Mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Gelar Demo Masak PMT di Batang
MBATANG.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Terintegrasi (KKN MIT) UIN Walisongo Semarang Posko 16 menggelar kegiatan demo masak Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bersama kader posyandu dan para ibu yang memiliki balita di Desa Wonokerso, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang.
Kegiatan yang berlangsung di Posyandu Anggrek tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya asupan gizi seimbang bagi balita. Edukasi ini menjadi bagian penting dari upaya pencegahan masalah gizi anak, termasuk risiko stunting yang masih menjadi perhatian dalam program kesehatan masyarakat di Indonesia.
Demo masak ini diikuti oleh kader posyandu serta ibu-ibu yang memiliki balita dari Dukuh Diwek dan Dukuh Sidomukti. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan, terutama ketika mahasiswa mulai memperkenalkan konsep makanan tambahan sehat yang mudah dibuat di rumah.
Program Edukasi Gizi dalam Kegiatan KKN
Kegiatan demo masak PMT merupakan salah satu program kerja mahasiswa KKN MIT 21 Posko 16 dalam bidang edukasi kesehatan masyarakat. Program ini dirancang sebagai langkah promotif dan preventif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya nutrisi bagi tumbuh kembang anak.
Melalui pendekatan praktik langsung, mahasiswa berharap masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi teoritis, tetapi juga memahami cara mengolah makanan sehat dengan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Selain memberikan edukasi tentang nutrisi balita, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat peran kader posyandu dalam mendampingi keluarga agar lebih memperhatikan pola makan anak.
Baca juga: Peran Mahasiswa KKN dalam Mendukung Pembangunan Desa
Pentingnya Pemberian Makanan Tambahan untuk Balita
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) merupakan salah satu intervensi gizi yang diberikan kepada balita untuk melengkapi kebutuhan nutrisi harian mereka. Program ini biasanya menyasar anak-anak yang berisiko mengalami kekurangan gizi atau membutuhkan tambahan energi dan protein.
PMT tidak dimaksudkan untuk menggantikan makanan utama, melainkan sebagai pelengkap yang membantu memenuhi kebutuhan zat gizi penting seperti:
- Karbohidrat sebagai sumber energi
- Protein untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh
- Lemak sebagai cadangan energi
- Vitamin dan mineral yang mendukung sistem kekebalan tubuh
Dengan pola makan yang seimbang, anak-anak dapat tumbuh dengan optimal baik secara fisik maupun perkembangan kognitif.
Artikel terkait: Kegiatan Sosial Mahasiswa yang Memberikan Dampak Positif bagi Masyarakat
Demo Masak Puding Jagung Kacang Hijau
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mendemonstrasikan cara membuat puding jagung kacang hijau sebagai salah satu menu PMT yang sehat dan bergizi.
Menu ini dipilih karena bahan-bahannya mudah diperoleh, harganya terjangkau, serta memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap.
Beberapa bahan utama yang digunakan antara lain:
- Jagung sebagai sumber karbohidrat
- Kacang hijau sebagai sumber protein nabati
- Susu sapi UHT sebagai sumber protein hewani
- Buah segar sebagai sumber vitamin dan serat
Kombinasi bahan tersebut dinilai mampu memenuhi kebutuhan nutrisi dasar anak sekaligus memberikan variasi menu yang menarik bagi balita.
Mahasiswa menjelaskan secara detail proses pembuatan puding, mulai dari pemilihan bahan, takaran yang tepat, hingga teknik memasak yang benar agar kandungan gizi tetap terjaga.
Edukasi Pengolahan Makanan Sehat untuk Anak
Selama proses demo memasak, mahasiswa juga memberikan edukasi kepada peserta mengenai pentingnya pengolahan makanan yang sehat bagi balita.
Salah satu hal yang ditekankan adalah membatasi penggunaan gula tambahan. Konsumsi gula berlebih pada anak usia dini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk obesitas dan gangguan metabolisme di kemudian hari.
Mahasiswa juga mengajak para ibu untuk lebih kreatif dalam mengolah bahan pangan lokal agar anak-anak tidak mudah bosan dengan menu makanan sehari-hari.
Pendekatan edukasi melalui praktik langsung seperti ini dinilai lebih mudah dipahami oleh masyarakat dibandingkan metode penyuluhan yang hanya bersifat teori.
Diskusi Interaktif Bersama Ibu Balita
Setelah proses memasak selesai, puding jagung kacang hijau dibagikan kepada peserta untuk dicicipi bersama.
Momen tersebut dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk berdiskusi secara santai mengenai berbagai variasi menu PMT yang dapat dibuat di rumah.
Banyak ibu yang mengajukan pertanyaan terkait cara mengatur pola makan anak, memilih bahan makanan sehat, hingga tips agar anak tidak pilih-pilih makanan.
Diskusi interaktif ini menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan karena membuka ruang komunikasi antara mahasiswa, kader posyandu, dan masyarakat.
Dukungan dari Tenaga Kesehatan Desa
Bidan Desa Wonokerso, Ibu Rahma, memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa KKN.
Menurutnya, kegiatan demo masak seperti ini merupakan langkah konkret dalam mendukung upaya peningkatan status gizi balita di desa.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan contoh langsung kepada ibu-ibu tentang menu sehat yang bisa dibuat sendiri di rumah dengan bahan sederhana,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa metode edukasi berbasis praktik lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat dibandingkan penyuluhan yang hanya bersifat teori.
Baca juga: Program KKN Mahasiswa yang Memberikan Dampak Nyata bagi Desa
Brosur Resep Sehat untuk Kader Posyandu
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, mahasiswa KKN MIT 21 Posko 16 juga membagikan brosur resep PMT kepada kader posyandu dan para ibu yang memiliki balita.
Brosur tersebut berisi informasi mengenai:
- Komposisi bahan makanan
- Langkah-langkah pembuatan menu PMT
- Informasi singkat kandungan gizi dalam setiap menu
Diharapkan brosur ini dapat menjadi panduan sederhana bagi masyarakat untuk menerapkan pola makan sehat bagi anak di rumah.
Meningkatkan Kesadaran Gizi Masyarakat
Melalui kegiatan demo masak PMT ini, mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi seimbang bagi balita semakin meningkat.
Pencegahan masalah gizi tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga memerlukan peran aktif keluarga dan masyarakat.
Dengan kolaborasi antara mahasiswa, kader posyandu, tenaga medis, dan masyarakat desa, diharapkan upaya peningkatan kesehatan anak dapat berjalan lebih efektif.
Kegiatan sederhana seperti demo masak ini membuktikan bahwa edukasi kesehatan dapat dilakukan dengan cara yang praktis, menarik, dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Melalui langkah-langkah kecil tersebut, diharapkan generasi anak yang sehat, cerdas, dan berkualitas dapat terus tumbuh di Desa Wonokerso.

Posting Komentar
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar