Kabupaten Batang

Batang Berkembang | Wisata Batang | Berita Batang | Kabar mBatang

Mitos Sejarah Tradisi Kliwonan Kab Batang

Mitos Sejarah Tradisi Kliwonan Kab Batang - sanksi alam jika tradisi Kliwonan tidak dilaksanakan. bahwa sanksi alam masyarakat mempercayai hal itu sebagai kemarahan nenek moyang mereka dan juga pohon beringin yang marah karena ini berbau mistis. Tetapi suatu kali pernah pada jaman dahulu dan tidak diketahui pada tahun berapa, bahwa pohon beringin di tengah alun-alun kota Batang meledak atau terdengar suara ledakan. Kemudian masyarakat di sekitar menghampiri sumber suara ledakan tersebut adalah seperti petasan atau mercon, tetapi di tempat tersebut tidak ada bekas kertas-kertas atau sisa-sisa ledakan petasan. Maka dari itu masyarakat mempercayai hal tersebut sebagai kemarahan pohon beringin. Peristiwa tersebut terjadi setelah suatu saat tradisi Kliwonan atau pasar malam tidak dilaksanakan, dan pernah ada rencanadari pemerintah setempat akan memindahkan lokasi penyelenggaraan tradisi Kliwonan di lapangan Dracik Kelurahan Proyonanggan Selatan Kecamatan Batang.Di tempat lapangan Dracik diharapkan dapat menghindari kemacetan,karena termasuk daerah yang sepi.


Hal tersebut kemudian memberatkan para pedagang yang berjualan di pasar Kliwonan, karena dianggap terlalu jauh darijalan raya apalagi para pedagang yang berjualan di Kliwonan, karena dianggap terlalu jauh akhirnya oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa leluhur dan juga pohon beringin tidak setuju jika lokasi penyelenggaraan Kliwonan dipindahkan apalagi ditiadakan. Namun ada atau tidaknya kepercayaan dan mitos tersebut tidak merugikan masyarakat pendukung maupun pemerintah setempat, karena tradisi Kliwonan tetap tertib dan lancar seperti sebagaimana adanya hingga sekarang ini.Mitos lainnya adalah tentang keberadaan makhluk halus yang ikut meramaikan tradisi Kliwonan. Dalam hal ini juga tidak ada penjelasan secarakhusus, karena hal ini menyangkut di luar nalar manusia. Konon makhluk halus tersebut beramai-ramai datang ke Kliwonan dengan menjelma menjadi manusia biasa. Ada pengakuan dari beberapa masyarakat pendukung yang membenarkan keberadaan makhluk halus tersebut. Tetapi mereka (makhluk halus) tidakmengganggu jalannya tradisi Kliwonan, terbukti dengan adanya tradisi tetap berjalan dengan lancar dan tanpa ada kendala (Wawancara Bpk Basuki. 2 Juni2006.pkl 21.00 WIB) Masyarakat Batang melakukan tradisi Kliwonan dalam rangka untuk mengenang pendahulu mereka yaitu Bahurekso yang telah membabad atau membuka daerah Batang. Salah satu alasan mengapa dilaksanakannya tradisi inipada hari Jumat Kliwon, karena pada hari tersebut Bahurekso bertapa untuk mendapatkan kekuatan, sehingga dipercaya oleh para keturunannya bahwa padahari itu merupakan hari yang keramat. Selain untuk mengenang jasa leluhurmasyarakat batang, tradisi Kliwonan juga digunakan untuk media ngalap berkah(mencari berkah), di antranya yaitu mencari jodoh, sarana pengobatan, mencarikeuntungan dalam berdagang. Jadi yang dimaksud dengan ngalap, berkah dalamtradisi Kliwonan itu meliputi ritual sebagai sarana pengobatan (guling-guling,mandi, membuang pakaian), berdagang untuk mencari berkah, berkah dari makanGemblong dan Klepon, mencari jodoh dan lain-lain (Wawancara Bpk Basuki. 2Juni 2006.pkl 21.00 WIB)

Seiring dengan perkembangan jaman tradisi Kliwonan ini pun mulai berkembang dan kemudian mulai berbentuk seperti pasar malam. Kini maksud dan tujuan melaksanakan tradisi Kliwonan pun mulai bertambah yaitu ingin mencari rezeki bagi para pedagang di tengah keramaian dan para pengunjung yang sekedarberjalan-jalan untuk mencari kesenangan di tengah keramaian kota atau membeli barang yang ingin dibeli di pasar malam tradisi Kliwonan.Masih ada sebagian masyarakat pendukung tradisi yang melakukan ritualpenyembuhan penyakit bagi anak kecil dan beberapa muda-mudi yang sedang mencari jodoh yaitu dengan cara mencari kenalan dengan sesama pengunjung yang masih muda. Jadi dalam tradisi Kliwonan ini masyarakat pendukung Kliwonan pada umumnya hanya ingin mencari hiburan pada tradisi tersebut, atau memang sengaja ingin membeli barang yang diinginkan dan kepercayaan parapedagang terhadap berkah berdagang di pasar malam Kliwonan (Wawancara BpkTommy, 26 Juni 2006, pkl 20.00 WIB) Tidak terdapat sumber dan data secara pasti kapan pertama kali tradisi Kliwonan ini dilaksanakandan tradisi ini berkembang sesuai dengan perubahan sosial budaya danmenyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat.