Harga Daging Ayam di Batang Meroket Pedagang Keluhkan Sepi Pembeli
Batang – Lorong-lorong Pasar Batang yang biasanya riuh rendah oleh tawar-menawar, belakangan ini terasa sedikit berbeda. Bagi para pedagang ayam, langkah kaki terasa lebih berat di pertengahan Februari 2026 ini. Di tengah antusiasme menyambut dua momen besar sekaligus—bulan suci Ramadan dan perayaan Tahun Baru Imlek—suasana pasar justru diselimuti kelesuan.
Penyebabnya bukan hal baru, namun tetap menyesakkan dada: harga daging ayam yang merangkak naik secara signifikan. Fenomena ini menjadi paradoks tahunan; di saat pedagang berharap memanen rezeki dari momentum hari raya, lonjakan harga justru menjadi tembok tebal yang menghalangi daya beli masyarakat.
Lonjakan Harga di Pasar Batang: Data Lapangan
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi pada Rabu (18/2/2026), grafik harga kebutuhan pokok, khususnya protein hewani, menunjukkan tren kenaikan yang tajam. Murindayah (57), salah satu pedagang ayam potong senior di Pasar Batang, tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Ia mengungkapkan bahwa harga ayam potong kini telah menyentuh angka psikologis baru. "Sudah naik sekitar semingguan ini. Sekarang Rp42.000 per kilogram. Sebelumnya masih di kisaran Rp38.000 sampai Rp40.000," ujarnya saat ditemui di lapaknya.
Bagi Anda yang rutin memantau berita seputar Batang, kenaikan Rp2.000 hingga Rp4.000 mungkin terdengar wajar. Namun bagi pedagang pasar tradisional, selisih ini cukup untuk membuat pelanggan berpikir dua kali.
“Biasanya kalau mau puasa mulai ramai, tapi sekarang masih sepi. Tak hanya ayam potong, ayam kampung pun ikut 'terbang' harganya,” tambah Murindayah dengan nada resah.
Ayam Kampung Tembus Rp100 Ribu, Prediksi Lebaran Makin Ngeri
Situasi lebih ekstrem terjadi pada komoditas ayam kampung. Atun (40), pedagang lainnya, melaporkan bahwa harga ayam kampung kini bertengger kokoh di angka Rp100.000 per kilogram. Angka ini naik sepuluh ribu rupiah dari harga normal sebelumnya.
"Naiknya sejak dua hari ini. Memang polanya begitu, kalau mau puasa dan suasana Imlek, harga pasti naik," ungkap Atun. Namun, yang mengerikan adalah prediksinya ke depan. Ia memperkirakan jika tren ini berlanjut hingga puncak Ramadan dan Lebaran nanti, harga ayam kampung bisa meroket hingga Rp125.000 per kilogram.
Dilema Konsumen: "Cukup Daging Saja, Jangan Pakai Tetelan"
Kenaikan harga ini memaksa konsumen di Batang memutar otak dan mengubah pola belanja mereka. Sri (58), pedagang yang juga merasakan dampak ini, menceritakan betapa sulitnya menjual bagian ayam selain daging utama.
“Ceker, balungan, kepala susah jualnya sekarang. Yang dicari kebanyakan dagingnya saja,” tuturnya. Saat harga melambung, pembeli cenderung pragmatis; mereka hanya ingin membayar untuk bagian yang paling mengenyangkan, mengabaikan bagian pelengkap yang biasanya laris untuk kaldu atau sup.
Sri dan rekan-rekannya sangat berharap harga bisa segera terkoreksi ke angka stabil, yakni sekitar Rp37.000 hingga Rp38.000. “Sekarang mahal. Biasanya Rp37 ribu atau Rp38 ribu sekilo. Kalau Lebaran paling Rp40 ribu, itu wajar. Kalau sekarang sudah Rp42 ribu, nanti Lebaran berapa?” keluhnya.
Analisis Ekonomi: Mengapa Harga Pangan Selalu Naik Jelang Hari Raya?
