Legenda Desa Rowobelang: Jejak Laskar Diponegoro dan Kesaktian Tombak Kyai Pulung di Batang
Batang – Kabupaten Batang di Jawa Tengah tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah dan cerita rakyat (folklore) yang melegenda. Setiap desa memiliki asal-usul yang unik, seringkali berkaitan erat dengan peristiwa besar di masa lampau, seperti Perang Jawa. Salah satu kisah yang paling menarik untuk ditelusuri adalah Legenda Desa Rowobelang dan hubungannya dengan pusaka sakti Tombak Kyai Pulung.
Melansir dari catatan sejarah tutur yang ditulis oleh pegiat sejarah lokal, Leonardo Dekat-priyo, kisah ini bermula pasca tertangkapnya Pangeran Diponegoro oleh kolonial Belanda pada tahun 1830. Peristiwa tersebut memaksa banyak prajurit setia Pangeran Diponegoro untuk menyebar dan bersembunyi demi menghindari kejaran pasukan Belanda, alih-alih kembali ke Mataram.
Eksodus Prajurit Diponegoro dan Babat Alas di Batang
Di antara ribuan prajurit yang berdiaspora, terdapat dua sosok tangguh bernama Ki Derpojoyo dan Ki Wiro Pranoto. Keduanya memilih untuk menyingkir ke arah pesisir utara, tepatnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Batang. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan; selain lokasi yang strategis dan tersembunyi, wilayah ini juga masih berupa hutan belantara yang pekat, mirip dengan kondisi Sejarah Alas Roban yang terkenal angker namun aman untuk persembunyian.
Sesampainya di lokasi tujuan, Ki Derpojoyo dan Ki Wiro Pranoto memutuskan untuk menanggalkan identitas keprajuritan mereka. Mereka memilih hidup berbaur dengan alam, melakukan babat alas (membuka lahan hutan), dan beralih profesi menjadi petani. Namun, upaya membuka pemukiman baru di tanah tak bertuan bukanlah perkara mudah. Tantangan yang dihadapi tidak hanya datang dari kondisi alam yang berupa rawa-rawa dan hewan buas, tetapi juga dari gangguan metafisika.
Situs Makam Kyai Pulung, saksi bisu perjuangan laskar Diponegoro.
Pertempuran Ghaib Melawan Penguasa Rawa, Nini Sumyak
Wilayah yang mereka buka ternyata merupakan kawasan "wingit" yang dikuasai oleh entitas ghaib (demit) bernama Nini Sumyak. Sebagai penguasa hutan dan rawa setempat, Nini Sumyak dan para pengikutnya merasa terusik dengan aktivitas manusia yang membabat hutan tersebut. Akibatnya, serangkaian gangguan ghaib pun terjadi, menghambat proses pembukaan lahan pertanian.
Menyadari bahwa kekuatan fisik saja tidak cukup untuk menghadapi gangguan ini, Ki Derpojoyo dan Ki Wiro Pranoto mengerahkan kemampuan spiritual mereka. Puncak konflik terjadi dalam sebuah pertempuran batin yang dahsyat. Kedua mantan prajurit Mataram tersebut terpaksa mengeluarkan senjata andalan mereka, sebuah pusaka berwujud tombak yang bernama Kyai Pulung.
Kesaktian Tombak Kyai Pulung bukanlah mitos belaka. Saat pusaka ini dikeluarkan dan disatukan dengan kekuatan batin kedua tokoh tersebut, atmosfer di sekitar hutan seketika berubah. Hawa panas yang luar biasa (aura geni) memancar dari mata tombak, menciptakan gelombang energi yang menyapu area rawa-rawa tersebut.
Asal Usul Nama Desa "Rowo Belang"
Hawa panas yang dipancarkan oleh Tombak Kyai Pulung membuat para makhluk halus pengikut Nini Sumyak tidak mampu bertahan. Mereka lari tunggang langgang mencari perlindungan. Dalam kepanikan tersebut, para demit menceburkan diri ke dalam rawa-rawa untuk mendinginkan tubuh. Menariknya, saat menyentuh air rawa, wujud mereka berubah menjadi ular dengan motif belang-belang (Jawa: Ulo Welang).
Fenomena ini membuat permukaan rawa terlihat dipenuhi oleh warna hitam dan putih atau belang. Nini Sumyak pun akhirnya menyerah dan berjanji tidak akan mengganggu anak cucu Ki Derpojoyo dan Ki Wiro Pranoto, serta bersedia menjadi penjaga (danyang) desa tersebut. Karena peristiwa unik di mana rawa dipenuhi ular belang inilah, wilayah tersebut kemudian dinamakan Desa Rowobelang (Rawa yang Belang).
Hingga akhir hayatnya, Ki Derpojoyo dan Ki Wiro Pranoto menetap di sana dan dihormati sebagai leluhur atau punden Desa Rowobelang. Kisah perjuangan mereka menjadi warisan budaya takbenda yang terus diceritakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Tombak Kyai Pulung: Pusaka Pendamping Kabupaten Batang
Lalu, bagaimana nasib Tombak Pusaka Kyai Pulung? Pusaka yang memiliki nilai historis dan spiritual tinggi ini tidak hilang ditelan zaman. Tombak tersebut diserahkan kepada Kadipaten Batang (Pemerintah Kabupaten Batang) untuk dirawat dan dilestarikan. Keberadaannya kini menjadi salah satu pusaka daerah yang sangat dihormati.
Dalam tradisi budaya Batang, Tombak Kyai Pulung memiliki posisi istimewa sebagai pendamping Tombak Kanjeng Kyai Abirawa, pusaka utama Kabupaten Batang. Momen sakral yang melibatkan pusaka ini dapat disaksikan saat peringatan Malam Satu Suro.
Sebagai contoh, pada kirab pusaka tahun 2016—pasca insiden tumbangnya pohon beringin alun-alun—Tombak Kyai Pulung dikeluarkan dari Gedhong Pusaka bersama dengan Kyai Abirawa dan Kyai Tudung Mungsuh. Ketiga pusaka ini dikirab mengelilingi Pendopo Kabupaten Batang sebagai bentuk ritual tolak bala dan pelestarian tradisi leluhur.
Demikianlah sekelumit kisah dari mBatang.com mengenai asal-usul Desa Rowobelang. Cerita ini mengajarkan kita tentang kegigihan, keberanian, dan penghormatan terhadap alam. Bagi Anda, "Wong Sudro Ing Tlatah Kutho mBatang", mari terus lestarikan sejarah lokal agar tidak punah dimakan zaman.
Bacaan Menarik Lainnya Seputar Sejarah Batang:
Posting Komentar
Terima Kasih Banyak telah meninggalkan komentar