jaga. Kebenaran mutlak tentu hanya milik Allah SWT (Allahua'lam bishawab), namun nilai moral tentang pengorbanan, ketaatan pada pemimpin, dan kepedulian sosial di dalamnya adalah teladan nyata.
Baca Juga Legenda Menarik Lainnya di Batang:
- Misteri dan Asal-Usul Desa Terate serta Kebanyon
- Sejarah Desa Penundan Gringsing dan Kisah Syekh Jabang Bayi
- Legenda Desa Rowo Belang dan Kesaktian Tombak Pusaka Kyai Pulung
Semoga ulasan mengenai sejarah Desa Jolosekti ini dapat menambah wawasan kebangsaan dan kecintaan kita pada budaya lokal. Jangan lupa untuk berkunjung ke Batang dan menelusuri jejak-jejak sejarah yang memukau ini.