Misteri Kyai Jurit dan Fenomena Sungai Kalibalik: Jejak Prajurit Mataram Sultan Agung yang Terlupakan di Batang

Daftar Isi

BATANG – Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menyimpan segudang cerita sejarah yang beririsan erat dengan masa kejayaan Kerajaan Mataram Islam. Di balik pesona jalur Pantura yang sibuk, terdapat sebuah desa di Kecamatan Banyuputih yang memiliki nama unik dan sejarah yang tak kalah menarik, yaitu Desa Kalibalik.

Nama "Kalibalik" bukan sekadar label tanpa makna. Di balik nama tersebut, tersimpan fenomena alam yang tidak lazim dan kisah heroik seorang tokoh pendiri desa (Cikal Bakal) bernama Kyai Jurit. Sayangnya, situs sejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan melawan kolonialisme ini kini kondisinya cukup memprihatinkan dan luput dari perhatian publik.

Makam Kyai Jurit Desa Kalibalik Banyuputih Batang
Kondisi situs Makam Kyai Jurit yang sederhana di belakang Balai Desa Kalibalik.

Jejak Prajurit Mataram di Tanah Batang

Untuk memahami asal-usul Kyai Jurit, kita harus menarik garis waktu mundur ke abad ke-17, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645) dari Kerajaan Mataram Islam. Pada masa itu, Sultan Agung memiliki ambisi besar untuk mengusir VOC (Belanda) dari Batavia. Batang dan kawasan Alas Roban menjadi salah satu lumbung logistik dan pos pertahanan strategis bagi pasukan Mataram sebelum menyerbu Batavia.

Menurut tutur sejarah lisan warga setempat, nama "Jurit" sendiri diyakini berasal dari penggalan kata "Prajurit". Kyai Jurit adalah salah satu anggota pasukan elit Mataram yang ikut dalam ekspedisi penyerangan ke Batavia. Namun, pasca pertempuran atau dalam perjalanan, beliau memilih untuk tidak kembali ke pusat pemerintahan Mataram di Yogyakarta.

Ada berbagai versi mengapa para prajurit ini enggan pulang. Sebagian sejarawan lokal menyebut karena faktor kekalahan perang sehingga malu untuk kembali, sebagian lagi menyebut mereka ditugaskan secara khusus (telik sandi) untuk menjaga wilayah pesisir utara Jawa (Pantura) dari ekspansi Belanda. Kyai Jurit kemudian menetap, membuka hutan (Babat Alas), dan menjadi sesepuh atau Shohibul Wilayah di tempat yang kini dikenal sebagai Kalibalik.

Kisah heroisme seperti ini menambah kekayaan sejarah Batang, melengkapi situs-situs lain yang juga perlu dilestarikan, seperti halnya Taman Makam Pahlawan Kadilangu yang menjadi tempat peristirahatan para pejuang kemerdekaan era modern.

Situs Sejarah Kyai Jurit Batang
Peninggalan sejarah yang menjadi cikal bakal Desa Kalibalik.

Fenomena Anomali Sungai: Mengapa Disebut Kalibalik?

Nama Desa Kalibalik diambil dari sebuah fenomena alam yang unik dan jarang terjadi. Secara topografi umum di Pulau Jawa, sungai-sungai akan mengalir dari dataran tinggi (pegunungan di sisi selatan) menuju ke dataran rendah (laut di sisi utara).

Namun, keanehan terjadi di desa ini. Sungai (Kali) yang melintasi wilayah ini justru mengalir terbalik. Air sungai yang seharusnya mengalir ke utara menuju Laut Jawa, justru mengalir ke arah selatan menuju tempat yang secara visual terlihat lebih tinggi. Anomali aliran sungai inilah yang kemudian melahirkan nama "Kali Balik" atau sungai yang mengalir terbalik.

Fenomena ini sering dikaitkan dengan karomah atau kesaktian Kyai Jurit dalam membelokkan aliran air untuk kebutuhan irigasi atau strategi pertahanan masa lampau. Namun secara geologis, hal ini bisa terjadi karena adanya patahan lempeng atau kontur cekungan tanah lokal yang unik di kawasan Banyuputih.

Keunikan alam seperti ini sebenarnya memiliki potensi wisata yang besar jika dikelola dengan baik, layaknya potensi wisata alam di Paralayang Bukit Sikuping Banyuputih yang lokasinya tidak jauh dari desa ini.

Kondisi Makam Kyai Jurit yang Memprihatinkan
Area sekitar makam yang membutuhkan perhatian pemerintah dan masyarakat.

Kondisi Situs Saat Ini: Memprihatinkan dan Terabaikan

Meskipun memiliki nilai sejarah yang tinggi sebagai tokoh pendiri desa dan prajurit Kerajaan Mataram, kondisi makam Kyai Jurit saat ini sangat jauh dari kata layak. Lokasi makam yang berada tepat di belakang Balai Desa Kalibalik, Kecamatan Banyuputih, seharusnya memudahkan akses perawatan, namun kenyataannya justru terkesan terbengkalai.

Berdasarkan pantauan dan dokumentasi foto, area makam terlihat sederhana tanpa cungkup yang memadai. Dinding-dinding pembatas tampak kusam dan ditumbuhi lumut, serta minimnya papan informasi sejarah membuat generasi muda desa mungkin tidak mengenal siapa sosok agung yang bersemayam di sana.

"Kondisinya sangat memprihatinkan seperti yang terlihat di foto," ujar Leonardo Dekat-priyo, narasumber yang mendokumentasikan situs ini. Hal ini menjadi ironi di tengah geliat pembangunan infrastruktur desa yang masif.

Lokasi Makam Belakang Balai Desa Kalibalik
Situs sejarah yang menanti revitalisasi.

Harapan Revitalisasi Menjadi Wisata Religi

Potensi Desa Kalibalik sebenarnya sangat besar. Kombinasi antara fenomena alam sungai terbalik dan situs sejarah Kyai Jurit bisa dikemas menjadi paket Wisata Religi dan Edukasi Sejarah. Lokasinya yang strategis di jalur Pantura dan dekat dengan Wisata Pantai Celong menjadikan Kalibalik mudah diakses wisatawan.

Masyarakat dan pegiat sejarah berharap adanya perhatian dari Pemerintah Desa Kalibalik maupun Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Batang untuk melakukan revitalisasi. Pembangunan cungkup makam, pembersihan area, serta pembuatan narasi sejarah yang jelas akan mengangkat martabat Kyai Jurit sebagai pahlawan lokal.

Kesimpulan

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, termasuk pahlawan lokal yang membuka peradaban desa. Kyai Jurit bukan sekadar legenda, beliau adalah bukti nyata eksistensi perjuangan Mataram di tanah Batang. Menyelamatkan situs makam Kyai Jurit berarti menyelamatkan identitas Desa Kalibalik itu sendiri.

Semoga ulasan sejarah bersumber dari Wong Sudro Ing Tlatah Kutho mBatang ini dapat menggugah kesadaran kita semua untuk lebih peduli terhadap warisan leluhur. (Tim Redaksi mBatang).

Posting Komentar