Fenomena yang terjadi di Pasar Batang ini sebenarnya adalah cerminan mikrokosmos dari hukum ekonomi dasar: Supply and Demand. Namun, di tahun 2026 ini, ada beberapa faktor eksternal yang membuat kenaikan harga terasa lebih "menggigit" bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Memahami penyebab kenaikan ini penting bagi kita untuk mengatur manajemen keuangan rumah tangga agar tidak boncos sebelum Lebaran tiba.
1. Rantai Distribusi dan Biaya Pakan
Kenaikan harga daging ayam seringkali dipicu oleh naiknya harga pakan ternak (jagung dan konsentrat) di tingkat peternak. Ketika biaya produksi (HPP) di tingkat kandang naik, maka harga di tingkat broker hingga pengecer di pasar tradisional seperti Pasar Batang otomatis akan menyesuaikan.
2. Psikologi Pasar (Market Psychology)
Ada tendensi "aji mumpung" dalam siklus ekonomi musiman. Pedagang besar mengantisipasi lonjakan permintaan saat Imlek dan munggahan (jelang puasa), sehingga stok ditahan atau harga dinaikkan secara bertahap. Ini adalah tantangan bagi pemerintah daerah untuk melakukan operasi pasar guna menstabilkan inflasi daerah.
Strategi Belanja Cerdas di Tengah Lonjakan Harga
Bagi ibu rumah tangga atau pelaku usaha kuliner di Batang, situasi ini tentu membingungkan. Bagaimana caranya tetap menyajikan hidangan bergizi atau menjaga margin keuntungan warung makan saat bahan baku utama naik? Berikut adalah beberapa strategi perencanaan anggaran belanja yang bisa diterapkan:
- Diversifikasi Protein: Jangan terpaku hanya pada daging ayam. Ikan tawar atau ikan laut yang banyak tersedia di pesisir Batang bisa menjadi alternatif protein yang lebih terjangkau dan tak kalah bergizi. Anda bisa mengecek update harga komoditas lain di informasi pasar daerah.
- Beli Grosir atau Patungan: Membeli ayam utuh jauh lebih murah dibandingkan membeli per bagian (fillet). Ajak tetangga atau saudara untuk membeli dalam jumlah besar (partai) langsung ke distributor jika memungkinkan, lalu dibagi rata.
- Food Prepping (Stok Beku): Jika Anda menemukan harga yang sedikit miring, jangan ragu untuk membeli lebih dan menyimpannya di freezer. Teknik food preparation yang baik bisa menjaga kualitas daging ayam hingga berbulan-bulan, mengamankan stok Anda sebelum harga naik lagi menjelang Idul Fitri.
Dampak Bagi UMKM Kuliner di Batang
Kenaikan harga ini bukan hanya masalah dapur rumah tangga, tapi juga ancaman bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Warung Tegal (Warteg), penjual ayam geprek, hingga pedagang soto di sekitar alun-alun Batang kini berada di posisi dilematis: menaikkan harga jual berisiko ditinggal pelanggan, namun bertahan di harga lama berarti menggerus keuntungan.
Pelaku usaha disarankan untuk melakukan efisiensi operasional. Misalnya, mengurangi porsi sedikit tanpa mengurangi rasa, atau membuat variasi menu paket hemat. Inovasi adalah kunci bertahan di tengah fluktuasi harga bahan pokok tahun 2026 ini.
Harapan Pedagang dan Peran Pemerintah
Kembali ke lorong Pasar Batang, harapan Murindayah, Atun, dan Sri sebenarnya sederhana. Mereka tidak meminta keuntungan berlipat ganda, melainkan stabilitas.
Stabilitas harga berarti pembeli datang tanpa ragu. Stabilitas berarti perputaran uang yang sehat bagi pedagang kecil. Mereka merindukan keriuhan pasar yang sesungguhnya, di mana transaksi terjadi dengan senyum, bukan dengan kening berkerut menghitung sisa uang belanja.
Semoga momen Ramadan dan Imlek tahun ini tidak menjadi beban, melainkan tetap menjadi berkah bagi seluruh lapisan masyarakat Batang. Mari kita dukung pedagang pasar tradisional dengan tetap berbelanja di sana, sembari berharap adanya kebijakan stabilisasi harga yang efektif dari dinas terkait.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan berita lokal, wisata, dan kuliner, jangan lupa kunjungi Portal Berita Batang Terkini.

Posting Komentar
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar